Gempa M5,7 di Laut Selatan Sukabumi Tidak Berpotensi Tsunami

Gempa M5,7 di Laut Selatan Sukabumi Tidak Berpotensi Tsunami

Sukabumi | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan terjadinya gempa bumi tektonik di wilayah laut selatan Sukabumi, Jawa Barat, pada Minggu pukul 10.30 WIB. Informasi tersebut disampaikan berdasarkan hasil pemantauan dan pemutakhiran parameter gempa yang dilakukan BMKG setelah kejadian berlangsung. Peristiwa ini tercatat sebagai gempa dengan magnitudo 5,7.

Berdasarkan parameter terkini, hiposenter atau pusat gempa yang berada di bawah permukaan bumi terletak pada kedalaman 10 kilometer. Sementara itu, episenternya berada di koordinat 8,87° Lintang Selatan dan 106,41° Bujur Timur. Lokasi tersebut berjarak sekitar 209 kilometer ke arah barat daya Kabupaten Sukabumi. Data koordinat dan jarak ini menunjukkan bahwa sumber gempa berada di wilayah laut selatan Sukabumi, bukan di daratan kabupaten tersebut.

Bacaan Lainnya

BMKG juga melakukan pemodelan untuk menilai kemungkinan dampak gempa terhadap kondisi laut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bermagnitudo 5,7 tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Pernyataan ini menjadi bagian penting dari pembaruan informasi BMKG mengenai kejadian gempa pada Minggu pagi itu. Dengan demikian, parameter utama yang tercatat meliputi waktu kejadian pukul 10.30 WIB, magnitudo 5,7, kedalaman hiposenter 10 kilometer, serta episenter di 8,87° LS dan 106,41° BT, sekitar 209 kilometer barat daya Kabupaten Sukabumi.

Menurut Daryono, pakar gempa dan tsunami sekaligus anggota IABI, gempa berkekuatan M5,7 di Laut Selatan Sukabumi memiliki karakter tektonik yang perlu dipahami dari posisi dan kedalamannya. Gempa tersebut tergolong dangkal dan berlangsung di kawasan tektonik aktif di selatan Jawa. Wilayah ini merupakan bagian dari zona pertemuan lempeng yang terus mengalami deformasi akibat pergerakan lempeng Indo-Australia menuju dan berinteraksi secara konvergen dengan lempeng Sunda, yang secara geologis termasuk dalam sistem lempeng Eurasia.

Interaksi konvergen itu membentuk medan tegangan yang kompleks di sepanjang selatan Jawa. Tekanan tidak hanya terakumulasi pada bidang kontak utama antarlempeng, yang dikenal sebagai zona megathrust, tetapi juga dapat diteruskan dan dilepaskan melalui berbagai struktur geologi di sekitar zona subduksi. Karena itu, gempa yang terjadi di wilayah dekat batas lempeng tidak selalu bersumber dari megathrust atau menunjukkan mekanisme sesar naik. Sejumlah kejadian dapat dipicu oleh aktivitas patahan lain yang berada di kerak bumi, termasuk struktur yang terletak di bawah dasar laut.

Berdasarkan posisi episenter, kedalaman hiposenter, serta karakter sumbernya, gempa di selatan Sukabumi mengindikasikan adanya penyesaran dangkal bawah laut di selatan Jawa Barat. Interpretasi ini menunjukkan bahwa sumber guncangan berada pada struktur patahan yang relatif dekat dengan permukaan, bukan semata-mata pada bidang kontak subduksi utama. Kedalaman yang dangkal menjelaskan mengapa getaran dapat dirasakan di sejumlah wilayah pesisir dan daratan di sekitarnya, meskipun magnitudonya berada pada kategori menengah.

Hasil analisis mekanisme sumber juga memperlihatkan dominasi sesar geser. Mekanisme tersebut menggambarkan pergeseran relatif mendatar pada bidang patahan, berbeda dari sesar naik yang mengangkat satu blok batuan terhadap blok lainnya. Temuan ini memperkuat penjelasan bahwa aktivitas tektonik di selatan Jawa memiliki keragaman sumber. Dengan demikian, kedekatan episenter dengan zona subduksi tidak otomatis berarti gempa berasal dari megathrust atau berpotensi menghasilkan tsunami besar.

