Jakarta | Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN menyediakan ruang aman bagi remaja untuk membicarakan berbagai persoalan yang mereka hadapi. Ruang tersebut hadir melalui Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) serta Forum Generasi Berencana (Genre). Keduanya menjadi wadah yang dekat dengan kehidupan remaja, sehingga mereka dapat bertemu dengan teman sebaya dan memperoleh informasi dalam suasana yang lebih terbuka. Keberadaan wadah ini juga memberi kesempatan bagi remaja untuk menyampaikan pertanyaan atau kekhawatiran tanpa merasa sendirian. Dengan dukungan lingkungan yang ramah, percakapan tentang kesehatan mental dan isu perkembangan diri dapat berlangsung dengan lebih nyaman.
Di PIK-R dan Forum Genre, remaja dapat berbincang, berdiskusi, serta berbagi pengalaman mengenai tantangan yang mereka alami. Kegiatan tersebut membantu membangun kebiasaan saling mendengarkan dan menghargai sudut pandang orang lain. Wadah ini juga menyediakan edukasi yang dapat membantu remaja memahami diri, relasi sosial, dan berbagai pilihan yang berkaitan dengan masa depan. Informasi yang disampaikan memberi bekal agar mereka dapat mengenali persoalan, mencari dukungan, dan mengambil keputusan dengan lebih baik. Ketika pengalaman dibagikan dalam suasana saling percaya, remaja dapat mengetahui bahwa sebagian tantangan tidak harus dihadapi sendirian.
Kepala BKKBN Wihaji menyampaikan bahwa remaja juga dapat dibina menjadi konselor sebaya. Peran ini memungkinkan mereka memberikan dukungan awal kepada teman yang membutuhkan teman bicara, sekaligus mendorong komunikasi yang saling memahami. Pembinaan tersebut bukan berarti remaja menggantikan tenaga profesional, melainkan memperkuat kemampuan untuk mendengar, berempati, dan mengarahkan teman agar mencari bantuan yang tepat bila diperlukan. Melalui PIK-R dan Genre, dukungan antarremaja dapat tumbuh bersama edukasi dan pendampingan. Dengan demikian, kedua wadah ini berperan sebagai ruang untuk berbagi sekaligus sarana membangun kepedulian terhadap kesehatan mental di kalangan remaja.
Dalam pembinaan remaja melalui Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) serta Forum Genre, Wihaji menyebut konselor sebaya sebagai salah satu bentuk dukungan yang dapat diberikan kepada remaja. Keberadaan konselor sebaya menempatkan hubungan antarremaja sebagai bagian dari ruang pembinaan, sehingga dukungan tidak hanya dipahami sebagai sesuatu yang datang dari orang dewasa. Remaja dapat memperoleh kesempatan untuk menerima edukasi dan berbagi dengan teman sebaya dalam lingkungan yang dekat dengan pengalaman mereka. Peran ini menjadi salah satu unsur dalam upaya membuka ruang perhatian terhadap kesehatan mental remaja.
Pendekatan sebaya juga memberi arti penting pada kesempatan untuk saling berbagi. Remaja dapat menyampaikan hal-hal yang mereka hadapi kepada teman dalam lingkungan yang sama-sama memahami kehidupan remaja. Dalam konteks PIK-R dan Forum Genre, ruang tersebut dapat mendukung pertukaran informasi dan pengalaman, sekaligus membantu remaja merasa bahwa mereka tidak harus menghadapi persoalan seorang diri. Kesempatan untuk berbagi ini merupakan bagian dari pembinaan yang disebut Wihaji, bukan pengganti dari edukasi yang diberikan melalui kegiatan tersebut. Keduanya berkaitan dalam menyediakan ruang bagi remaja untuk belajar dan berinteraksi.
Dengan demikian, konselor sebaya dapat dipahami sebagai salah satu bentuk dukungan yang melengkapi peran PIK-R dan Forum Genre dalam memberikan edukasi kepada remaja. Lingkungan sebaya memungkinkan remaja terlibat dalam percakapan dan saling berbagi, sementara pembinaan menyediakan konteks bagi mereka untuk mendapatkan informasi. Penekanan pada hubungan antarteman membuat dukungan terasa dekat dengan keseharian remaja. Gagasan ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap kesehatan mental dapat dibangun melalui ruang yang memberi kesempatan kepada remaja untuk belajar bersama dan berbagi pengalaman. Sebagai bagian dari pembinaan, konselor sebaya turut menegaskan pentingnya keterlibatan remaja dalam menciptakan lingkungan yang mendukung satu sama lain.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dirilis Kementerian Kesehatan mencatat prevalensi depresi pada penduduk berusia 15–24 tahun sebesar 2 persen. Angka ini menggambarkan bagian dari kelompok usia tersebut yang tercatat mengalami depresi dalam hasil survei. Penyajian data berdasarkan kelompok umur membantu menunjukkan angka yang dilaporkan untuk rentang usia tertentu, sekaligus memberikan gambaran terukur mengenai kesehatan mental penduduk muda. Dalam membaca temuan ini, rentang usia dan ukuran prevalensi perlu disebutkan secara jelas agar informasi yang disampaikan sesuai dengan cakupan data SKI 2023.
