PALEMBANG, SUMATERA SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera Selatan, termasuk Palembang. Kondisi tersebut kembali memicu perhatian warga karena kualitas udara yang menurun dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan. Di tengah situasi itu, sorotan terhadap Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Gubernur Herman Deru semakin menguat.
Sejumlah warga menyampaikan tuntutan agar Herman Deru segera menangani persoalan karhutla secara lebih tegas dan terukur. Mereka memberikan waktu satu minggu kepada gubernur untuk mengatasi kabut asap yang masih menutup langit Palembang. Tenggat tersebut dipandang sebagai kesempatan bagi pemerintah daerah untuk menunjukkan langkah nyata, mulai dari pengendalian titik api hingga perlindungan terhadap warga yang terdampak.
Apabila dalam waktu tersebut kondisi langit Palembang belum kembali bersih, warga yang menyuarakan desakan itu meminta Herman Deru mengundurkan diri dari jabatannya. Tuntutan tersebut muncul karena gubernur dinilai tidak amanah dan tidak kompeten dalam menangani karhutla. Penilaian itu mencerminkan kekecewaan terhadap respons pemerintah yang dianggap belum mampu memberikan rasa aman serta solusi memadai selama kabut asap berlangsung.
Kritik tersebut disampaikan warga melalui media sosial Threads dan kemudian menjadi bagian dari percakapan publik mengenai penanganan karhutla di Sumatera Selatan. Unggahan-unggahan yang beredar memperlihatkan adanya tekanan kepada pemerintah untuk bertindak lebih cepat, transparan, dan bertanggung jawab. Namun, suara yang muncul di Threads tidak serta-merta mewakili seluruh masyarakat Sumatera Selatan. Sikap warga dapat beragam, bergantung pada pengalaman, wilayah tempat tinggal, serta dampak langsung yang mereka rasakan akibat kabut asap.
Gelombang protes terhadap penanganan kabut asap di Sumatera Selatan turut terlihat melalui berbagai unggahan di Threads. Warga menyampaikan kekecewaan karena asap masih mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat, khususnya di Palembang. Keluhan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan karhutla tidak lagi dipandang sebagai gangguan sementara, melainkan sebagai krisis yang menuntut tindakan pemerintah secara lebih serius dan terukur.
Akun @agatha_ronald menyatakan bahwa Herman Deru layak mundur apabila asap masih beredar di Palembang setelah satu minggu. Pernyataan itu disertai penilaian bahwa kondisi tersebut menunjukkan kegagalan seorang pemimpin dalam melindungi warganya. Sementara itu, akun @dwikisandy mengajak masyarakat mengirimkan pesan langsung secara serentak kepada gubernur. Ajakan tersebut ditujukan agar pemerintah lebih serius menyelesaikan persoalan karhutla, sekaligus menyampaikan bahwa warga telah lelah terus-menerus menghirup asap.
Kritik serupa disampaikan akun @walangsangit_kebon dengan menyoroti perbedaan kondisi pejabat yang tetap nyaman dan penderitaan warga yang harus menghadapi kabut asap setiap hari. Unggahan itu menggambarkan orang tua yang tetap bekerja sambil menghirup asap, sedangkan anak-anak masih harus bersekolah dalam situasi yang sama. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai keselamatan paru-paru anak-anak yang terus terpapar udara buruk. Akun itu juga meminta gubernur mundur apabila tidak mampu menangani persoalan karhutla. Rangkaian unggahan tersebut menunjukkan meningkatnya tekanan publik agar pemerintah segera mengambil langkah nyata, melindungi kesehatan warga, dan memastikan penanganan kebakaran hutan serta lahan berjalan lebih efektif.
Kabut asap menjadi sumber kemarahan publik karena dampaknya dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Asap karhutla yang semakin pekat membuat udara di sejumlah wilayah Sumatera Selatan terasa tidak nyaman untuk dihirup. Warga menilai kondisi tersebut bukan sekadar gangguan lingkungan, melainkan persoalan yang dapat mengancam kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan lanjut usia. Kelompok ini dipandang lebih membutuhkan perlindungan ketika kualitas udara memburuk dan paparan asap berlangsung berulang.
