Polisi Telusuri Dugaan Uang Palsu Rp980 Juta untuk Membayar Demonstran di Jakarta

Polisi Telusuri Dugaan Uang Palsu Rp980 Juta untuk Membayar Demonstran di Jakarta

Jakarta | Polisi mendalami dugaan bahwa uang palsu dengan nilai nominal mencapai Rp980 juta yang dibawa dari Medan menuju Jakarta tidak hanya disiapkan untuk diedarkan. Dalam pemeriksaan, muncul keterangan bahwa uang tersebut dipesan untuk membayar massa demonstrasi di ibu kota. Dugaan ini menjadi salah satu arah penyelidikan dalam perkara pengiriman uang palsu tersebut.

Informasi mengenai rencana pembayaran demonstran itu berasal dari keterangan Sudiono alias Praka saat diperiksa penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Lampung. Keterangan tersebut disampaikan dalam proses pemeriksaan terkait dugaan peredaran uang palsu yang dibawa dari Medan. Polisi kini menelusuri lebih lanjut siapa yang diduga memesan uang, bagaimana komunikasi pihak-pihak terkait berlangsung, serta apakah ada rencana penyerahan kepada pihak lain di Jakarta.

Bacaan Lainnya

Meski demikian, keterangan Sudiono belum dapat diperlakukan sebagai kepastian mengenai tujuan pengiriman maupun penggunaan uang tersebut. Penyidik masih perlu menguji informasi itu dengan keterangan saksi lain, barang bukti, dan hasil pemeriksaan terkait. Dengan demikian, dugaan bahwa uang palsu itu akan digunakan untuk membayar demonstran masih merupakan bagian dari materi penyidikan, bukan kesimpulan final aparat.

Penelusuran juga penting untuk membedakan rencana yang disebut dalam pemeriksaan dari tindakan yang benar-benar telah dilakukan. Belum dapat dipastikan apakah uang tersebut sempat diserahkan, apakah ada demonstran yang menerima pembayaran, atau apakah rencana itu benar-benar terlaksana. Polisi perlu memastikan rangkaian peristiwa, termasuk asal-usul uang, pihak yang membawa, dan tujuan akhirnya, sebelum menetapkan gambaran perkara secara utuh.

Perkembangan penyidikan diharapkan dapat menjelaskan konteks di balik dugaan pemesanan tersebut tanpa mengabaikan asas praduga tak bersalah. Sampai penyidik mengonfirmasi temuan melalui bukti yang memadai, penggunaan uang palsu untuk membayar massa tetap harus dipandang sebagai dugaan. Karena itu, keterangan yang muncul dalam pemeriksaan akan terus didalami bersama bukti lain, agar penjelasan mengenai tujuan pengiriman dari Medan ke Jakarta tidak hanya bertumpu pada satu sumber informasi.

Sudiono, mantan calon bupati Deli Serdang, disebut menerima pesanan uang dari seseorang yang berada di Jakarta. Informasi mengenai pesanan tersebut disampaikan oleh Kasubdit II Ditreskrimsus Polda Lampung, Kompol Jackson J.D. Tindage, pada Senin, 2 November 2026. Menurut Jackson, orang yang menghubungi Sudiono menyatakan membutuhkan uang pecahan Rp100.000 untuk keperluan demonstrasi. Keterangan ini menjadi bagian dari penelusuran polisi atas dugaan uang palsu senilai Rp980 juta yang dikaitkan dengan rencana pembayaran demonstran di Jakarta.

Jackson juga menyebut Sudiono kemudian menjelaskan bahwa uang tersebut rencananya akan digunakan untuk membayar massa. Dengan demikian, polisi tengah mendalami dua hal yang berkaitan: asal-usul uang yang dipesan dan tujuan penggunaannya sebagaimana disampaikan dalam keterangan Sudiono. Informasi itu masih merupakan dugaan yang ditelusuri penyidik, sehingga belum dengan sendirinya memastikan siapa saja pihak yang terlibat atau bagaimana uang tersebut akan disalurkan. Keterangan pejabat kepolisian menjadi dasar untuk memahami arah pemeriksaan, sementara proses penyelidikan diperlukan untuk menguji rangkaian informasi dan mengumpulkan bukti.

Sudiono ditangkap pada Selasa, 27 Oktober 2026, di Kota Medan. Saat itu, ia sedang memangkas rambut di sebuah tempat pangkas rambut di Jalan Setia Budi, Kecamatan Medan Sunggal. Penangkapan berlangsung ketika aktivitas tersebut berjalan, bukan di lokasi demonstrasi atau tempat transaksi yang disebut dalam dugaan perkara. Setelah penangkapan, keterangannya mengenai pesanan dari seseorang di Jakarta dan rencana pembayaran massa disampaikan melalui penjelasan Jackson. Polisi masih perlu menguraikan hubungan pemesan, uang yang diduga palsu, dan pihak yang direncanakan menerima pembayaran. Perkembangan penanganan perkara akan bergantung pada hasil pemeriksaan serta bukti yang diperoleh penyidik, termasuk untuk memastikan keterangan mengenai nominal, pecahan, dan tujuan uang tersebut. Hingga informasi ini disampaikan pada 2 November, hal-hal tersebut tetap berada dalam ranah dugaan yang sedang ditelusuri aparat.