Sebagai pembanding, prevalensi depresi secara nasional dalam survei yang sama tercatat sebesar 1,4 persen. Dengan demikian, angka untuk penduduk berusia 15–24 tahun adalah 2 persen, sedangkan angka nasional adalah 1,4 persen. Keduanya merupakan hasil yang disampaikan dalam konteks SKI 2023 dan dinyatakan sebagai prevalensi depresi. Perbandingan ini menyajikan dua angka dengan cakupan berbeda: satu merujuk pada kelompok usia 15–24 tahun, sementara yang lain merujuk pada angka nasional. Keterangan cakupan tersebut penting untuk menjaga agar pembaca memahami setiap angka sebagaimana dilaporkan.
Dalam penyebutan data, angka kelompok usia muda dapat ditulis sebagai prevalensi 2 persen pada penduduk berusia 15–24 tahun, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023 dari Kementerian Kesehatan. Angka nasional yang tercatat dalam survei tersebut adalah 1,4 persen. Menampilkan kedua angka secara berdampingan memberikan konteks mengenai hasil yang dilaporkan, tanpa mengubah makna masing-masing ukuran. Data ini secara khusus menyampaikan prevalensi depresi pada rentang usia 15–24 tahun dan prevalensi nasional. Rincian angka tersebut dapat menjadi acuan faktual dalam pembahasan kesehatan mental remaja, selama kelompok umur, sumber survei, dan nilai prevalensinya disampaikan secara tepat.
Keterangan Kementerian Kesehatan menunjukkan adanya kesenjangan besar dalam penanganan depresi di Indonesia: hanya 12,7 persen penderita depresi yang mendapatkan pengobatan. Artinya, sebagian besar orang yang mengalami kondisi tersebut belum terjangkau layanan kesehatan yang dibutuhkan. Angka ini menggambarkan tantangan akses yang penting, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebabnya. Hambatan dapat berkaitan dengan ketersediaan layanan, keterjangkauan biaya dan jarak, pengetahuan tentang kesehatan mental, maupun kekhawatiran terhadap stigma. Karena itu, data tersebut perlu dipahami sebagai tanda perlunya perhatian lebih luas, bukan sebagai gambaran yang menyamaratakan pengalaman setiap penderita.
Di tengah kebutuhan tersebut, Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) serta Forum Genre dapat berperan sebagai ruang edukasi, komunikasi, dan dukungan sebaya bagi remaja. Melalui kegiatan dan interaksi yang sesuai dengan kebutuhan mereka, remaja dapat memperoleh informasi dasar tentang kesehatan mental, membicarakan tekanan yang dirasakan, serta mengenali kapan bantuan lebih lanjut mungkin diperlukan. Lingkungan yang ramah dan tidak menghakimi juga dapat membantu mengurangi rasa sungkan untuk mencari informasi atau berbagi kekhawatiran. Peran ini relevan sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran dan mendorong percakapan yang lebih terbuka.
Meski demikian, PIK-R dan Forum Genre bukan pengganti tenaga profesional atau layanan kesehatan, dan keberadaan keduanya tidak berarti kesenjangan pengobatan telah teratasi. Depresi merupakan kondisi yang memerlukan penilaian dan, bila diperlukan, penanganan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. Ruang dukungan remaja dapat membantu menghubungkan informasi dengan langkah berikutnya, misalnya mendorong seseorang untuk berbicara kepada orang dewasa tepercaya atau mencari bantuan di fasilitas kesehatan. Hubungan yang jelas dengan layanan profesional, informasi rujukan yang akurat, serta kerahasiaan dan batas peran yang dipahami bersama menjadi hal penting. Dengan demikian, wadah remaja dapat melengkapi ekosistem dukungan, sementara perluasan akses pengobatan tetap memerlukan perhatian dan upaya dari sektor kesehatan serta pihak terkait lainnya.
Baca juga: Dampak Musim Hujan yang Mundur bagi Kesehatan Warga Jakarta | Dukungan Bhayangkari Sumsel bagi Masyarakat Menghadapi Musim Kemarau | Dukungan untuk Korban Kekerasan Seksual: Hak untuk Memutuskan Aborsi secara Bebas









