Jakarta | Atika Nur Rahmania, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta, meninggal dunia pada Rabu sore, 4 November 2026. Kabar duka tersebut dikonfirmasi oleh Asisten Pemerintahan Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Sigit Wijatmoko. Kepergian Atika menjadi perhatian di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, mengingat ia menjabat sebagai pimpinan perangkat daerah yang memiliki peran penting dalam perencanaan pembangunan ibu kota. Informasi yang disampaikan mengenai wafatnya Atika juga mencakup rangkaian penanganan jenazah serta rencana pemakaman yang telah disiapkan keluarga.
Setelah meninggal dunia, jenazah Atika sempat berada di RSUD Tarakan untuk mendapatkan penanganan awal. Selanjutnya, jenazah direncanakan dibawa ke rumah duka di kawasan Pondok Kelapa. Di lokasi tersebut, keluarga akan melaksanakan pemulasaraan sebelum jenazah dimakamkan. Keterangan mengenai perpindahan jenazah dan tempat pemulasaraan menjadi informasi yang penting bagi pihak yang hendak menyampaikan belasungkawa atau mengikuti perkembangan kabar duka ini. Rencana tersebut disampaikan sebagai bagian dari pengaturan keluarga setelah Atika berpulang pada Rabu sore.
Pemakaman Atika direncanakan berlangsung pada keesokan harinya, Kamis, 5 November 2026, di TPU Pondok Kelapa. Dengan demikian, rangkaian yang disebutkan mencakup penanganan awal di RSUD Tarakan, pemindahan menuju rumah duka di Pondok Kelapa, pemulasaraan, lalu pemakaman di tempat pemakaman umum tersebut. Informasi yang tersedia berfokus pada kabar wafat, konfirmasi dari Sigit Wijatmoko, serta rencana pengurusan jenazah. Jadwal dan lokasi pemakaman itu menjadi acuan bagi mereka yang ingin mengetahui prosesi penghormatan terakhir bagi Kepala Bappeda DKI Jakarta tersebut. Kabar kepergian Atika menandai kehilangan bagi jajaran pemerintahan daerah yang mengenalnya melalui tugas dan tanggung jawabnya dalam perencanaan pembangunan.
Pada sore hari sebelum meninggal, Atika Nur Rahmania masih menjalankan tugasnya sebagai Kepala Bappeda DKI Jakarta. Ia memberikan arahan dan motivasi kepada para CPNS yang baru dilantik menjadi PNS. Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa hingga hari terakhir, Atika tetap hadir untuk menjalankan tanggung jawab dan mendampingi jajaran yang berada dalam lingkup kerjanya. Perhatian yang ia berikan kepada para pegawai baru itu menjadi salah satu kenangan yang melekat bagi mereka yang menyaksikannya.
Sigit menyampaikan bahwa Atika menggunakan kesempatan tersebut untuk memberi arahan kepada para CPNS yang baru saja memasuki tahap baru sebagai PNS. Dalam pertemuan itu, Atika tidak hanya menjalankan agenda kedinasan, tetapi juga memberikan dorongan agar para pegawai menjalankan tugas dengan baik. Bagi para CPNS, arahan dari seorang pimpinan dapat menjadi bekal dalam memahami tanggung jawab sebagai aparatur. Namun, nilai penting dari momen tersebut juga terletak pada sikap Atika yang tetap berbagi perhatian dan semangat kepada jajaran, meski hari itu menjadi hari terakhirnya bertugas.
Sigit berharap semangat Atika dapat terus menjadi pengingat sekaligus motivasi bagi jajaran yang ditinggalkan. Harapan tersebut mengajak para pegawai untuk mengenang ketekunan dan kepedulian yang ditunjukkan Atika dalam menjalankan tugas, serta meneruskan semangat itu dalam pekerjaan sehari-hari. Momen ketika ia memberi arahan kepada CPNS yang baru dilantik menjadi PNS pun memiliki makna tersendiri: pesan dan dorongan dari seorang pimpinan dapat memberi kesan bagi pegawai yang menerima bimbingan. Dengan mengenang sikap Atika pada sore tersebut, jajaran Bappeda DKI diharapkan tetap menjaga semangat bekerja dan meneruskan tanggung jawab pelayanan secara sungguh-sungguh.
