Jakarta | Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mengingatkan para siswa agar tetap menggunakan kemampuan berpikir kritis ketika memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI). Teknologi tersebut sebaiknya tidak dijadikan jalan pintas untuk menyelesaikan tugas sekolah, apalagi dengan menyalin jawaban tanpa memahami isinya. Imbauan itu disampaikan Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi, Fifi Aleyda Yahya, dalam acara OJK DigiClass bagi pelajar Sekolah Rakyat di Jakarta pada Selasa.
Pesan tersebut menempatkan AI sebagai alat bantu belajar, bukan pengganti proses belajar. Siswa dapat memanfaatkan teknologi untuk mencari penjelasan awal, memahami istilah yang belum dikenal, atau memperoleh sudut pandang lain tentang suatu topik. Namun, hasil yang diberikan sistem tetap perlu ditelaah. Jawaban yang terdengar lancar belum tentu tepat, lengkap, atau sesuai dengan pertanyaan dan bahan pelajaran yang sedang dibahas.
Karena itu, pelajar perlu membiasakan diri memeriksa informasi, membandingkan jawaban dengan sumber tepercaya, dan menanyakan kembali bagian yang terasa meragukan. Mereka juga dapat menguraikan dengan kata-kata sendiri apa yang telah dipahami. Langkah tersebut membantu siswa mengetahui apakah informasi dari AI benar-benar memperjelas materi atau hanya menghasilkan teks yang tampak meyakinkan. Jika ditemukan kekeliruan, siswa perlu mengoreksi pemahamannya, bukan menerima jawaban itu begitu saja.
Dalam mengerjakan tugas, penggunaan AI secara bertanggung jawab berarti tetap mengikuti arahan guru dan tujuan pembelajaran. Siswa sebaiknya menggunakannya untuk mendukung proses, misalnya sebagai pemantik pertanyaan atau sarana mengembangkan gagasan, lalu menyusun jawaban berdasarkan pemahaman sendiri. Menyalin keluaran AI tanpa pemeriksaan dapat membuat tugas selesai lebih cepat, tetapi tidak menunjukkan penguasaan materi dan berisiko membawa informasi yang keliru.
Imbauan Kemkomdigi tersebut relevan seiring semakin mudahnya pelajar mengakses berbagai layanan AI. Kemudahan itu perlu diimbangi kecakapan digital: mengetahui keterbatasan teknologi, menilai kualitas informasi, serta menjaga tanggung jawab atas hasil pekerjaan. Dengan sikap kritis, siswa dapat memperoleh manfaat AI sekaligus mempertahankan kebiasaan bertanya, bernalar, dan belajar secara mandiri.
Penegasan Fifi menempatkan kecerdasan buatan sebagai alat bantu dalam proses belajar, bukan pengganti kemampuan manusia. Teknologi ini dapat membantu siswa mencari penjelasan, memperoleh sudut pandang tambahan, atau memahami materi yang terasa sulit. Namun, kemudahan tersebut tidak berarti seluruh proses berpikir dapat diserahkan kepada mesin. AI tidak memiliki otak, nurani, maupun insting manusia. Karena itu, hasil yang diberikan tetap perlu ditelaah dengan pemahaman dan pertimbangan siswa sendiri. Peran teknologi adalah mendukung kegiatan belajar, sementara tanggung jawab untuk memahami, menilai, dan mengambil keputusan tetap berada pada manusia yang menggunakannya.
Dalam pengerjaan tugas, pendekatan tersebut berarti siswa tidak dianjurkan meminta jawaban jadi lalu langsung menyalinnya. Cara seperti itu mungkin menghasilkan tugas yang tampak selesai, tetapi tidak memastikan bahwa siswa memahami materi atau mampu menjelaskan jawabannya. Sebaliknya, AI dapat digunakan untuk membantu mengurai konsep, memberi contoh, atau menunjukkan bagian yang perlu dipelajari lebih lanjut. Setelah memperoleh bantuan, siswa tetap perlu membaca, memeriksa, dan mengolah informasi tersebut dengan kata-kata serta penalarannya sendiri. Dengan demikian, penggunaan AI dapat menjadi bagian dari proses belajar, bukan jalan pintas yang menghapus keterlibatan siswa.
Pesan ini bukan berarti Kemkomdigi melarang siswa menggunakan AI. Penekanannya adalah pada cara pemanfaatan yang mendorong penalaran, bukan sekadar menghasilkan jawaban untuk disalin. Siswa dapat menjadikan keluaran AI sebagai bahan awal, kemudian menguji apakah penjelasannya masuk akal, sesuai dengan materi, dan menjawab pertanyaan tugas. Jika terdapat hal yang meragukan, siswa perlu mencari penjelasan lain atau meminta bimbingan guru. Kebiasaan memeriksa jawaban juga membantu mengembangkan sikap kritis terhadap teknologi. Pada akhirnya, manfaat AI bagi pendidikan bergantung pada keterlibatan aktif penggunanya: teknologi membantu menyediakan dukungan, sedangkan pemahaman dan pertimbangan manusia menentukan bagaimana dukungan itu digunakan.
