Kabupaten Yahukimo | Tim gabungan yang terdiri atas personel Satgas Operasi Damai Cartenz dan Polres Yahukimo sedang menyelidiki dua kasus penyerangan terhadap warga sipil yang terjadi di Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Kedua peristiwa tersebut berlangsung pada waktu yang berbeda dan kini menjadi perhatian aparat penegak hukum setempat. Penyelidikan dilakukan untuk mengungkap rangkaian kejadian serta memastikan penanganan terhadap setiap laporan yang diterima.
Berdasarkan informasi awal, dua penyerangan itu diduga dilakukan oleh anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB). Aparat gabungan masih mengumpulkan keterangan dan informasi berkaitan dengan kedua peristiwa tersebut. Proses penyelidikan dilakukan secara terpadu oleh Satgas Operasi Damai Cartenz bersama Polres Yahukimo di wilayah Dekai.
Peristiwa pertama mengakibatkan seorang warga meninggal dunia. Sementara itu, dalam kejadian lainnya, seorang aparatur sipil negara (ASN) mengalami luka-luka. Kedua korban merupakan warga sipil yang terdampak dalam dua penyerangan berbeda. Aparat masih mendalami setiap kasus tersebut untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai kejadian yang berlangsung.
Hingga penyelidikan berlangsung, informasi mengenai kedua kasus masih disampaikan secara terbatas. Tim gabungan terus menindaklanjuti laporan dan melakukan langkah-langkah penanganan sesuai kewenangan masing-masing. Penyelidikan diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai dua penyerangan terhadap warga sipil di Dekai, termasuk memastikan fakta-fakta yang berkaitan dengan korban serta dugaan keterlibatan anggota kelompok kriminal bersenjata.
Serangan pertama dalam rangkaian dua kasus di Yahukimo terjadi pada Minggu malam, 11 Oktober 2026. Dalam peristiwa tersebut, seorang warga yang disebut dengan inisial A menjadi korban penyerangan. Berdasarkan informasi yang tersedia, A berusia 46 tahun. Peristiwa itu mengakibatkan korban meninggal dunia. Kejadian ini menjadi bagian dari laporan mengenai dua warga yang diserang di wilayah Yahukimo, dengan kasus lainnya melibatkan seorang aparatur sipil negara (ASN).
Kronologi yang disampaikan menunjukkan bahwa penyerangan terhadap A berlangsung pada malam hari tersebut. Identitas korban hanya disebut melalui inisial, yakni A, sementara usia korban tercatat 46 tahun. Setelah kejadian, A dinyatakan meninggal dunia. Keterangan tersebut menjadi informasi utama mengenai kasus pertama dan tidak memuat rincian tambahan mengenai tahapan peristiwa, lokasi spesifik, maupun tindakan lain setelah penyerangan.
Aparat menduga pelaku dalam dua kasus penyerangan itu merupakan kelompok yang sama. Kelompok yang dimaksud adalah KKB Kodap XVI Yahukimo, yang disebut dipimpin oleh Kopi Tua Heluka. Dugaan tersebut mencakup penyerangan terhadap A pada Minggu malam serta kasus lain yang menyebabkan seorang ASN terluka.
Dengan demikian, peristiwa pertama tercatat sebagai penyerangan terhadap warga berinisial A, 46 tahun, pada Minggu malam, 11 Oktober 2026, yang berujung pada meninggalnya korban. Sementara itu, dugaan mengenai keterkaitan pelaku pada kedua kasus masih disampaikan oleh aparat sebagai bagian dari penanganan peristiwa tersebut. Informasi yang tersedia menempatkan A sebagai korban meninggal dalam kasus pertama, sedangkan seorang ASN disebut sebagai korban dalam kejadian lainnya.