Kepergian Atika Nur Rahmania meninggalkan duka mendalam bagi jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kehilangan tersebut dirasakan bukan hanya sebagai berpulangnya seorang pejabat, tetapi juga sebagai kehilangan rekan kerja yang selama ini hadir dengan komitmen kuat dalam menjalankan tanggung jawabnya. Sigit menyampaikan bahwa sosok Atika memiliki tempat tersendiri di lingkungan pemerintahan, terutama karena dedikasi dan kesungguhannya dalam mengabdi kepada masyarakat serta organisasi yang dipimpinnya.
Dalam pandangan Sigit, Atika merupakan pejabat dengan dedikasi tinggi. Penilaian itu tercermin dari kesediaannya tetap menjalankan tugas hingga hari terakhir, sebagaimana dikenang oleh rekan-rekannya. Sikap tersebut menunjukkan besarnya tanggung jawab yang ia emban sebagai Kepala Bappeda DKI Jakarta. Selama bertugas, Atika dinilai memberikan kontribusi penting melalui kerja dan pengabdiannya. Penghormatan yang disampaikan kepadanya tidak hanya berkaitan dengan jabatan, tetapi juga dengan ketekunan, kepedulian, dan komitmen yang diperlihatkan sepanjang perjalanan pengabdiannya.
Bagi jajaran Pemprov DKI, kehilangan ini sekaligus menjadi kesempatan untuk mengenang nilai-nilai yang ditinggalkan Atika. Kontribusi, dedikasi, dan rasa tanggung jawabnya menjadi bagian dari jejak kerja yang patut dihargai. Sigit menempatkan Atika sebagai salah satu pejuang terbaik di lingkungan Pemprov DKI, sekaligus sahabat terbaik bagi mereka yang bekerja bersamanya. Penggambaran itu mencerminkan kedekatan dan rasa hormat yang tumbuh dari pengalaman bekerja bersama, bukan semata-mata dari hubungan formal antarpejabat. Dalam suasana berduka, kenangan tersebut menjadi pengingat bahwa pengabdian seorang aparatur juga dikenang melalui sikap dan hubungan yang ia bangun. Atika akan terus dikenang oleh rekan-rekannya atas kesungguhannya melaksanakan amanah dan memberi sumbangsih bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Penghormatan yang disampaikan Sigit mewakili rasa kehilangan sekaligus apresiasi atas pengabdian tersebut. Bagi lingkungan pemerintahan yang ditinggalkannya, warisan Atika hadir dalam kenangan atas seorang kolega yang teguh, bertanggung jawab, dan tulus menjalankan tugasnya hingga akhir.Sebelum memimpin Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta, Atika Nur Rahmania pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta. Ia mengemban jabatan tersebut sejak Agustus 2018 hingga September 2022. Pengalaman itu menempatkannya dalam peran yang berkaitan erat dengan pengelolaan informasi pemerintah, pemanfaatan teknologi, serta penyampaian layanan dan informasi kepada masyarakat. Rekam jabatan tersebut juga memperlihatkan keterlibatannya dalam upaya pemerintah provinsi menyesuaikan pelayanan publik dengan kebutuhan warga di tengah perubahan teknologi dan tantangan perkotaan.
Selama memimpin Diskominfotik, Atika mendorong pemanfaatan teknologi untuk mendukung peningkatan pelayanan publik. Teknologi dipakai sebagai sarana untuk memperluas akses warga terhadap layanan dan informasi, sekaligus membantu pemerintah menyampaikan pembaruan secara lebih mudah. Di program yang tercantum dalam rekam kontribusinya adalah JAKI, aplikasi Jakarta Kini yang menjadi salah satu kanal layanan dan informasi bagi warga. Pengembangan kanal digital semacam ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan layanan pemerintah yang lebih dekat dan dapat diakses melalui perangkat yang digunakan sehari-hari.
Program lain yang disebutkan mencakup situs web tanggap COVID-19 dan situs web pengawasan banjir. Keduanya menyediakan ruang bagi masyarakat untuk memperoleh informasi terkait situasi yang berdampak langsung pada kehidupan di Jakarta. Pada masa pandemi, informasi yang terpusat dapat membantu warga mengikuti perkembangan dan kebijakan penanganan; sementara pemantauan banjir berkaitan dengan kebutuhan mengetahui kondisi serta risiko di berbagai wilayah. Rangkaian inisiatif tersebut menggambarkan fokus pada penggunaan sarana digital untuk memperkuat komunikasi pemerintah dan mendukung respons terhadap persoalan publik. Setelah berkiprah di Diskominfotik, Atika kemudian memimpin Bappeda DKI Jakarta. Rumah duka berada di Kompleks DKI Blok O.6, RT 017/RW 002, Kelurahan Pondok Kelapa, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. 19 kunjungan









