JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 1 Oktober 2026, Clarissa Aurelia Nahid Saputra, penerima Beasiswa Garuda Kemdiktisaintek batch pertama tahun 2025, berhasil mengembangkan perusahaan rintisan berbasis kecerdasan artifisial dan memperoleh total pendanaan sebesar 550.000 dolar AS. Clarissa saat ini sedang menempuh studi di University of California San Diego, Amerika Serikat. Bersama rekan-rekannya, ia membangun Clean AI Labs, yang juga dikenal melalui platform tryclean.ai.
Clean AI Labs merupakan startup dengan model bisnis business-to-business (B2B). Perusahaan ini mengembangkan teknologi yang membantu perusahaan menemukan calon pembeli secara lebih terarah. Proses tersebut memanfaatkan data nyata dari aktivitas bisnis, sehingga pencarian prospek tidak hanya bergantung pada informasi umum atau perkiraan pasar.
Data yang digunakan dapat mencakup berbagai sinyal kegiatan komersial, lain pengiriman, perizinan, dan pergantian pemasok. Dengan membaca perubahan atau pola dari aktivitas tersebut, teknologi Clean AI Labs membantu perusahaan mengidentifikasi organisasi yang berpotensi membutuhkan produk atau layanan tertentu. Pendekatan ini menjadi bagian penting dari layanan yang dikembangkan Clarissa dan timnya untuk kebutuhan perusahaan.
Pendanaan yang diperoleh Clean AI Labs berasal dari dua investor. Sebesar 50.000 dolar AS diberikan oleh Jackson Square Ventures, sedangkan 500.000 dolar AS lainnya berasal dari Y Combinator. Jika digabungkan, kedua pendanaan tersebut mencapai 550.000 dolar AS. Perolehan modal ini menandai perkembangan penting bagi startup yang dibangun Clarissa bersama rekan-rekannya, sekaligus memperlihatkan penerapan teknologi berbasis data untuk mendukung aktivitas pencarian calon pembeli di sektor B2B.
Perjalanan pendidikan Clarissa dimulai di SMAN Unggulan MH Thamrin, salah satu sekolah yang dikenal berfokus pada pengembangan prestasi akademik dan potensi siswa. Sekolah tersebut kini menjadi bagian dari ekosistem Sekolah Unggul Garuda, sehingga pengalaman belajar Clarissa memiliki keterkaitan dengan lingkungan pendidikan yang mendorong siswa untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi terbaik, baik di dalam maupun luar negeri. Dari lingkungan inilah, ia membangun dasar akademik, ketekunan, serta keberanian untuk mengejar kesempatan pendidikan global.
Clarissa pertama kali mengetahui Beasiswa Garuda setelah mengikuti program persiapan Beasiswa Indonesia Maju. Program persiapan tersebut membantunya memahami proses pendaftaran, menyiapkan dokumen, dan memetakan pilihan pendidikan yang sesuai dengan rencana masa depannya. Informasi mengenai kelulusan Beasiswa Garuda ia terima dalam waktu yang berdekatan dengan kabar penerimaan beasiswa lain. Situasi itu membuatnya perlu mempertimbangkan sejumlah aspek secara matang, mulai dari bidang studi, lingkungan akademik, hingga peluang pengembangan diri yang ditawarkan setiap program.
Pada akhirnya, Clarissa memilih Beasiswa Garuda karena program tersebut memberinya kesempatan untuk belajar di Amerika Serikat, khususnya di University of California, San Diego (UC San Diego). Sebelum menentukan pilihan, ia juga memperoleh letter of acceptance dari 14 perguruan tinggi luar negeri. Beberapa di antaranya adalah National University of Singapore, Nanyang Technological University, University of Illinois Urbana-Champaign, UC San Diego, UC Davis, University of Edinburgh, dan King’s College London. Banyaknya pilihan tersebut menunjukkan capaian akademik sekaligus membuka ruang pertimbangan yang luas bagi Clarissa.
UC San Diego kemudian menjadi pilihan yang paling sesuai dengan minat dan tujuan studinya. Kampus tersebut dinilai mampu mendukung rencana pengembangan pengetahuan serta keterampilan yang ingin ia bangun. Keputusan itu bukan semata-mata didasarkan pada reputasi universitas, melainkan juga pada kecocokan program akademik, lingkungan riset, dan aspirasi pribadi Clarissa. Dukungan Beasiswa Garuda akhirnya memberikan fondasi penting bagi langkahnya menempuh pendidikan di Amerika Serikat.
