Dokter Anak Jelaskan Bahaya Telur Mentah bagi Bayi dan Risiko Infeksi Salmonella

Dokter Anak Jelaskan Bahaya Telur Mentah bagi Bayi dan Risiko Infeksi Salmonella

Surabaya | Kasus bayi Alena menjadi perhatian setelah beredar informasi bahwa bayi yang belum genap berusia satu bulan itu sempat mengalami kondisi kritis dan menjalani perawatan intensif di RSUD Dr Soetomo, Surabaya, sejak Jumat (9/10). Kabar tersebut ramai dibicarakan karena Alena diduga diberi telur mentah oleh nenek dari pihak ayahnya ketika sedang mengalami demam.

Berdasarkan informasi yang beredar, pemberian telur mentah itu dilakukan dengan tujuan membantu menurunkan suhu tubuh bayi. Namun, setelahnya kondisi Alena disebut memburuk sehingga membutuhkan penanganan medis lebih lanjut. Peristiwa ini kemudian memunculkan kembali perhatian terhadap risiko memberikan makanan atau bahan pangan yang belum diolah kepada bayi, terutama pada usia yang sangat dini.

Bacaan Lainnya

Kabar mengenai meninggalnya Alena juga disebut beredar melalui media sosial. Meski demikian, informasi tersebut perlu disikapi secara hati-hati karena belum terdapat keterangan medis yang cukup untuk memastikan penyebab kondisi kritis maupun kematiannya. Hubungan langsung pemberian telur mentah dan memburuknya kondisi Alena juga tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan informasi yang beredar.

Pada bayi baru lahir, demam merupakan tanda yang memerlukan evaluasi tenaga kesehatan, bukan penanganan berdasarkan praktik rumahan yang belum terbukti aman. Sistem pencernaan dan daya tahan tubuh bayi masih berkembang, sehingga pemberian telur mentah dapat membawa risiko kontaminasi mikroorganisme, termasuk Salmonella. Bakteri tersebut berpotensi menyebabkan infeksi serius, khususnya pada bayi yang sistem kekebalannya belum matang. Karena itu, orang tua dan keluarga sebaiknya segera membawa bayi ke fasilitas kesehatan ketika muncul demam atau perubahan kondisi, serta menyampaikan secara lengkap semua makanan atau bahan yang telah diberikan.

Spesialis anak konsultan neonatologi, dr dr Johanes Edy Siswanto, SpA(K), mengingatkan bahwa telur mentah maupun setengah matang tidak dianjurkan untuk bayi. Peringatan tersebut disampaikan pada Senin (12/10/2026) sebagai bagian dari upaya meningkatkan kewaspadaan orang tua terhadap makanan yang berpotensi membawa bakteri Salmonella. Bakteri ini dapat mencemari telur, terutama apabila telur tidak dimasak hingga bagian putih dan kuningnya benar-benar matang.

Infeksi Salmonella dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan pada bayi. Gejala yang mungkin muncul meliputi muntah, diare, dan demam. Kehilangan cairan akibat muntah serta diare dapat berlangsung cepat, sehingga bayi berisiko mengalami dehidrasi berat. Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena bayi belum mampu menyampaikan keluhan secara jelas dan cadangan cairan tubuhnya relatif terbatas. Tanda seperti bayi tampak lemas, jarang buang air kecil, mulut kering, atau sulit minum memerlukan perhatian segera.

Dalam kondisi yang lebih serius, infeksi Salmonella tidak hanya terbatas pada saluran pencernaan. Bakteri dapat menyebar ke dalam aliran darah dan menyebabkan sepsis, yaitu respons tubuh yang berat terhadap infeksi. Sepsis merupakan keadaan yang dapat mengancam nyawa dan membutuhkan penanganan medis secepat mungkin. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak menunggu gejala memburuk apabila bayi mengalami demam, muntah berulang, diare, atau tampak sangat lemah setelah mengonsumsi makanan berisiko.

