Kota Serang | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menempatkan pendidikan kebencanaan sebagai bagian penting dari upaya memperkuat keselamatan warga sekolah. Lingkungan pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga ruang untuk membangun kemampuan mengenali ancaman, mengambil keputusan, dan bertindak tepat ketika bencana terjadi. Karena itu, kapasitas kesiapsiagaan perlu ditingkatkan secara terencana dengan melibatkan peserta didik, guru, tenaga kependidikan, pengelola sekolah, keluarga, serta masyarakat di sekitar satuan pendidikan.
Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari menyampaikan keterangan tersebut di Jakarta pada Selasa. Ia menekankan bahwa pelatihan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana tidak boleh diperlakukan sebagai kegiatan sesaat yang hanya dilakukan setelah terjadi peristiwa atau menjelang agenda tertentu. Kesiapsiagaan seharusnya menjadi proses pembelajaran sepanjang hayat. Pengetahuan dan keterampilan perlu diperbarui melalui pembelajaran di kelas, simulasi evakuasi, penyusunan jalur penyelamatan, pemeriksaan fasilitas, serta evaluasi berkala. Dengan latihan yang berulang dan relevan, warga sekolah dapat membentuk kebiasaan tanggap, bukan sekadar menghafal prosedur.
Aktivitas vulkanik dan pergerakan lempeng tektonik merupakan dinamika alam yang tidak dapat dihentikan manusia. Gempa bumi maupun erupsi gunung api dapat muncul dengan tingkat dan dampak yang berbeda, sehingga masyarakat tidak mungkin sepenuhnya menghilangkan sumber bahayanya. Namun, risiko bencana dapat dikurangi melalui pemahaman ancaman, tata ruang yang aman, sistem peringatan dini, bangunan yang lebih tangguh, serta rencana evakuasi yang dipahami bersama. Dalam konteks sekolah, pendekatan tersebut menegaskan bahwa tujuan pendidikan kebencanaan bukan menciptakan rasa takut, melainkan membangun kesiapan dan kepedulian. Konsistensi pelaksanaan menjadi kunci agar keselamatan tetap menjadi bagian dari budaya sekolah.
Sekolah berada di tengah masyarakat yang menghadapi ancaman bencana secara berulang. Karena itu, kesiapsiagaan tidak dapat dipandang sebagai kegiatan tambahan, melainkan bagian penting dari perlindungan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan. Data Direktorat Pengendalian Operasi BNPB menunjukkan bahwa dalam tiga tahun terakhir terdapat sedikitnya 15 hingga 20 kejadian bencana setiap hari. Berbagai peristiwa tersebut membutuhkan dukungan lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga penanggulangan bencana, hingga satuan pendidikan.
Apabila kejadian yang ditangani secara mandiri oleh pemerintah daerah turut diperhitungkan, jumlah bencana di Indonesia dapat mencapai sekitar 5.000 hingga 6.000 kejadian dalam setahun. Tingginya frekuensi tersebut memperlihatkan bahwa sekolah tidak boleh hanya mengandalkan respons setelah bencana terjadi. Pengurangan risiko perlu dibangun melalui perencanaan, latihan rutin, pemahaman terhadap ancaman lokal, dan koordinasi yang jelas. Pendekatan ini menjadi semakin penting bagi sekolah yang berada di wilayah rawan gempa, erupsi gunung api, maupun bencana hidrometeorologi.
Kerangka Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) bertumpu pada tiga pilar utama. Pilar pertama adalah fasilitas sekolah yang tahan bencana. Bangunan, ruang kelas, jalur akses, serta sarana pendukung perlu dinilai dan diperkuat sesuai karakteristik ancaman di wilayah setempat. Pilar kedua mencakup regulasi internal dan standar operasional prosedur evakuasi yang jelas. Sekolah perlu menetapkan pembagian tugas, jalur evakuasi, titik kumpul, mekanisme komunikasi, serta prosedur perlindungan bagi kelompok rentan. Latihan berkala membantu memastikan prosedur tersebut dapat diterapkan tanpa menimbulkan kepanikan.
Pilar ketiga adalah penyisipan pendidikan kebencanaan dalam kurikulum. Materi tentang pengenalan risiko, tindakan penyelamatan diri, pertolongan pertama, dan kepedulian terhadap lingkungan dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran maupun kegiatan sekolah. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis untuk merespons keadaan darurat. Penerapan ketiga pilar secara terpadu akan membentuk budaya aman, memperkuat ketahanan sekolah, dan mengurangi potensi korban ketika bencana terjadi.
