Jakarta | Tim Chef de Mission (CDM) Indonesia menyiapkan pendampingan berlapis bagi kontingen nasional yang akan tampil pada Youth Olympic Games Dakar 2026 di Dakar, Senegal. Persiapan tersebut tidak hanya berfokus pada kebutuhan atlet ketika pertandingan berlangsung, tetapi juga mencakup seluruh rangkaian perjalanan, mulai dari keberangkatan dari Indonesia, kedatangan di negara tujuan, masa aklimatisasi, pelaksanaan kompetisi, hingga kepulangan ke tanah air. Pendekatan menyeluruh ini dirancang untuk memastikan setiap anggota kontingen dapat menjalankan tugas dan menjaga konsentrasi secara optimal.
Ajang olahraga remaja dunia itu dijadwalkan berlangsung pada 31 Oktober hingga 13 November 2026. Dalam periode tersebut, CDM akan mengoordinasikan berbagai unsur pendukung, termasuk pengaturan mobilitas, komunikasi, administrasi, kesehatan, serta pemantauan kondisi atlet dan ofisial. Pengawalan sejak sebelum keberangkatan dinilai penting karena perjalanan internasional membawa sejumlah kebutuhan khusus, seperti penyesuaian jadwal, perlindungan dokumen, pengelolaan barang perlengkapan, dan kesiapan menghadapi perubahan situasi di lapangan. Koordinasi antarpihak juga perlu dilakukan secara konsisten agar informasi yang diterima kontingen tetap jelas dan cepat ditindaklanjuti.
Pendampingan ekstra diberikan karena para atlet yang berlaga masih berada pada usia remaja dan dipandang sebagai aset penting bagi masa depan olahraga nasional. Selain membantu mereka menghadapi tekanan kompetisi, sistem pengawalan tersebut diharapkan membangun lingkungan yang aman, tertib, dan mendukung perkembangan karakter atlet. CDM Indonesia Ita Yuliati menegaskan komitmen untuk menjaga keamanan serta kelancaran perjalanan para atlet sejak meninggalkan Indonesia sampai kembali setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pertandingan. Menurutnya, perhatian terhadap detail dan koordinasi yang berkesinambungan menjadi dasar agar kontingen dapat berfokus memberikan prestasi terbaik bagi Indonesia.
Kontingen Indonesia menuju Youth Olympic Games Dakar 2026 terdiri atas 12 atlet muda yang akan tampil dalam sembilan cabang olahraga. Komposisi tersebut mencerminkan keberagaman disiplin yang diikuti Indonesia dalam ajang multi-event olahraga remaja terbesar di dunia. Para atlet dipersiapkan untuk berkompetisi melalui cabang masing-masing, dengan karakter pertandingan dan tuntutan teknis yang berbeda.
Sembilan cabang olahraga yang akan diikuti kontingen Indonesia meliputi atletik, renang, bulu tangkis, balap sepeda, berkuda, judo, skateboard, triathlon, dan wushu. Setiap cabang menjadi bagian dari keterlibatan Indonesia dalam Youth Olympic Games Dakar 2026, sekaligus menghadirkan ruang bagi atlet-atlet muda untuk memperoleh pengalaman bertanding pada tingkat internasional.
Dari seluruh cabang tersebut, bulu tangkis mengirimkan dua wakil. Rayhan Pandu Aksara akan tampil pada nomor tunggal putra, sedangkan Miftaqul Putri Ayudis turun di nomor tunggal putri. Keduanya menjadi representasi Indonesia dalam nomor perseorangan, dengan persiapan yang diarahkan pada kebutuhan pertandingan serta karakter kompetisi bulu tangkis di tingkat remaja.
Kehadiran 12 atlet pada sembilan cabang olahraga menunjukkan bahwa kontingen Indonesia membawa perwakilan dari berbagai latar disiplin olahraga. Atletik dan renang menghadirkan nomor-nomor yang mengandalkan kemampuan fisik, sementara balap sepeda, berkuda, judo, skateboard, triathlon, dan wushu memiliki tuntutan keterampilan yang khas. Dalam keseluruhan komposisi tersebut, setiap atlet muda dipersiapkan untuk bersaing dan mewakili Indonesia di panggung Youth Olympic Games Dakar 2026.
Chief de Mission (CDM) Indonesia melakukan koordinasi intensif dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Dakar, termasuk bersama duta besar, untuk memastikan seluruh kebutuhan kontingen selama Youth Olympic Games Dakar 2026 dapat dipantau dan dipenuhi secara tepat. Koordinasi ini menjadi bagian penting dari pengawalan berlapis, mengingat para atlet akan menghadapi lingkungan, kebiasaan, serta kondisi penyelenggaraan yang berbeda dari pelatihan di Indonesia.