Perkara dugaan uang palsu bernilai nominal Rp980 juta itu bermula sebelum penangkapan Sudiono. Pada Kamis, 8 Oktober 2026, polisi menangkap seorang pria berinisial AW di area masuk Pelabuhan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan. Penangkapan tersebut menjadi titik awal pengungkapan jalur pengiriman uang yang diduga palsu dari Medan menuju Jakarta. Petugas kemudian memeriksa barang yang dibawa AW dan menemukan ribuan lembar uang pecahan Rp100.000.

Dari penindakan itu, polisi menyita 9.800 lembar uang yang diduga palsu. Jika dihitung berdasarkan nilai nominal yang tercetak, seluruhnya mencapai Rp980 juta. Jumlah tersebut merujuk pada nilai nominal, bukan nilai transaksi yang telah dipastikan. Temuan di Bakauheni selanjutnya ditelusuri untuk mengetahui asal barang, tujuan pengiriman, serta pihak-pihak yang diduga terlibat. Informasi awal menyebut AW berperan sebagai kurir yang membawa uang tersebut melalui perjalanan darat.

Menurut keterangan Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Lampung Kombes Pol Hery Rusyaman, AW diduga membawa uang dari Medan menuju Jakarta dengan menggunakan bus atau jalur darat. Polisi juga menyebut AW dijanjikan upah Rp50 juta apabila barang itu berhasil sampai ke tujuan. Keterangan mengenai rute, peran kurir, dan imbalan tersebut menjadi bagian dari penyelidikan untuk mengurai rangkaian pengiriman. Penangkapan di pintu masuk pelabuhan memungkinkan aparat mengamankan barang sebelum diduga melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Setelah penyitaan, penyidik perlu menelusuri komunikasi dan hubungan AW dengan pihak yang mengirim maupun menerima paket tersebut. Pemeriksaan terhadap uang sitaan juga penting untuk memastikan karakteristik dan keasliannya melalui proses yang berwenang. Hingga informasi awal mengenai penangkapan disampaikan, dugaan bahwa barang akan digunakan untuk membayar demonstran masih menjadi bagian dari perkara yang harus dibuktikan. Karena itu, peran AW dan tujuan akhir pengiriman perlu dipahami sebagai dugaan penyidik, bukan kesimpulan hukum. Pengungkapan jalur dari Medan, melalui Lampung, hingga Jakarta dapat membantu polisi mengidentifikasi jaringan yang lebih luas dan menjelaskan kaitannya dengan perkara yang kemudian menyeret Sudiono.

Dalam pemeriksaan, Sudiono mengaku uang palsu yang ditemukan merupakan sisa produksi menjelang Pemilu 2024. Keterangan itu menjadi salah satu petunjuk awal bagi penyidik untuk menelusuri kapan uang tersebut dibuat dan bagaimana kemudian disimpan hingga akhirnya dikirim ke Jakarta. Namun, pengakuan tersebut belum dipastikan kebenarannya dan masih perlu dicocokkan dengan hasil penyelidikan serta bukti-bukti yang dikumpulkan.

Jackson mengatakan, berdasarkan pengakuan Sudiono, pihak yang diduga memproduksi uang palsu itu telah meninggal dunia. Sudiono juga menyebut lokasi yang berkaitan dengan pembuatan uang tersebut sudah kosong ketika ditelusuri. Kondisi itu membuat penyidik perlu mencari informasi tambahan mengenai tempat produksi, orang-orang yang pernah terlibat, dan kemungkinan adanya lokasi lain. Keterangan tentang meninggalnya terduga pembuat maupun kosongnya lokasi tersebut masih merupakan klaim yang disampaikan dalam pemeriksaan, bukan kesimpulan penyidik.

Sudiono turut mengaku pernah mengirim uang palsu senilai Rp500 juta ke Jakarta pada 2025. Menurut keterangan yang disampaikan, pengiriman itu dilakukan oleh dua orang yang membawa uang tersebut menggunakan pesawat. Untuk pengiriman terbaru, jumlah uang yang lebih besar disebut menjadi alasan Sudiono memilih jalur darat. Perbedaan cara pengiriman itu kini menjadi bagian dari rangkaian informasi yang diperiksa, termasuk untuk mengetahui siapa saja yang mengatur perjalanan dan menerima kiriman di Jakarta.

Penyidik masih menguji kebenaran seluruh pengakuan tersebut melalui pemeriksaan dan penelusuran lanjutan. Mereka berupaya memastikan asal uang, menelusuri pihak yang diduga memproduksinya, serta mengembangkan informasi mengenai jalur distribusi.

Baca juga: Pemkab Tangerang Telusuri Dugaan Asusila yang Menyeret Kasatpol PP | Polisi Siagakan Penyekatan di Perbatasan Bogor-Jakarta Jelang Aksi 50 Ribu Buruh | Pengungkapan Dugaan Penyalahgunaan Etomidate di Jakarta: Dua Pria dan 735 Catride Diamankan 14 kunjungan

Pos terkait