JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 di Indonesia akan datang lebih lambat dibandingkan kondisi normal di sebagian besar wilayah. Perubahan waktu tersebut tidak hanya menunjukkan adanya penundaan, tetapi juga menegaskan bahwa hujan tidak akan mulai turun secara bersamaan di seluruh daerah. Masyarakat perlu memahami bahwa setiap wilayah memiliki karakter iklim dan waktu peralihan musim yang berbeda.
Berdasarkan proyeksi BMKG, keterlambatan awal musim hujan diperkirakan terjadi pada 529 Zona Musim (ZOM). Jumlah tersebut mencakup sekitar 61,08 persen dari luas daratan Indonesia. Dengan cakupan yang besar, dampak keterlambatan berpotensi dirasakan oleh banyak daerah, terutama wilayah yang mengandalkan datangnya hujan untuk memenuhi kebutuhan air, mendukung kegiatan pertanian, serta menjaga ketersediaan sumber daya air.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa musim hujan pada periode 2026/2027 diproyeksikan dimulai secara bertahap. Artinya, sejumlah wilayah mungkin lebih dahulu memasuki musim hujan, sementara daerah lain masih mengalami periode kering atau masa peralihan. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penentuan awal musim hujan perlu dilihat berdasarkan kondisi masing-masing ZOM, bukan melalui satu tanggal yang berlaku untuk seluruh Indonesia.
Pola kedatangan hujan yang berjenjang juga berarti perkembangan musim akan berlangsung dari satu kawasan ke kawasan lainnya. Perbedaan ini dapat dipengaruhi oleh dinamika atmosfer, kondisi laut, serta karakter geografis setiap wilayah. Karena itu, informasi prakiraan BMKG perlu menjadi rujukan dalam menyusun rencana kegiatan, khususnya bagi sektor pertanian, pengelolaan air, dan kesiapsiagaan menghadapi perubahan cuaca. Pemantauan pembaruan informasi cuaca secara berkala penting dilakukan agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas dengan perkembangan musim di daerah masing-masing.
BMKG menyebut pengaruh fenomena El Nino yang masih berlangsung sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan mundurnya musim hujan 2026/2027. Kondisi El Nino tersebut menjadi bagian dari gambaran iklim yang digunakan untuk menjelaskan mengapa awal musim hujan diperkirakan tidak berlangsung serentak. Dengan demikian, keterlambatan musim hujan dalam prakiraan BMKG turut dikaitkan dengan fenomena El Nino yang belum sepenuhnya berakhir.
Salah satu indikator yang disebutkan adalah anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik. Nilai anomali tersebut tercatat mencapai 2,63, sehingga termasuk dalam kategori El Nino sangat kuat. Catatan ini menunjukkan bahwa kondisi El Nino masih berada pada tingkat yang menjadi perhatian dalam pemantauan iklim. Besarnya anomali suhu muka laut tersebut menjadi salah satu dasar keterangan BMKG mengenai pengaruh El Nino terhadap perkiraan waktu datangnya musim hujan.
BMKG memproyeksikan kondisi El Nino itu masih bertahan hingga awal 2027. Perkiraan keberlanjutan tersebut menjadi bagian penting dalam membaca perkembangan musim hujan 2026/2027, yang diprediksi datang lebih lambat dan berlangsung secara bertahap. Selama fenomena tersebut masih berlangsung, pengaruhnya tetap dicantumkan dalam informasi mengenai faktor yang berhubungan dengan keterlambatan awal musim hujan.
Keterangan tersebut menempatkan El Nino sebagai salah satu penyebab yang diperkirakan berkontribusi terhadap mundurnya musim hujan, bukan sebagai satu-satunya penjelasan. Anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik yang mencapai 2,63 serta proyeksi kondisi yang bertahan sampai awal 2027 menjadi dua informasi utama yang mendasari penjelasan BMKG. Oleh karena itu, perkembangan El Nino hingga periode tersebut masih menjadi bagian dari pemantauan dalam prakiraan musim hujan 2026/2027.