Berbagai aspek di lapangan menjadi perhatian, mulai dari kondisi cuaca, akomodasi, transportasi, konsumsi, hingga dukungan teknis selama pertandingan berlangsung. Informasi mengenai situasi setempat terus dikomunikasikan agar kontingen dapat melakukan penyesuaian sejak awal. Dengan pemantauan tersebut, potensi kendala diharapkan dapat diantisipasi dan tidak mengganggu konsentrasi atlet maupun tim pendamping dalam menjalankan agenda kompetisi.
Salah satu kebutuhan utama yang dibahas ialah penyediaan katering dengan kandungan gizi khusus bagi atlet. Setiap atlet memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda, baik berdasarkan cabang olahraga, intensitas latihan dan pertandingan, maupun kondisi kesehatan masing-masing. Selain itu, terdapat kemungkinan pantangan terhadap bahan makanan tertentu, sehingga menu tidak dapat disamaratakan. Kebutuhan tersebut telah disampaikan kepada KBRI agar dapat difasilitasi melalui penyediaan makanan yang aman, seimbang, dan sesuai rekomendasi tim pendukung.
Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) sekaligus CDM Indonesia, Ita Yuliati, menegaskan pentingnya koordinasi tersebut saat meninjau persiapan cabang bulu tangkis di pelatnas PBSI, Jakarta Timur, pada Selasa, 13 Oktober. “Kami terus berkoordinasi dengan KBRI dan duta besar untuk memastikan seluruh kebutuhan kontingen, termasuk makanan dan kebutuhan khusus setiap atlet, dapat terlaksana dengan baik,” ujarnya. Langkah ini diharapkan mendukung kesiapan fisik, kesehatan, serta performa atlet sepanjang ajang berlangsung.
Perjalanan kontingen Indonesia menuju Youth Olympic Games Dakar 2026 akan disusun dalam tiga kloter penerbangan. Skema ini dirancang untuk menyesuaikan jadwal pertandingan setiap cabang olahraga sekaligus memastikan seluruh atlet memiliki waktu yang memadai untuk beradaptasi dengan lingkungan, cuaca, serta kondisi di lokasi penyelenggaraan.
Kloter pertama dijadwalkan berangkat pada 27 Oktober. Rombongan ini akan membawa atlet dari empat cabang olahraga awal, termasuk bulu tangkis, yang mendapat jadwal pertandingan lebih dekat dengan waktu kedatangan. Kloter kedua menyusul pada 29 Oktober, sedangkan kloter terakhir direncanakan berangkat pada 3 November. Dengan pengaturan tersebut, setiap atlet diharapkan dapat tiba di lokasi pertandingan sekitar empat hari lebih awal.
Pembagian jadwal keberangkatan juga memungkinkan tim Chief de Mission (CDM) memberikan pendampingan secara lebih terarah kepada setiap rombongan. Pendampingan itu mencakup koordinasi perjalanan, pemenuhan kebutuhan atlet, hingga komunikasi dengan pihak penyelenggara di Dakar. Pengelolaan secara bertahap dinilai lebih efektif dibandingkan memberangkatkan seluruh kontingen dalam satu waktu.
Ita menegaskan bahwa para atlet tidak akan dibiarkan berangkat dan menjalani perjalanan secara sendiri-sendiri. Setiap rombongan akan memperoleh pengawasan serta dukungan dari tim pendamping sejak keberangkatan hingga tiba di penginapan dan venue pertandingan. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mencegah berbagai kendala selama perjalanan, terlebih atlet yang dikirim merupakan aset negara sehingga keselamatan dan kesiapan mereka harus menjadi prioritas.
Di sisi lain, Kementerian Pemuda dan Olahraga belum menetapkan target jumlah medali secara pasti untuk kontingen Indonesia. Penetapan sasaran masih mempertimbangkan kekuatan peserta dan perkembangan persiapan masing-masing cabang olahraga. Ita tetap optimistis atlet dapat tampil maksimal. Keyakinan itu didukung pemanfaatan sport science dalam pelatnas, mulai dari pemantauan kondisi fisik, pengaturan nutrisi, pemulihan, hingga penyusunan strategi pertandingan yang lebih terukur.
Baca juga: Persiapan Asian Games 2026 di Indonesia | Bonus Besar Atlet Indonesia pada Asian Games 2026









