Bekasi | Kenali bagian yang berada dalam kendalimuTidak semua hal dalam hidup bisa dikendalikan.Kamu tidak bisa mengontrol bagaimana orang lain memperlakukanmu.Kamu tidak bisa mengontrol apakah seseorang akan menghargai usahamu.Kamu tidak bisa menjamin bahwa sebuah rencana akan berjalan sesuai harapan.Kamu bahkan tidak bisa memastikan bahwa kerja keras selalu menghasilkan hasil yang kamu inginkan.Namun, ada hal-hal yang tetap berada dalam wilayah kendalimu.Cara kamu merespons.Cara kamu mempersiapkan diri.Cara kamu berkomunikasi.Keputusan yang kamu ambil.Batasan yang kamu tetapkan.Upaya yang kamu lakukan.Dan langkah yang kamu pilih setelah mengalami kegagalan.Salah satu latihan yang berguna adalah membagi masalah menjadi dua kolom:Di luar kendali sayadanMasih dalam kendali saya.Misalnya kamu gagal mendapatkan pekerjaan.Di luar kendalimu mungkin adalah keputusan perekrut, kandidat lain yang lebih cocok, kondisi perusahaan, atau jumlah posisi yang tersedia.Namun, masih ada bagian yang bisa kamu kendalikan: kualitas CV, kemampuan wawancara, pengalaman, cara mencari peluang, keterampilan yang perlu ditingkatkan, dan jumlah lamaran yang kamu kirim.Fokus pada kolom kedua.Bukan karena kolom pertama tidak penting, tetapi karena kolom kedua adalah tempat tindakanmu memiliki pengaruh.Semakin sering kamu melatih diri untuk melihat wilayah kendali, semakin kecil kemungkinan kamu merasa tidak berdaya.4. Berhenti menggunakan kalimat “kalau saja…”Setelah mengalami kegagalan, pikiran manusia sering kembali ke masa lalu.“Kalau saja saya tidak percaya kepadanya.”“Kalau saja saya mengambil keputusan lain.”“Kalau saja mereka membantu saya.”“Kalau saja kesempatan itu datang lebih cepat.”Masalahnya, kalimat “kalau saja” sering membuat pikiran terjebak dalam sesuatu yang sudah tidak bisa diubah.Dalam psikologi, kita memahami bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk melakukan counterfactual thinking, yaitu membayangkan alternatif dari kenyataan yang terjadi.Proses ini sebenarnya tidak selalu buruk. seseorang yang berhenti menyalahkan orang lain / foto: Magnific/ufabizphoto Pernahkah kamu mengalami kegagalan, lalu tanpa sadar langsung mencari seseorang untuk disalahkan?
Data lain dalam laporan menunjukkan Ada keputusan orang lain yang merugikan kita, ada keadaan yang berada di luar kendali, dan ada pengalaman hidup yang memang tidak adil.Namun, ada perbedaan besar mengakui bahwa orang lain berkontribusi terhadap sebuah masalah dan menyerahkan seluruh tanggung jawab hidup kepada orang lain.Ketika kebiasaan menyalahkan orang lain menjadi cara utama untuk menghadapi kegagalan, kita sebenarnya sedang memberikan sesuatu yang sangat berharga: kendali atas hidup kita sendiri.Psikologi menunjukkan bahwa cara kita menjelaskan kegagalan dapat memengaruhi bagaimana kita bangkit, belajar, dan mengambil keputusan berikutnya. Jika setiap kegagalan selalu dijelaskan sebagai kesalahan orang lain, kita mungkin merasa lebih lega untuk sementara waktu. Namun, kita juga kehilangan kesempatan untuk melihat bagian yang sebenarnya masih bisa kita ubah.Jadi, jika kamu ingin berhenti menyalahkan orang lain atas kegagalanmu, bukan berarti kamu harus menyalahkan diri sendiri.Yang perlu dilakukan adalah belajar berkata:“Apa yang terjadi memang tidak sepenuhnya berada dalam kendaliku. Tetapi bagian mana yang masih menjadi tanggung jawabku?”Pertanyaan sederhana ini dapat mengubah cara seseorang menghadapi kegagalan.Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (10/10), terdapat tujuh cara yang bisa kamu lakukan.1. Mungkin sejak awal kamu perlu memiliki rencana cadangan.Dengan cara berpikir seperti ini, kamu tidak menyangkal kesalahan orang lain.
Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Bedakan “penyebab” dan “tanggung jawab”Salah satu kesalahan paling umum ketika menghadapi kegagalan adalah menganggap bahwa menemukan penyebab berarti menemukan siapa yang harus disalahkan.Padahal, keduanya berbeda.Misalnya, kamu gagal dalam sebuah proyek karena rekan kerjamu terlambat memberikan data. Keterlambatan tersebut memang merupakan salah satu penyebab kegagalan proyek.Tetapi setelah mengetahui penyebabnya, ada pertanyaan lain yang jauh lebih penting:“Apa yang bisa saya lakukan agar hal seperti ini tidak terulang?”Mungkin kamu bisa membuat tenggat waktu internal lebih awal. Mungkin kamu perlu melakukan pengecekan lebih rutin. Membayangkan apa yang seharusnya dilakukan berbeda dapat membantu kita belajar.Namun, jika dilakukan berulang-ulang tanpa menghasilkan tindakan baru, pikiran tersebut berubah menjadi penyesalan.Karena itu, ubahlah pertanyaan.Daripada:“Kenapa dulu saya melakukan itu?”coba tanyakan:“Apa yang bisa saya pelajari dari keputusan tersebut?”Daripada:“Kenapa dia menghancurkan kesempatan saya?”coba tanyakan:“Apa yang akan saya lakukan secara berbeda jika menghadapi situasi serupa lagi?”Perubahan kecil dalam pertanyaan dapat mengubah arah pikiran.Pertanyaan pertama membawa kita kembali ke masa lalu.Pertanyaan kedua membawa kita menuju masa depan.Kegagalan seharusnya tidak hanya menjadi tempat kita mengulang penyesalan. Suahasil Buka Suara soal Pembagian Tugas Tiga Wamenkeu, Ini Fokusnya!
Kamu hanya menolak untuk berhenti pada tahap menyalahkan.Ini penting karena menyalahkan sering kali memberikan rasa puas yang cepat, tetapi tidak selalu menghasilkan solusi.Coba gunakan tiga pertanyaan berikut setiap kali sesuatu berjalan buruk:Apa yang terjadi?Faktor apa saja yang menyebabkan hal itu terjadi?Bagian mana yang masih bisa saya kendalikan?Pertanyaan ketiga adalah yang paling penting.Kamu tidak harus bertanggung jawab atas semua hal yang terjadi dalam hidupmu. Tetapi kamu perlu bertanggung jawab atas respons dan tindakanmu setelah sesuatu terjadi.Itulah perbedaan tanggung jawab dan menyalahkan diri sendiri.2. Kegagalan juga bisa menjadi sumber informasi.Kamu mungkin tidak bisa mengubah keputusan yang sudah dibuat.Tetapi kamu masih bisa mengubah keputusan berikutnya.3. Berani mengakui kesalahan tanpa menghancurkan harga diriAda dua ekstrem yang sama-sama tidak sehat.Yang pertama adalah:“Semua ini salah orang lain.”Yang kedua:“Semua ini salah saya. Saya memang tidak mampu.”Keduanya sama-sama membuat kita gagal belajar.Mengakui kesalahan tidak berarti menganggap dirimu sebagai manusia yang buruk.Kamu bisa mengatakan:“Saya membuat keputusan yang salah.”tanpa harus mengatakan:“Saya adalah orang yang gagal.”Perbedaannya sangat penting.Kesalahan adalah sesuatu yang dilakukan.Identitas adalah sesuatu yang kita sematkan kepada diri sendiri.Jika kamu mengatakan, “Saya membuat kesalahan,” masih ada ruang untuk memperbaiki.Tetapi jika kamu mengatakan, “Saya memang bodoh,” kamu sedang membuat kesalahan menjadi bagian dari identitasmu.Cobalah menggunakan bahasa yang lebih spesifik.Bukan:“Saya selalu gagal.”Tetapi:“Dalam situasi ini, saya mengambil keputusan yang kurang tepat.”Bukan:“Saya tidak pernah bisa melakukan apa pun dengan benar.”Tetapi:“Ada keterampilan yang belum saya kuasai dan perlu saya perbaiki.”Bahasa yang kita gunakan terhadap diri sendiri dapat memengaruhi cara kita memandang masalah.Mengakui kesalahan dengan sehat bukanlah bentuk penghukuman diri.Itu adalah bentuk kedewasaan.5.









