8 Alasan Mengapa “Ego yang Tenang” Dapat Membawa Kebahagiaan Abadi bagi Kamu Menurut Psikologi

8 Alasan Mengapa “Ego yang Tenang” Dapat Membawa Kebahagiaan Abadi bagi Kamu Menurut Psikologi

Bekasi | seseorang yang ketenangannya membawa kebahagiaan / foto: Magnific/farknot Di dunia yang semakin ramai, banyak orang menghabiskan hidupnya untuk membuktikan sesuatu.

Keterangan yang tercatat menyebut Tetapi aku tidak harus membenci diriku sendiri karena kesalahan itu."Kalimat seperti ini jauh lebih sehat daripada:"Aku gagal, berarti aku tidak berguna."Ketika seseorang mulai berdamai dengan dirinya sendiri, ia tidak lagi membutuhkan dunia untuk menjadi tempat pembuktian.Dunia bisa menjadi tempat pengalaman.Tempat belajar.Tempat mencintai.Tempat berkarya.Tempat bertumbuh.Bukan panggung yang menentukan apakah dirinya layak atau tidak.Dan mungkin di sanalah kebahagiaan yang paling matang ditemukan.Ego yang Tenang Bukan Berarti Tidak Punya EgoAda satu hal penting yang perlu dipahami.Ego yang tenang bukan berarti ego yang hilang.Kita tetap membutuhkan rasa diri.Kita membutuhkan batas.Kita membutuhkan harga diri.Kita membutuhkan tujuan.Kita membutuhkan kemampuan mengatakan:"Ini penting bagiku."Masalahnya bukan memiliki ego.Masalahnya adalah ketika ego harus terus-menerus diberi makan.Ego yang tidak tenang selalu bertanya:"Apakah aku cukup hebat?"Ego yang tenang berkata:"Aku tahu siapa diriku.

Bacaan Lainnya

Data lain dalam laporan menunjukkan Membuktikan bahwa dirinya sukses.Membuktikan bahwa dirinya pintar.Membuktikan bahwa dirinya lebih baik.Membuktikan bahwa dirinya layak dicintai.Bahkan terkadang, membuktikan kepada orang-orang yang sebenarnya sudah tidak terlalu peduli.Tanpa disadari, hidup bisa berubah menjadi perlombaan yang tidak pernah selesai.Hari ini mendapatkan pujian, besok membutuhkan pujian yang lebih besar. Hari ini berhasil mengalahkan seseorang, besok muncul orang lain yang harus dikalahkan. Hari ini merasa cukup, tetapi setelah melihat pencapaian orang lain di media sosial, rasa cukup itu tiba-tiba menghilang.Inilah salah satu paradoks kehidupan modern: semakin keras seseorang berusaha membuktikan nilai dirinya, semakin mudah kebahagiaannya bergantung pada penilaian orang lain.Namun ada keadaan psikologis yang jauh lebih damai: ego yang tenang.Ego yang tenang bukan berarti tidak memiliki ambisi. Bukan berarti menjadi pasif, tidak peduli, atau membiarkan orang lain memperlakukan kita sesuka hati.Sebaliknya, ego yang tenang berarti seseorang mengetahui nilai dirinya tanpa harus terus-menerus mengumumkannya kepada dunia.Ia bisa menang tanpa merendahkan orang lain.Ia bisa kalah tanpa merasa dirinya tidak berharga.Ia bisa menerima kritik tanpa langsung merasa diserang.Ia bisa mengatakan "tidak" tanpa merasa bersalah berlebihan.Dan yang paling penting, ia tidak membutuhkan dunia untuk terus-menerus meyakinkannya bahwa dirinya cukup.Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (10/10), dalam psikologi, gagasan ini berhubungan dengan berbagai konsep seperti self-esteem yang sehat, self-compassion, regulasi emosi, motivasi intrinsik, psychological flexibility, dan kemampuan membangun hubungan yang aman.Lalu, mengapa ego yang tenang dapat membuat seseorang jauh lebih bahagia?Berikut delapan alasannya.1. Ego yang Tenang Membuat Kebahagiaan Tidak Bergantung pada Validasi Orang LainSalah satu sumber kelelahan psikologis yang paling besar adalah kebutuhan untuk mendapatkan validasi.Kita ingin disukai.Kita ingin dianggap pintar.Kita ingin terlihat sukses.Kita ingin orang lain mengakui perjuangan kita.Keinginan tersebut sebenarnya manusiawi.

Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Suahasil Buka Suara soal Pembagian Tugas Tiga Wamenkeu, Ini Fokusnya!

Manusia memang makhluk sosial yang membutuhkan penerimaan dan hubungan dengan orang lain.Masalah muncul ketika harga diri sepenuhnya diserahkan kepada penilaian eksternal.Jika orang memuji kita, kita merasa berharga.Jika orang mengkritik kita, kita merasa gagal.Jika unggahan kita mendapatkan banyak respons, kita senang.Jika tidak ada yang memperhatikan, kita merasa tidak penting.Akibatnya, emosi menjadi seperti pendulum yang bergerak mengikuti pendapat orang lain.Ego yang tenang bekerja dengan cara berbeda.Ia mengatakan:"Aku senang jika dihargai, tetapi aku tidak membutuhkan penghargaan itu untuk mengetahui bahwa diriku berharga."Ini merupakan perbedaan yang sangat besar.Dalam psikologi, seseorang dengan self-esteem yang lebih stabil cenderung tidak sepenuhnya menggantungkan nilai dirinya pada keberhasilan, status, atau evaluasi sosial tertentu.Ia tetap bisa menikmati pujian, tetapi tidak kecanduan pujian.Ia tetap bisa merasa sedih ketika ditolak, tetapi penolakan tidak otomatis diterjemahkan menjadi:"Aku tidak layak dicintai."Sebaliknya:"Orang ini tidak memilihku. Itu menyakitkan, tetapi itu tidak menentukan seluruh nilai diriku."Inilah bentuk kebebasan psikologis.Ketika kamu tidak lagi membutuhkan semua orang untuk menyukaimu, hidup menjadi jauh lebih ringan.Kamu bisa mulai melakukan sesuatu karena memang penting bagimu, bukan hanya karena ingin terlihat hebat.Dan semakin sedikit kebahagiaanmu bergantung pada tepuk tangan orang lain, semakin stabil pula kebahagiaan tersebut.2. Ego yang Tenang Membantumu Berhenti Membandingkan Diri Secara BerlebihanManusia memiliki kecenderungan alami untuk membandingkan dirinya dengan orang lain.Kita melihat kehidupan seseorang dan secara tidak sadar bertanya:"Apakah aku sudah cukup sukses dibandingkan dia?"Masalahnya, dunia modern menyediakan bahan perbandingan dalam jumlah yang hampir tidak terbatas.Media sosial memperlihatkan pencapaian orang lain setiap hari.Seseorang membeli rumah.Orang lain menikah.Ada yang mendapatkan pekerjaan impian.Teman lama membuka bisnis.Orang yang dulu kita anggap biasa saja ternyata sekarang jauh lebih sukses.Jika ego kita membutuhkan posisi yang lebih tinggi dibandingkan orang lain, maka hidup akan menjadi perlombaan tanpa garis akhir.Sebab selalu akan ada seseorang yang lebih kaya.Lebih pintar.Lebih menarik.Lebih terkenal.Lebih sukses.Lebih muda.Atau lebih beruntung.Ego yang tenang mengubah pertanyaan.Bukan lagi:"Apakah aku lebih baik daripada mereka?"Tetapi:"Apakah aku sedang menjadi versi diriku yang lebih baik?"Perubahan pertanyaan ini sangat penting.Kamu tidak lagi menjadikan kehidupan orang lain sebagai alat ukur utama kehidupanmu sendiri.Kamu bisa melihat keberhasilan orang lain dan berkata:"Bagus untuk dia."Tanpa harus menambahkan:"Berarti aku gagal."Ini bukan berarti kamu kehilangan ambisi.Justru ambisimu menjadi lebih sehat.Kamu mengejar sesuatu karena memang menginginkannya, bukan karena takut terlihat kalah.Kamu berolahraga bukan semata-mata agar lebih menarik daripada orang lain.Kamu bekerja keras bukan hanya agar orang lain iri.Kamu membangun kehidupan yang baik karena kehidupan itu memang bermakna bagimu.Dalam kondisi seperti ini, pencapaian berubah dari alat untuk membuktikan diri menjadi cara untuk mengekspresikan diri.Dan perbedaan itu dapat mengubah kualitas hidup secara drastis.3.

Pos terkait