Kekhawatiran itu terlihat dari keluhan warga yang disampaikan melalui media sosial. Sejumlah pengguna menggambarkan jarak pandang yang terganggu, udara yang berbau asap, serta rasa tidak nyaman ketika berada di luar ruangan. Unggahan semacam itu memperlihatkan bahwa masyarakat mengharapkan penanganan yang lebih cepat dan jelas dari pemerintah daerah. Ketika kabut asap terus muncul, pertanyaan mengenai pencegahan, pemadaman, dan perlindungan warga pun semakin sering disampaikan secara terbuka.
Aktivitas harian masyarakat turut terdampak. Warga menjadi tidak leluasa bepergian, bekerja, bersekolah, atau menjalankan kegiatan di ruang terbuka karena harus mempertimbangkan kondisi udara. Sebagian orang memilih mengurangi aktivitas di luar rumah, sementara keluarga dengan anak-anak dan anggota keluarga lanjut usia harus lebih berhati-hati dalam mengatur kegiatan sehari-hari. Situasi ini menimbulkan rasa cemas sekaligus frustrasi, terutama ketika asap belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Akumulasi keluhan tersebut kemudian memperbesar tekanan publik terhadap Herman Deru. Masyarakat tidak hanya menyoroti pekatnya kabut asap, tetapi juga menuntut kehadiran pemerintah dalam melindungi warga dan memastikan penanganan berjalan efektif. Bagi warga, kualitas udara yang memburuk merupakan persoalan yang segera memerlukan tindakan, bukan sekadar isu musiman. Karena itu, keluhan di media sosial berkembang menjadi dorongan agar pemerintah memberikan respons yang terukur, terbuka, dan berpihak pada keselamatan masyarakat.
Herman Deru menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan telah melakukan berbagai upaya untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta mengurangi dampak kabut asap. Penanganan dilakukan melalui operasi darat dan udara, penyampaian imbauan kepada masyarakat, serta tindakan langsung di lokasi kebakaran. Pemerintah juga mengerahkan personel dan peralatan untuk menjangkau titik api yang berada di wilayah sulit diakses.
Menurut Herman Deru, hujan sempat turun beberapa kali di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Musi Banyuasin. Namun, turunnya hujan tersebut belum sepenuhnya menghentikan kebakaran di seluruh wilayah terdampak. Pemerintah provinsi turut melaksanakan operasi modifikasi cuaca dengan tujuan memicu hujan di kawasan yang membutuhkan. Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan operasi itu belum optimal karena awan potensial yang tersedia masih terbatas. Hingga saat itu, operasi modifikasi cuaca disebut telah dilakukan sebanyak 60 kali.
Di sisi lain, tim pemadam masih menangani kebakaran di Kabupaten Ogan Komering Ilir. Kebakaran di wilayah tersebut disebut telah berlangsung lebih dari satu bulan sehingga memerlukan penanganan berkelanjutan. Herman Deru meminta masyarakat menghargai stamina dan kerja petugas di lapangan. Ia menjelaskan bahwa api yang telah dipadamkan dapat kembali muncul, sehingga proses pemantauan dan pendinginan harus terus dilakukan untuk mencegah penyebaran ulang.
Mengenai asap yang mengepung Palembang, Herman Deru menerangkan bahwa kondisi tersebut dipengaruhi oleh arah angin. Asap dari wilayah yang mengalami kebakaran dapat terbawa menuju kota ketika angin bergerak ke arah Palembang. Sebaliknya, konsentrasi asap berpotensi berkurang apabila arah angin tidak lagi menuju kota tersebut. Pemerintah tetap menyatakan akan melanjutkan pemantauan serta penanganan titik-titik kebakaran yang masih ditemukan.