Selama menjadi penerima Beasiswa Garuda, Clarissa merasakan dukungan yang membantu dirinya menjalani studi hingga berangkat ke Amerika Serikat. Bantuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pembiayaan pendidikan, tetapi juga mencakup persiapan keberangkatan dan pendampingan dalam menghadapi tahap awal kehidupan akademik di lingkungan baru. Setelah menyelesaikan tahun pertama perkuliahan di University of California, San Diego (UC San Diego), ia melihat beasiswa ini sebagai ruang yang mendorong penerimanya untuk berkembang secara lebih menyeluruh.
Bagi Clarissa, pengalaman sebagai penerima beasiswa membuka kesempatan untuk bertemu dengan talenta-talenta muda dari berbagai latar belakang. Pertemuan tersebut membentuk lingkungan yang saling mendukung, baik dalam urusan akademik maupun kehidupan sehari-hari. Teman-temannya di UC San Diego kerap berkumpul, bertukar bantuan, dan berbagi pengalaman ketika menghadapi tantangan perkuliahan. Dalam kesempatan yang sama, mereka juga berdiskusi mengenai berbagai isu di Indonesia serta perkembangan dunia global. Interaksi itu membuat kehidupan studinya terasa lebih kaya dan tidak terbatas pada ruang kelas.
Perkembangan akademik Clarissa turut dipengaruhi oleh keterlibatannya dalam riset robotika. Melalui pengalaman tersebut, ia memperoleh kesempatan untuk memahami proses penelitian dan bekerja dalam lingkungan akademik Amerika Serikat. Keikutsertaannya dalam hackathon juga mempertemukannya dengan situasi yang menuntut kolaborasi, pemecahan masalah, dan penerapan pengetahuan secara langsung. Berbagai aktivitas itu memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari perkuliahan formal.
Secara personal, rangkaian pengalaman tersebut memperluas wawasan Clarissa mengenai bidang yang dipelajarinya, cara bekerja bersama orang lain, serta isu-isu yang berkembang di tingkat internasional. Interaksi dengan dosen, peneliti, mahasiswa, dan komunitas penerima beasiswa juga membantunya menjadi lebih terbuka terhadap perspektif baru. Ia merasakan peningkatan kepercayaan diri dalam beradaptasi, berdiskusi, dan mengikuti berbagai kegiatan akademik maupun sosial selama menempuh pendidikan di Amerika Serikat.
Setelah menyelesaikan tahun pertama kuliah, Clarissa berencana mengembangkan teknologi yang telah dibangunnya agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak orang. Pengembangan tersebut tidak hanya diarahkan pada penyempurnaan produk, tetapi juga pada penerapan yang mampu menjawab kebutuhan nyata di berbagai bidang. Pada saat yang sama, ia ingin memperdalam pengetahuan mengenai robotika dan perangkat keras kecerdasan artifisial (AI). Penguasaan dua bidang itu dinilai penting untuk menghasilkan inovasi yang lebih mandiri, adaptif, dan relevan dengan perkembangan teknologi global.
Rencana Clarissa sejalan dengan tujuan pemerintah melalui Beasiswa Garuda, yakni membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan berdaya saing. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyampaikan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi prioritas pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Menurutnya, investasi pada talenta muda merupakan langkah strategis untuk memperkuat kapasitas bangsa dalam menghadapi perubahan ekonomi dan teknologi.
Beasiswa Garuda dirancang untuk menyeleksi talenta terbaik bangsa dan memberi mereka kesempatan memperoleh pendidikan kelas dunia. Dukungan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi berlanjut melalui kontribusi penerima beasiswa terhadap riset, inovasi, dan pembangunan nasional. Mulai 2026, skema ini direncanakan semakin luas melalui program joint degree dan double degree bersama perguruan tinggi luar negeri. Perluasan kerja sama itu akan membuka lebih banyak jalur pembelajaran dan kolaborasi internasional bagi mahasiswa Indonesia.
Pada tahun akademik 2025/2026, lebih dari 400 talenta telah melanjutkan studi di perguruan tinggi top dunia melalui Beasiswa Garuda. Brian berharap para talenta unggul tersebut mampu memanfaatkan pengalaman akademik dan jejaring global untuk bersaing di tingkat internasional. Mereka juga diharapkan kembali memberi dampak bagi Indonesia melalui karya, kepemimpinan, serta pengembangan teknologi yang menjawab tantangan masyarakat.