Guncangan gempa bumi bermagnitudo 5,7 di Laut Selatan Sukabumi dirasakan oleh masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Sukabumi. Berdasarkan laporan yang tersedia, getaran tercatat terasa lain di Surade dan Tegalbuleud dengan intensitas III MMI. Tingkat intensitas ini menunjukkan bahwa guncangan dapat dirasakan secara nyata di dalam rumah, meskipun belum menimbulkan dampak kerusakan berarti pada bangunan yang memenuhi standar ketahanan.

Dalam penjelasan tingkat III MMI, sensasi guncangan digambarkan menyerupai getaran yang muncul ketika kendaraan berat melintas di sekitar rumah. Perabotan ringan atau benda yang tergantung dapat terasa bergetar, sementara sebagian warga mungkin menyadari kejadian tersebut tanpa mengalami kepanikan. Intensitas gempa dapat berbeda antarlokasi karena dipengaruhi jarak dari sumber, kondisi tanah, kedalaman, serta kualitas bangunan.

Daryono menjelaskan bahwa mekanisme sesar geser pada umumnya memiliki kemampuan lebih kecil untuk membangkitkan tsunami dibandingkan sesar naik. Pergerakan pada sesar geser lebih dominan berlangsung secara horizontal, sehingga deformasi vertikal dasar laut yang dapat memindahkan massa air relatif terbatas. Namun, karakter mekanisme sumber bukan satu-satunya faktor penentu, sehingga informasi resmi mengenai potensi tsunami tetap perlu menjadi rujukan utama.

Kawasan pesisir selatan Jawa Barat dan Banten berada di hadapan beragam sumber bahaya gempa. Ancaman tersebut mencakup patahan lokal, gempa intralempeng, serta potensi gempa besar pada zona megathrust. Keragaman sumber ini membuat pemantauan seismik, penyebaran informasi yang cepat, dan kesiapsiagaan masyarakat tetap penting, termasuk bagi wilayah yang hanya merasakan guncangan ringan pada kejadian tertentu.

Peristiwa gempa bermagnitudo 5,7 di Laut Selatan Sukabumi menjadi pengingat bahwa informasi kebencanaan perlu dipahami secara proporsional. Gempa tersebut tidak boleh ditafsirkan sebagai tanda pasti bahwa gempa yang lebih besar akan segera terjadi. Namun, kejadian ini juga tidak dapat dianggap sebagai bukti bahwa seluruh energi tektonik telah habis atau semua potensi gempa besar sudah terlepas.

Karena waktu terjadinya gempa belum dapat diprediksi secara tepat, kesiapsiagaan perlu diperkuat secara berkelanjutan, terutama di pesisir selatan Jawa Barat dan Banten. Upaya tersebut mencakup pembangunan serta pemeriksaan bangunan tahan gempa, pemetaan zona bahaya tsunami, penetapan jalur dan tempat evakuasi, pemasangan rambu keselamatan, serta penyediaan informasi yang mudah dipahami oleh masyarakat.

Latihan evakuasi mandiri juga perlu dilakukan secara rutin, melibatkan sekolah, keluarga, pelaku usaha, pemerintah daerah, dan kelompok masyarakat. Simulasi membantu warga mengenali rute tercepat, memperkirakan waktu menuju tempat aman, serta memahami tindakan yang harus dilakukan ketika komunikasi atau fasilitas umum mengalami gangguan.

Warga pesisir yang merasakan gempa kuat atau berlangsung lama sebaiknya segera menjauhi pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi, tanpa menunggu sirene, pesan peringatan, atau instruksi resmi. Langkah cepat tersebut penting karena gelombang tsunami dapat tiba sebelum informasi formal diterima oleh semua orang. Setelah berada di tempat aman, warga perlu tetap mengikuti arahan petugas dan tidak segera kembali ke pantai.

Risiko bencana memang tidak dapat dihapus sepenuhnya, tetapi dampaknya dapat dikurangi melalui ilmu pengetahuan, rekayasa bangunan, sistem peringatan dini, tata ruang yang baik, dan kesiapan masyarakat. Tidak setiap gempa laut memicu tsunami, tetapi warga di kawasan rawan harus memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menyelamatkan diri secara cepat, tepat, dan mandiri.

Pos terkait