Penguatan Upaya Cegah Stunting: Dari Edukasi hingga Dukungan Gizi Keluarga

Penguatan Upaya Cegah Stunting: Dari Edukasi hingga Dukungan Gizi Keluarga

Kabupaten Minahasa Selatan | Ketua Komisi IX DPR RI Felly Estelita Runtuwene menilai upaya pencegahan dan penanganan stunting perlu diperkuat melalui program yang dijalankan secara konsisten serta memberi dampak nyata bagi masyarakat. Menurutnya, keberhasilan menurunkan angka stunting tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan. Program harus menjawab kebutuhan keluarga dan membantu mereka menerapkan perilaku yang mendukung tumbuh kembang anak.

Pandangan tersebut disampaikan dalam kegiatan fasilitasi teknis Program Bangga Kencana di Desa Rumoong Bawah, Kecamatan Rumoong Barat, Kabupaten Minahasa Selatan, pada Senin (26/10). Dalam kegiatan itu, Felly menekankan pentingnya kesinambungan upaya, mulai dari pemberian pemahaman kepada masyarakat hingga dukungan yang mendorong perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Keterangan resmi mengenai hal tersebut disampaikan di Jakarta pada Rabu.

Bacaan Lainnya

Ia mengingatkan bahwa pengetahuan mengenai stunting perlu diikuti pelaksanaan nyata. Informasi tentang pemenuhan gizi, kesehatan ibu dan anak, serta pola pengasuhan akan lebih bermanfaat apabila dapat diterapkan oleh keluarga secara berkelanjutan. Karena itu, edukasi perlu disertai pendampingan dan dukungan yang sesuai dengan kondisi warga, sehingga pengetahuan tidak berhenti sebagai pemahaman, tetapi menjadi kebiasaan yang membantu mencegah gangguan pertumbuhan.

Upaya tersebut juga memerlukan keterlibatan berbagai pihak di tingkat lokal. Pemerintah, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat dapat saling mendukung dalam menyampaikan informasi yang mudah dipahami serta menghubungkan keluarga dengan layanan yang dibutuhkan. Konsistensi pelaksanaan menjadi penting agar pesan pencegahan tersampaikan berulang kali dan keluarga memperoleh bantuan pada waktu yang tepat.

Felly berpandangan, program yang terarah dan berdampak dapat memperkuat pencapaian target penurunan stunting nasional. Dengan demikian, setiap kegiatan perlu mendorong perubahan yang dapat dirasakan masyarakat, bukan sekadar memenuhi agenda. Penguatan edukasi sekaligus pelaksanaan di lapangan diharapkan membantu keluarga mengambil langkah pencegahan secara lebih efektif dan menjaga pemenuhan kebutuhan gizi anak.

Upaya pencegahan stunting perlu dilakukan secara berkesinambungan, dimulai sebelum kehamilan hingga anak melewati masa balita. Felly menekankan pentingnya edukasi gizi dan kesehatan reproduksi bagi remaja serta calon pengantin. Pengetahuan tersebut membantu mereka memahami kebutuhan tubuh, merencanakan keluarga, dan mempersiapkan kehamilan dengan lebih baik. Dengan bekal informasi yang tepat, calon orang tua dapat mengambil keputusan yang mendukung kesehatan ibu dan anak sejak awal.

Ketika kehamilan berlangsung, pemeriksaan kehamilan secara teratur menjadi bagian penting dari pencegahan. Melalui pemeriksaan, kondisi ibu dan janin dapat dipantau, sementara kebutuhan kesehatan dapat dibicarakan dengan tenaga kesehatan. Ibu juga perlu memperoleh asupan gizi yang memadai, baik selama hamil maupun setelah melahirkan. Pemenuhan gizi anak kemudian perlu diperhatikan sesuai tahap tumbuh kembangnya, termasuk melalui pemberian makanan yang sesuai kebutuhan dan pengasuhan yang mendukung kesehatan.

Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita juga tidak boleh diabaikan. Keluarga dapat membawa anak ke layanan kesehatan atau kegiatan pemantauan yang tersedia agar perubahan pertumbuhan diketahui secara berkala. Jika ditemukan hal yang memerlukan perhatian, keluarga dapat berkonsultasi dan memperoleh tindak lanjut lebih awal. Pendampingan tenaga kesehatan dan kader membantu menghubungkan informasi dengan langkah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Felly turut menekankan agar kader menyampaikan edukasi mengenai 13 langkah pencegahan stunting, delapan fungsi keluarga, serta peran keluarga dalam pengasuhan. Materi tersebut dapat memperkuat pemahaman bahwa pencegahan bukan hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga dengan kesehatan, perhatian, perlindungan, dan lingkungan pengasuhan anak. Kader berperan menyampaikan pesan secara jelas dan mendorong keluarga menerapkannya sesuai kondisi masing-masing.

Rangkaian upaya ini saling melengkapi: edukasi membangun pengetahuan, pemeriksaan membantu menjaga kesehatan, dukungan gizi menunjang kebutuhan ibu dan anak, sedangkan pemantauan memberi gambaran tentang perkembangan balita. Keterlibatan keluarga sejak remaja hingga masa pengasuhan menjadi landasan penting untuk mendukung tumbuh kembang anak. Dengan perhatian yang konsisten dan dukungan berbagai pihak, upaya tersebut dapat berkontribusi pada terwujudnya generasi yang sehat dan berkualitas.

