Jakarta | Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta sedang memetakan lahan yang berpotensi dikembangkan menjadi embung dan waduk baru. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi pengendalian banjir, terutama melalui penambahan ruang untuk menampung air hujan dan limpasan sebelum mengalir ke kawasan permukiman. Pemetaan awal diarahkan ke Jakarta Selatan dan Jakarta Timur karena kedua wilayah itu dinilai masih memiliki sejumlah lokasi yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur penampungan air.
Kepala Dinas SDA DKI Jakarta Ika Agustin menyampaikan informasi tersebut saat mendampingi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau Embung Kebagusan, Jakarta Selatan, pada Selasa. Peninjauan itu menjadi kesempatan untuk melihat langsung fungsi embung sebagai salah satu fasilitas yang mendukung pengelolaan air dan pengurangan risiko banjir di wilayah perkotaan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga terus mengevaluasi kebutuhan infrastruktur berdasarkan kondisi setiap kawasan, termasuk ketersediaan lahan, karakteristik aliran air, serta kedekatannya dengan wilayah yang rawan tergenang.
Ika menjelaskan, potensi lokasi untuk embung dan waduk terlihat dari pemantauan yang dilakukan melalui udara. Menurut dia, hasil pemantauan tersebut memberikan gambaran mengenai lahan-lahan yang mungkin dikembangkan untuk menampung air. “Dari pemantauan udara, kami melihat ada potensi-potensi lokasi untuk embung dan waduk, khususnya di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Ini tentunya untuk mengurangi banjir,” kata Ika. Pernyataan itu menunjukkan bahwa pemetaan tidak hanya ditujukan untuk mencari lahan baru, tetapi juga untuk menyusun penanganan banjir yang lebih terarah berdasarkan kondisi lapangan.
Identifikasi tersebut masih menjadi tahap awal sebelum pemerintah menentukan lokasi yang paling sesuai untuk ditindaklanjuti. Setiap calon lokasi perlu dikaji dari sisi teknis, lingkungan, tata ruang, dan manfaatnya bagi masyarakat. Dengan pendekatan itu, pembangunan embung atau waduk diharapkan dapat memperkuat kapasitas penampungan air sekaligus mendukung sistem pengendalian banjir Jakarta secara lebih menyeluruh.
Dinas Sumber Daya Air menyebutkan bahwa pemetaan lokasi embung dan waduk baru di Jakarta mencakup sekitar 15 lokasi di Jakarta Timur serta sekitar 10 lokasi di Jakarta Selatan. Sebaran tersebut menunjukkan bahwa pengembangan tampungan air dilakukan di lebih dari satu wilayah untuk mendukung pengelolaan genangan dan risiko banjir. Informasi mengenai setiap lokasi disampaikan secara bertahap, dengan sebagian proyek masih dalam proses pembangunan dan sebagian lainnya telah selesai.
Di Jakarta Selatan, Embung Kebagusan termasuk salah satu dari sekitar 10 lokasi yang disebutkan oleh Dinas SDA. Embung ini menjadi bagian dari daftar lokasi tampungan air yang dipetakan di wilayah tersebut. Penyebutan Embung Kebagusan menegaskan bahwa kawasan Jakarta Selatan juga menjadi sasaran pengembangan infrastruktur pengendalian air, bersama lokasi-lokasi lain yang masuk dalam pendataan dinas.
Sementara itu, Jakarta Timur memiliki sekitar 15 lokasi embung atau waduk. Salah satu proyek yang masih berlangsung di wilayah ini adalah pembangunan Waduk Sunter Hulu Tiu. Proyek tersebut tercatat sebagai bagian dari pekerjaan pembangunan waduk yang belum selesai. Perkembangannya berbeda dengan dua lokasi lain yang juga disebutkan, yaitu Embung Bangkong dan Embung Bambu Hitam.
Embung Bangkong telah selesai dibangun, demikian pula Embung Bambu Hitam. Dengan demikian, daftar lokasi di Jakarta Timur mencakup proyek yang masih berjalan serta embung yang pembangunannya telah rampung. Perbedaan status tersebut memberikan gambaran ringkas mengenai perkembangan infrastruktur tampungan air di wilayah tersebut, tanpa mengubah jumlah lokasi yang telah disampaikan oleh Dinas SDA.
Secara keseluruhan, data ini memperlihatkan sebaran lokasi yang cukup luas Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Sekitar 15 lokasi berada di Jakarta Timur, sedangkan sekitar 10 lokasi berada di Jakarta Selatan, termasuk Embung Kebagusan. Di Jakarta Timur, Waduk Sunter Hulu Tiu masih dibangun, sementara Embung Bangkong dan Embung Bambu Hitam telah selesai. Rincian itu menjadi gambaran faktual mengenai lokasi dan perkembangan proyek yang disebutkan.