Fifi menyarankan agar siswa tidak berhenti setelah memperoleh jawaban dari kecerdasan buatan. Jawaban yang tampak lancar dan meyakinkan tetap perlu ditelaah: siswa dapat bertanya mengapa jawaban itu diberikan, bagaimana kesimpulan tersebut diperoleh, dan bukti apa yang mendukungnya. Kebiasaan menelusuri alasan membantu pelajar memahami materi, bukan sekadar menerima hasil akhir. Dengan begitu, AI dapat digunakan sebagai titik awal untuk belajar dan berdiskusi, bukan sebagai pengganti proses berpikir.
Setelah menanyakan alasan di balik jawaban, siswa perlu memeriksa kembali apakah informasi itu benar. AI dapat menyampaikan kekeliruan, memberikan konteks yang tidak lengkap, atau menjawab dengan cara yang terdengar pasti meski belum tentu tepat. Karena itu, siswa sebaiknya menelusuri klaim penting dan membandingkannya dengan rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan. Mereka juga perlu memperhatikan apakah sumber yang digunakan relevan dengan pertanyaan dan menyajikan informasi secara jelas.
Fifi mengimbau pelajar agar tidak bergantung pada satu sumber informasi saja. Jawaban AI dapat dibandingkan dengan keterangan guru atau profesor, buku pelajaran, serta bacaan ilmiah yang teruji. Jika terdapat perbedaan, siswa dapat meninjau kembali sumber dan alasan yang mendasari masing-masing penjelasan, kemudian meminta bantuan guru untuk memahami bagian yang masih membingungkan. Cara ini mendorong sikap kritis sekaligus membantu siswa membedakan informasi yang didukung bukti dari klaim yang belum terverifikasi.
Kemudahan memperoleh jawaban dari AI, menurut Fifi, tidak menjadikan teknologi tersebut satu-satunya acuan. Kecepatan dan kepraktisan perlu diimbangi dengan pemeriksaan, perbandingan, dan pertimbangan manusia. Siswa tetap bertanggung jawab memastikan bahwa informasi yang mereka gunakan sesuai konteks dan memiliki dasar yang kuat. Dengan memperlakukan AI sebagai salah satu alat di banyak sumber belajar, pelajar dapat memanfaatkan teknologi secara lebih bijak tanpa kehilangan kebiasaan membaca, bertanya, dan menilai kebenaran informasi.
Fifi menekankan bahwa latihan berpikir kritis merupakan bekal penting yang akan menentukan kesuksesan generasi muda di masa depan. Penekanan ini mengingatkan bahwa kemampuan menggunakan teknologi saja tidak cukup. Saat AI memberikan jawaban, pelajar tetap perlu mengambil peran aktif: memeriksa isi jawaban, membandingkannya dengan sumber lain, lalu mempertimbangkan apakah informasi tersebut masuk akal dan sesuai dengan kebutuhan belajar.
Dengan cara itu, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk memahami materi, bukan sebagai pengganti proses berpikir. Jawaban yang tersusun rapi belum tentu lengkap atau tepat, sehingga pelajar perlu melihat bagaimana informasi tersebut didukung oleh sumber yang dapat diperiksa. Membandingkan beberapa rujukan juga membantu mereka mengenali perbedaan informasi dan menilai jawaban dengan lebih cermat. Proses ini memberi ruang bagi pelajar untuk bertanya, menimbang bukti, dan menyusun pemahaman sendiri, alih-alih langsung menerima atau menyalin hasil yang tersedia.
Pesan tersebut menempatkan pertimbangan manusia sebagai bagian penting dalam kegiatan belajar berbantuan AI. Teknologi dapat menyajikan jawaban dengan cepat, tetapi pelajar tetap bertanggung jawab untuk menilai kegunaan dan kebenarannya. Karena itu, kebiasaan memeriksa informasi dan membandingkan sumber perlu berjalan beriringan dengan penggunaan AI. Latihan yang konsisten membantu siswa menjadikan jawaban AI sebagai bahan untuk ditelaah, bukan sebagai kesimpulan otomatis.
Seruan Fifi pada akhirnya menegaskan bahwa berpikir kritis bukan sekadar keterampilan tambahan, melainkan salah satu faktor penting bagi keberhasilan generasi muda kelak. Dalam belajar bersama AI, sikap kritis tampak melalui kesediaan untuk memeriksa jawaban, mencari pembanding, dan menggunakan pertimbangan sendiri sebelum menarik kesimpulan. Dengan demikian, manfaat AI dalam pembelajaran bergantung pula pada cara pelajar menggunakannya: bukan hanya menerima hasil, melainkan menilai informasi secara cermat. Perpaduan pemanfaatan teknologi dengan penalaran manusia menjadi inti dari pesan tersebut.
Baca juga: Pramuka Jadi Wadah Pembentukan Karakter, Babinsa Koramil 1002-04/LAS Beri Pembinaan Pelajar | Kepolisian Pamarayan Tindaklanjuti Video Pelajar Konvoi Berbahaya