Purnomo Sucipto, Staf Ahli Bidang Rekayasa Sosial Keluarga Kemendukbangga/BKKBN, menegaskan bahwa penurunan stunting merupakan program penting yang membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Penanganannya tidak dapat dibebankan hanya kepada satu lembaga atau kelompok, sebab upaya ini berkaitan dengan keluarga, masyarakat, serta peran pemerintah di tingkat pusat dan daerah. Karena itu, keterlibatan banyak unsur perlu dipandang sebagai bagian penting dari pelaksanaan program. Dukungan yang diberikan juga perlu mengarah pada tujuan bersama, yakni memperkuat langkah-langkah penurunan stunting secara terencana dan konsisten.

Selain menekankan pentingnya dukungan luas, Purnomo menggarisbawahi perlunya menjalankan program secara efektif dan efisien. Efektivitas berkaitan dengan kesesuaian kegiatan dengan sasaran dan tujuan yang hendak dicapai, sedangkan efisiensi menuntut pelaksanaan yang cermat dalam memanfaatkan sumber daya. Penekanan tersebut menunjukkan bahwa banyaknya kegiatan saja tidak cukup; pelaksanaannya perlu dikelola dengan baik agar berbagai upaya dapat saling mendukung. Dengan perhatian pada kedua aspek ini, pihak-pihak yang terlibat diharapkan dapat menyelaraskan peran dan langkah, serta menjaga agar program berjalan terarah sesuai kebutuhan penanganan stunting.

Harapan yang disampaikan mencakup penguatan sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, mitra kerja, dan masyarakat. Masing-masing memiliki ruang untuk berkontribusi dalam pelaksanaan program, sehingga komunikasi dan koordinasi menjadi penting agar dukungan tidak berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah pusat dan daerah diharapkan dapat memperkuat kerja bersama, sementara mitra kerja dan masyarakat turut mendukung upaya yang dijalankan. Sinergi tersebut menjadi perhatian dalam mendorong pelaksanaan program yang lebih efektif dan efisien. Pernyataan Purnomo menempatkan kolaborasi sebagai kebutuhan dalam penurunan stunting, tanpa mengabaikan pentingnya tata pelaksanaan yang baik. Penguatan dukungan lintas pihak diharapkan terus menjadi bagian dari upaya bersama, dengan fokus pada koordinasi dan konsistensi dalam menjalankan program yang telah direncanakan.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Utara, dr. Jeanny Yola Winokan, menyampaikan apresiasi atas bantuan nutrisi yang diberikan Felly kepada keluarga di wilayah tersebut. Dukungan dengan nilai total Rp100,5 juta itu dinilai sebagai bentuk kepedulian yang dapat membantu keluarga memenuhi kebutuhan gizi, terutama bagi keluarga yang berisiko mengalami stunting. Menurut Jeanny, dukungan dari berbagai pihak memiliki peran penting dalam memperkuat upaya pencegahan stunting, bersama edukasi dan pendampingan yang berkelanjutan. Bantuan tersebut diharapkan memberi manfaat langsung bagi penerima sekaligus mendorong perhatian lebih luas terhadap pemenuhan gizi ibu dan anak di Sulawesi Utara.

Salah satu penyaluran bantuan berlangsung di Kabupaten Minahasa Selatan. Bantuan senilai Rp24 juta tersebut menjangkau 80 penerima yang tersebar di 17 kecamatan. Cakupan itu menunjukkan bahwa dukungan diarahkan kepada keluarga di sejumlah wilayah, sehingga manfaatnya dapat menjangkau penerima yang membutuhkan. Jeanny mengapresiasi kontribusi Felly dalam mendukung upaya pemenuhan kebutuhan keluarga, termasuk melalui bantuan nutrisi. Bantuan ini menjadi bagian dari langkah bersama untuk memperhatikan kondisi keluarga berisiko dan mendorong pemenuhan kebutuhan gizi yang memadai. Penyaluran di Minahasa Selatan juga melengkapi dukungan yang diberikan di berbagai wilayah Sulawesi Utara dengan total nilai bantuan mencapai Rp100,5 juta.

Selain memberikan bantuan, Felly terlibat sebagai orang tua asuh dalam program Gerakan Orang Tua Cegah Stunting (Genting). Jeanny menyampaikan bahwa keterlibatan tersebut membantu keluarga berisiko memenuhi kebutuhan gizi dan mendukung tumbuh kembang anak. Peran orang tua asuh melalui Genting dapat memperkuat dukungan bagi keluarga, terutama ketika bantuan disertai perhatian terhadap kebutuhan anak dan pengasuhan sehari-hari.

Baca juga: Tantangan Edukasi Pemilahan Sampah di DKI Jakarta | Anjangsana Dengan Sesepuh TNI, Wujud Penguatan Silaturahmi dan Pewarisan Nilai Pengabdian | Dukungan untuk Korban Kekerasan Seksual: Hak untuk Memutuskan Aborsi secara Bebas

Pos terkait