6 Alasan Mengapa Kamu Sebaiknya Tidak Berusaha “Melupakan” Rasa Duka Menurut Psikologi

6 Alasan Mengapa Kamu Sebaiknya Tidak Berusaha “Melupakan” Rasa Duka Menurut Psikologi

Bekasi | Orang-orang di sekitar kita mungkin ingin melihat kita kembali tersenyum, bekerja seperti biasa, dan menjalani kehidupan tanpa terus dibayangi kesedihan.Namun, ada satu persoalan penting: duka bukan sesuatu yang harus segera dilupakan.Dalam psikologi, proses berduka bukan sekadar fase ketika seseorang merasa sedih setelah kehilangan.

Data lain dalam laporan menunjukkan Duka merupakan respons emosional yang kompleks terhadap kehilangan sesuatu yang memiliki arti penting—entah itu orang yang dicintai, hubungan, pekerjaan, rumah, kesehatan, impian, atau bahkan gambaran tentang masa depan yang selama ini kita bayangkan.Karena itu, berusaha keras untuk “melupakan” duka justru tidak selalu membantu.Bukan berarti kita harus terus hidup dalam kesedihan. Sebaliknya, proses yang lebih sehat biasanya bukan tentang menghapus rasa duka, melainkan belajar hidup berdampingan dengan kehilangan tersebut sambil perlahan membangun kembali kehidupan.Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (10/10), terdapat c1. Karena duka tidak selalu perlu “disembuhkan”—ia perlu diprosesKita sering memperlakukan kesedihan seperti penyakit yang harus segera disembuhkan.Ketika seseorang patah hati, kehilangan orang terdekat, atau mengalami kegagalan besar, muncul dorongan untuk mencari cara agar rasa sakit tersebut cepat menghilang.Padahal, secara psikologis, emosi tidak selalu bekerja seperti luka fisik.Jika tangan terluka, tubuh akan menjalankan proses biologis untuk memperbaiki jaringan. Tetapi ketika seseorang kehilangan sesuatu yang sangat berarti, tidak ada tombol sederhana yang bisa menghapus keterikatan emosional terhadap kehilangan tersebut.Duka perlu diproses.Memproses duka dapat berarti mengakui bahwa kehilangan itu benar-benar terjadi, memberi ruang bagi emosi yang muncul, memahami apa arti kehilangan tersebut bagi diri kita, serta secara perlahan menyesuaikan diri dengan kehidupan yang telah berubah.Inilah mengapa seseorang bisa menangis berbulan-bulan setelah kehilangan orang yang dicintai tanpa berarti bahwa dirinya “gagal move on”.Kesedihan tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang sedang berjalan mundur.Kadang-kadang, kesedihan adalah bagian dari cara pikiran memahami kenyataan baru.Kita mungkin berkata kepada diri sendiri:“Aku tahu dia sudah tidak ada, tetapi aku masih merindukannya.”Dua hal tersebut dapat terjadi secara bersamaan.Kita bisa memahami kenyataan secara rasional, tetapi secara emosional masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.Jadi, tujuan dari proses berduka bukan selalu membuat kita berhenti merasa kehilangan. Tujuannya adalah membantu kita menerima kenyataan kehilangan dan menemukan cara baru untuk menjalani kehidupan setelahnya.Ada perbedaan besar “melupakan” dan “berdamai”.Melupakan berarti berusaha menghapus pengalaman tersebut dari pikiran.Berdamai berarti menerima bahwa pengalaman tersebut merupakan bagian dari hidup kita, tanpa membiarkannya sepenuhnya menentukan masa depan.Dan dalam banyak kasus, berdamai jauh lebih realistis daripada melupakan.2.

Bacaan Lainnya

Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup seseorang yang berusaha melupakan rasa duka / foto: Magnific/zinkevych Ketika kehilangan seseorang atau sesuatu yang sangat berarti, salah satu nasihat yang paling sering kita dengar adalah, “Kamu harus move on,” atau “Sudah, coba dilupakan saja.” Nasihat tersebut biasanya datang dari niat baik. Bukan pula berarti seseorang tidak boleh merasa bahagia lagi setelah kehilangan. Karena mencoba menekan emosi justru dapat membuat emosi terasa semakin kuatAda kecenderungan manusia untuk ingin menghindari perasaan yang tidak nyaman.Ketika sedih, kita ingin segera merasa bahagia.Ketika kecewa, kita ingin segera melupakannya.Ketika rindu, kita mencoba mengalihkan perhatian.Sesekali melakukan distraksi tentu tidak selalu buruk. Menonton film, bertemu teman, berolahraga, bekerja, atau melakukan aktivitas lain dapat membantu seseorang mendapatkan jeda dari rasa sakit.Masalah muncul ketika seluruh strategi tersebut digunakan untuk melarikan diri dari emosi secara terus-menerus.Dalam psikologi, ada banyak penelitian mengenai konsekuensi dari menekan atau menghindari pengalaman emosional. Suahasil Buka Suara soal Pembagian Tugas Tiga Wamenkeu, Ini Fokusnya!

Salah satu konsep yang sering dibahas adalah thought suppression, yaitu usaha sadar untuk tidak memikirkan sesuatu.Ironisnya, semakin kita mengatakan kepada diri sendiri, “Jangan pikirkan hal itu,” semakin mudah pikiran tersebut kembali muncul.Bayangkan seseorang berkata:“Aku tidak boleh memikirkan dia lagi.”Kalimat tersebut secara tidak langsung membuat otak terus memeriksa apakah kita sedang memikirkan “dia” atau tidak.Akibatnya, sesuatu yang ingin kita singkirkan justru tetap hadir dalam perhatian.Hal yang sama dapat terjadi pada duka.Semakin keras seseorang mengatakan:“Aku harus berhenti sedih.”“Aku tidak boleh menangis.”“Aku harus sudah move on.”“Aku tidak boleh merindukannya.”semakin besar kemungkinan muncul konflik internal.Satu bagian dari diri kita masih merasa kehilangan, sementara bagian lain terus memerintahkan agar perasaan tersebut menghilang.Akibatnya, kita bukan hanya mengalami kesedihan.Kita juga mulai merasa bersalah karena masih sedih.Padahal, merasakan emosi bukanlah kegagalan.Kesedihan adalah informasi tentang sesuatu yang memiliki arti.Ketika kita kehilangan seseorang yang sangat kita cintai, rasa sakit tersebut sebagian mencerminkan besarnya hubungan yang pernah kita miliki.Karena itu, daripada terus bertanya:“Bagaimana caranya supaya aku tidak merasa sedih?”pertanyaan yang mungkin lebih membantu adalah:“Apa yang sedang coba disampaikan oleh rasa sedih ini?”Mungkin jawabannya adalah bahwa kita sedang merindukan seseorang.Mungkin kita sedang kehilangan rasa aman.Mungkin kita sedang beradaptasi dengan kehidupan yang berubah.Atau mungkin kita sedang membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan.3.

Pos terkait