Gempa bumi Yogyakarta pada 2006 menjadi salah satu pengingat penting mengenai perlunya kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan. Guncangan yang berlangsung sekitar 5,3 detik tersebut menewaskan lebih dari 6.000 orang dan menyebabkan kerusakan luas pada rumah, fasilitas umum, serta bangunan sekolah. Peristiwa ini menunjukkan bahwa durasi bencana yang singkat tidak selalu berarti dampaknya kecil. Dalam beberapa detik, struktur bangunan dapat mengalami keruntuhan, benda-benda dapat berjatuhan, dan akses keluar-masuk dapat terhalang.
BNPB memandang bahwa besarnya dampak gempa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan dan lamanya guncangan, tetapi juga oleh tingkat ketahanan fisik bangunan serta kecepatan masyarakat dalam menyelamatkan diri. Sekolah yang dibangun atau diperkuat dengan memperhatikan prinsip keselamatan memiliki peluang lebih besar untuk melindungi peserta didik dan tenaga pendidik. Karena itu, pemeriksaan struktur, penguatan bagian bangunan yang rentan, penataan perabot, serta penyediaan jalur evakuasi harus menjadi bagian dari pengelolaan sekolah, bukan sekadar tindakan setelah bencana terjadi.
Kecepatan evakuasi juga dipengaruhi oleh pemahaman warga sekolah terhadap prosedur darurat. Peserta didik perlu mengetahui tindakan yang tepat saat gempa, seperti melindungi kepala, berlindung di tempat yang aman, menjauhi kaca, dan mengikuti arahan menuju titik kumpul setelah guncangan berhenti. Informasi tersebut akan lebih mudah diterapkan apabila disampaikan secara berulang melalui pembelajaran, poster, pengarahan, dan praktik langsung.
Oleh sebab itu, sekolah dasar dan sekolah menengah pertama perlu membangun budaya simulasi evakuasi secara berkala. Latihan harus dilaksanakan secara terencana, menggunakan skenario yang realistis, tetapi tetap berlangsung tanpa menimbulkan kepanikan. Guru dapat membagi peran, menguji jalur keluar, mencatat waktu evakuasi, dan mengevaluasi hambatan setelah kegiatan. Latihan yang teratur membantu membentuk respons otomatis, memperjelas tanggung jawab, serta meningkatkan koordinasi sekolah, keluarga, masyarakat, dan petugas kebencanaan ketika keadaan darurat benar-benar terjadi.
Kota Serang, Banten, dinilai perlu memperkuat pelatihan kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah. Kebutuhan tersebut berkaitan dengan posisi Banten sebagai wilayah yang rentan terdampak gempa bumi dari zona megathrust segmen Selat Sunda serta paparan erupsi Gunung Anak Krakatau. Ancaman tersebut menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya membutuhkan pengetahuan dasar mengenai bencana, tetapi juga kemampuan untuk merespons keadaan darurat secara tepat, cepat, dan terarah. Siswa perlu memahami tindakan yang harus dilakukan ketika merasakan guncangan gempa maupun ketika menghadapi dampak erupsi.
Menurut Abdul Muhari, penguatan kesiapsiagaan perlu dilakukan melalui latihan yang terstruktur dan rutin. Kegiatan semacam itu memberi kesempatan kepada siswa untuk mengenali tahapan respons dalam situasi darurat, mulai dari menerima tanda bahaya hingga menentukan tindakan yang aman. Latihan berulang juga membantu mengurangi kebingungan dan kepanikan karena siswa telah memiliki gambaran mengenai apa yang harus dilakukan. Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada penyampaian materi, melainkan berkembang menjadi keterampilan yang dapat diterapkan ketika kondisi nyata terjadi.
Latihan yang dilakukan secara konsisten diharapkan membentuk memori jangka panjang pada siswa. Memori tersebut penting agar mereka mampu mengambil keputusan dan bertindak cepat ketika menghadapi keadaan darurat yang sebenarnya, termasuk saat waktu untuk berpikir dan mencari arahan sangat terbatas. Respons yang terbentuk melalui latihan dapat membantu siswa mengikuti langkah keselamatan secara lebih teratur. Tujuan utama latihan ini adalah membangun kesiapan yang melekat dalam diri siswa, sehingga mereka tidak hanya mengetahui risiko gempa dan erupsi, tetapi juga mampu meresponsnya dengan sigap dan tepat.
Baca juga: Wujudkan Desa Tangguh Bencana , Koramil Kraksaan Ambil Bagian Dalam Proses Dan Pembentukannya | Manuver Pertempuran Darat Memperkuat Interoperabilitas di SGS 2026