Perkiraan BMKG menunjukkan bahwa masuknya musim hujan 2026/2027 tidak berlangsung secara serentak di seluruh Indonesia. Perubahan menuju kondisi yang lebih basah diproyeksikan terjadi secara bertahap, dengan sebagian wilayah mulai memasuki musim hujan lebih dahulu, sementara wilayah lain masih menunggu perkembangan atmosfer dan pola curah hujan yang mendukung. Tahapan ini menandakan bahwa awal musim hujan perlu dipahami berdasarkan wilayah zona musim (ZOM), bukan sebagai satu tanggal yang berlaku untuk seluruh daerah.
Pada November 2026, sebanyak 185 ZOM atau sekitar 24,66 persen luas daratan Indonesia diprediksi mulai mengalami musim hujan. Angka tersebut menjadi penanda awal meluasnya wilayah yang menerima curah hujan secara lebih teratur setelah sebelumnya berada dalam periode yang relatif lebih kering. Namun, kondisi awal ini belum berarti hujan akan langsung merata atau berlangsung dengan intensitas yang sama. Perkembangan cuaca tetap dapat berbeda dari satu wilayah ke wilayah lainnya, sehingga masyarakat perlu memperhatikan pembaruan prakiraan resmi BMKG.
Memasuki Desember 2026, jumlah ZOM yang diperkirakan mulai mengalami musim hujan meningkat menjadi 266 ZOM, yang disebut mencakup sekitar 17,31 persen luas daratan Indonesia sesuai data sumber. Perbedaan waktu November dan Desember memperlihatkan bahwa peralihan musim berlangsung bertahap. Dengan demikian, masih terdapat daerah yang berpotensi mengalami kondisi relatif lebih kering sebelum hujan turun secara lebih konsisten. Informasi mengenai tahapan tersebut penting untuk membantu masyarakat, pemerintah, serta berbagai sektor menyesuaikan persiapan terhadap perubahan pola cuaca dan menentukan langkah berdasarkan perkembangan hujan di wilayah masing-masing.
Keterlambatan awal musim hujan tidak serta-merta menunjukkan bahwa curah hujan selama satu musim akan berada di bawah kondisi normal. Waktu dimulainya musim hujan dan jumlah akumulasi curah hujan merupakan dua hal yang berbeda. Musim hujan dapat datang lebih lambat, tetapi total curah hujan yang terkumpul sepanjang periode musim tetap berada pada kisaran normal. Karena itu, masyarakat perlu membedakan informasi mengenai perubahan awal musim dari perkiraan sifat curah hujan secara keseluruhan.
Berdasarkan perkiraan BMKG, akumulasi curah hujan pada musim hujan 2026/2027 diprediksi berada dalam kategori normal di 510 Zona Musim (ZOM). Wilayah tersebut mencakup sekitar 69,76 persen luas daratan Indonesia. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia berpeluang menerima curah hujan dengan jumlah yang sesuai pola normal, meskipun awal musim hujan diperkirakan mengalami kemunduran. Kondisi setiap daerah tetap dapat berbeda karena dipengaruhi karakteristik iklim dan pola atmosfer setempat.
Puncak musim hujan juga diperkirakan tidak berlangsung serentak di seluruh Indonesia, melainkan terjadi secara bertahap pada periode Desember 2026 hingga Februari 2027. Pada Desember 2026, puncak musim hujan diprediksi terjadi di 155 ZOM, yang mencakup 36,94 persen luas daratan Indonesia. Selanjutnya, pada Januari 2027, sebanyak 162 ZOM atau sekitar 25,68 persen luas daratan diperkirakan memasuki periode puncak musim hujan.
Perkiraan tersebut menggambarkan adanya pergeseran waktu puncak antardaerah. Dengan demikian, pemantauan informasi cuaca dan iklim perlu dilakukan secara berkala, terutama bagi sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, kebencanaan, serta kegiatan masyarakat yang bergantung pada kondisi hujan. Untuk Februari 2027, rincian jumlah ZOM dan persentase luas daratan yang memasuki puncak musim hujan belum disampaikan dalam sumber perkiraan ini.