Peristiwa kedua terjadi pada Senin pagi, 12 Oktober 2026, di Kabupaten Yahukimo. Dalam kejadian tersebut, seorang aparatur sipil negara (ASN) Pemerintah Kabupaten Yahukimo berinisial ET menjadi korban serangan. Berdasarkan informasi yang tersedia, ET berusia 51 tahun. Identitas korban tetap disampaikan menggunakan inisial sesuai keterangan sumber.
Serangan itu menyebabkan ET mengalami luka. Tidak terdapat keterangan lebih lanjut mengenai jenis luka maupun kondisi medis lainnya, sehingga informasi terkait keadaan korban disampaikan secara terbatas. Setelah kejadian, ET segera mendapatkan penanganan awal sebelum kemudian dievakuasi untuk memperoleh perawatan lebih lanjut.
Korban selanjutnya dibawa ke Jayapura. Evakuasi tersebut dilakukan agar ET dapat menjalani perawatan intensif di fasilitas kesehatan yang lebih memadai. Proses pemindahan korban menjadi bagian penting setelah serangan, mengingat ET memerlukan penanganan medis secara berkelanjutan. Hingga informasi tersebut disampaikan, ET masih menjalani perawatan di Jayapura.
Kejadian ini merupakan peristiwa kedua yang dilaporkan pada Senin pagi di Yahukimo. Sebelumnya, terdapat peristiwa lain yang menimbulkan korban berbeda. Rangkaian kejadian tersebut menambah perhatian terhadap situasi keamanan di wilayah Yahukimo, terutama karena salah satu korbannya merupakan ASN Pemerintah Kabupaten Yahukimo yang sedang menjalankan aktivitasnya. Penanganan terhadap ET dan pengungkapan fakta mengenai serangan menjadi bagian dari perkembangan kasus yang masih mendapatkan perhatian. Informasi mengenai identitas korban, waktu kejadian, serta lokasi perawatan disampaikan berdasarkan keterangan yang tersedia, tanpa menambahkan rincian medis yang belum dikonfirmasi.
Setelah dua kejadian tersebut, personel gabungan langsung melakukan langkah penanganan di lapangan. Petugas melaksanakan olah tempat kejadian perkara (TKP) pada lokasi yang berkaitan dengan penyerangan terhadap dua warga di Yahukimo. Kegiatan itu dilakukan untuk mengumpulkan informasi dan menemukan petunjuk yang dapat membantu proses pengungkapan kedua kasus.
Selain melakukan olah TKP, aparat meminta keterangan dari sejumlah saksi. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mengetahui rangkaian peristiwa secara lebih jelas, termasuk kondisi sebelum dan sesudah kejadian. Keterangan para saksi akan menjadi bagian dari penyelidikan yang masih dilakukan oleh aparat untuk mengungkap pihak yang bertanggung jawab atas penyerangan tersebut.
Sementara itu, jenazah A dievakuasi melalui Timika. Setelah tiba di Timika, jenazah tersebut direncanakan diterbangkan ke Makassar untuk selanjutnya dimakamkan di kampung halamannya. Proses evakuasi dilakukan sebagai bagian dari penanganan terhadap korban meninggal dalam salah satu kejadian tersebut. Pada peristiwa lainnya, seorang aparatur sipil negara (ASN) mengalami luka dan mendapat penanganan sesuai kebutuhan.
Kepala Operasi Damai Cartenz, Irjen Pol Faizal Ramadhani, mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpancing oleh informasi yang belum dipastikan kebenarannya. Masyarakat diminta tetap tenang serta tidak menyebarkan kabar yang dapat memperkeruh keadaan. Ia juga mengajak seluruh pihak bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Yahukimo. Hingga kini, penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap pelaku serta memastikan keamanan di wilayah tersebut tetap kondusif.
Baca juga: Tragedi Pohon Tumbang di Serang: Satu Tewas, Satu Terluka | Penggagalan Peredaran Ganja di Yahukimo oleh TNI | TNI Bersihkan Ladang Ganja di Yahukimo, 21.400 Batang Diamankan