Bayi baru lahir memerlukan perhatian khusus karena sistem kekebalan tubuhnya belum matang. Kemampuan tubuh untuk melawan kuman masih berkembang, sehingga infeksi yang mungkin ringan pada orang dewasa dapat berkembang menjadi kondisi serius pada neonatus. Pemberian telur kepada bayi perlu mengikuti anjuran tenaga kesehatan, dengan memastikan telur dimasak sempurna dan diolah secara higienis. Jika muncul tanda infeksi atau dehidrasi, bayi harus segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.

Larangan pemberian telur kepada bayi perlu dipahami secara tepat. Yang tidak dianjurkan adalah memberikan telur dalam keadaan mentah atau setengah matang, bukan menghindari telur untuk selamanya. Penjelasan ini penting agar orang tua tidak keliru menilai telur sebagai bahan makanan yang sepenuhnya berbahaya bagi bayi. Risiko yang menjadi perhatian terutama berkaitan dengan telur yang belum matang sempurna, sehingga penggunaannya perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi kematangan makanan tersebut.

Menurut penjelasan dr Johanes, telur tetap merupakan salah satu sumber protein yang baik. Karena itu, telur dapat diperkenalkan sebagai bagian dari makanan pendamping ASI ketika bayi berusia sekitar enam bulan. Kehadiran telur dalam menu MPASI dapat membantu menyediakan protein yang dibutuhkan sebagai bagian dari asupan makanan bayi. Dengan demikian, anjuran untuk tidak memberikan telur mentah atau setengah matang tidak berarti telur harus dikeluarkan dari pilihan makanan pendamping ASI.

Syarat utama yang perlu ditekankan adalah telur harus dimasak hingga matang sempurna. Kematangan tersebut berlaku pada seluruh bagian telur, baik putih maupun kuningnya. Telur yang masih mentah atau menyisakan bagian setengah matang tidak sesuai dengan anjuran untuk bayi. Sebaliknya, telur yang telah matang sempurna tetap dapat menjadi pilihan sumber protein dalam MPASI. Pemahaman ini membantu orang tua membedakan pembatasan terhadap cara penyajian telur dan larangan terhadap telur itu sendiri. Jadi, perhatian utama bukan pada penghindaran telur secara permanen, melainkan pada pemberian telur dalam kondisi matang sempurna sesuai penjelasan tersebut.

Dr Johanes tidak menyatakan bahwa kematian Alena secara langsung disebabkan oleh pemberian telur mentah. Pernyataan mengenai penyebab kematian tidak dapat dibuat hanya berdasarkan adanya informasi tersebut, karena hubungan konsumsi telur mentah dan kondisi yang dialami Alena masih memerlukan pemeriksaan medis. Tanpa pemeriksaan, dugaan tersebut tidak boleh diubah menjadi fakta.

Penentuan penyebab kematian membutuhkan penilaian medis yang menyeluruh dan didasarkan pada temuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, informasi mengenai telur mentah dalam kasus ini perlu dipahami secara hati-hati. Keterangan dr Johanes lebih tepat dipandang sebagai penjelasan mengenai risiko yang mungkin menyertai pemberian telur mentah kepada bayi, bukan sebagai penetapan penyebab kematian Alena.

Meski kaitan langsungnya belum dapat dipastikan, kasus ini menjadi pengingat bagi orang tua dan pengasuh untuk tidak memberikan telur mentah kepada bayi, terutama sebagai upaya untuk mengatasi demam. Praktik tersebut tidak seharusnya dilakukan berdasarkan anggapan bahwa telur mentah dapat menjadi penanganan bagi kondisi tersebut. Keputusan yang menyangkut kesehatan bayi perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat dan tidak didasarkan pada dugaan semata.

Dengan demikian, pemberian telur mentah dan kematian Alena tidak dapat dinyatakan memiliki hubungan sebab-akibat sebelum pemeriksaan medis memberikan kepastian. Sikap yang paling tepat adalah menjaga kehati-hatian dalam menyampaikan informasi, menghormati proses pemeriksaan, serta menjadikan kasus ini sebagai pengingat agar bayi tidak diberi telur mentah, tanpa menarik kesimpulan yang melampaui keterangan dan bukti yang tersedia.

Baca juga: Puspsi TNI Berikan Trauma Healing bagi Anak Penyintas Gempa Bumi NTT

Pos terkait