Strategi pengendalian banjir Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak hanya bertumpu pada pembangunan embung dan waduk baru. Infrastruktur tampungan air tersebut perlu dipadukan dengan normalisasi sungai, perbaikan aliran, serta penataan sistem tata air secara menyeluruh. Pendekatan kombinasi ini penting karena banjir di wilayah perkotaan tidak semata-mata disebabkan oleh keterbatasan kapasitas tampungan, tetapi juga oleh penyempitan badan sungai, sedimentasi, hambatan aliran, dan tingginya limpasan permukaan saat hujan.
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah sistem tata air Kali Krukut-Kali Mampang. Dalam sistem ini, penanganan dirancang melalui beberapa pekerjaan yang saling melengkapi. Pembangunan Embung Kebagusan dan Embung Cilandak Pondok Labu diarahkan untuk menahan serta mengatur limpasan air hujan sebelum masuk ke saluran atau sungai dengan kapasitas terbatas. Keberadaan kedua embung tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi debit puncak, terutama ketika hujan berintensitas tinggi berlangsung dalam waktu relatif singkat.
Komponen lainnya adalah normalisasi Kali Krukut-Petogogan. Pekerjaan ini ditujukan untuk memperbaiki kapasitas dan kelancaran aliran sungai melalui penataan penampang, pengurangan hambatan, serta pembenahan segmen yang mengalami penyempitan atau pendangkalan. Dengan demikian, air yang tertahan di kawasan hulu maupun permukiman dapat dialirkan secara lebih terkendali menuju bagian hilir.
Kombinasi pembangunan Embung Kebagusan, Embung Cilandak Pondok Labu, dan normalisasi Kali Krukut-Petogogan disebut menargetkan pengurangan banjir sekitar delapan persen pada sistem tata air Krukut-Mampang. Angka tersebut merupakan target yang tercantum dalam perencanaan atau sumber terkait, bukan keterangan bahwa pengurangan sebesar itu telah tercapai. Pencapaiannya tetap bergantung pada penyelesaian konstruksi, pemeliharaan rutin, kesiapan jaringan drainase, pengendalian tata ruang, serta koordinasi pengelolaan air di seluruh kawasan.
Pendekatan pembangunan embung dan waduk baru di Jakarta dikembangkan melalui perpaduan infrastruktur abu-abu dengan infrastruktur biru-hijau. Infrastruktur abu-abu mencakup saluran, kolam retensi, pintu air, pompa, tanggul, serta berbagai bangunan pengendali aliran. Komponen tersebut diperlukan untuk mengatur pergerakan air, menampung limpasan hujan, dan mendukung sistem drainase perkotaan. Namun, pengelolaan air tidak hanya ditempatkan sebagai persoalan teknis. Perencanaan juga mempertimbangkan fungsi ekologis dan sosial dari ruang yang dibangun.
Dalam kerangka infrastruktur biru-hijau, embung dapat dirancang sebagai bagian dari jaringan ruang terbuka yang berkaitan dengan air dan vegetasi. Area di sekitar tampungan bisa dilengkapi pepohonan, jalur pejalan kaki, ruang duduk, serta elemen lanskap yang membantu meningkatkan kualitas lingkungan. Dengan pendekatan ini, embung bukan semata-mata tempat mengumpulkan air ketika hujan, melainkan ruang yang memiliki hubungan dengan kawasan permukiman dan aktivitas warga. Tata letak, keamanan, pemeliharaan, serta kondisi hidrologis tetap menjadi pertimbangan penting agar fungsi penampungan air tidak terganggu.
Potensi penggunaan sebagai ruang publik juga membuka peluang penambahan ruang terbuka biru di Jakarta. Ruang tersebut dapat memperkaya pilihan tempat beraktivitas sekaligus memperkuat kehadiran unsur air dalam lingkungan kota yang padat. Perpaduan elemen buatan dan unsur alami memungkinkan satu lokasi menjalankan beberapa fungsi, meskipun bentuk pemanfaatannya perlu disesuaikan dengan karakter lahan, kebutuhan pengendalian banjir, dan ketentuan pengelolaan setempat.
Embung Kebagusan merupakan salah satu lokasi yang dikaitkan dengan gagasan tersebut. Selain fungsi penampungan, terdapat pertimbangan mengenai kemungkinan pemanfaatan air untuk warga. Pertimbangan ini belum dapat dipahami sebagai keputusan pemanfaatan yang telah ditetapkan, sehingga pengembangan fungsinya tetap bergantung pada kajian dan kebijakan lebih lanjut.
Baca juga: Toko Robot Pertama di Jakarta: Pengalaman Baru dari Aimoga Robotics | Tempat Makan Malam di Jakarta yang Tidak Pernah Tutup | Destinasi Liburan Keluarga yang Ramah Anak di Jakarta










