Samarinda | YS, balita berusia 1 tahun 2 bulan yang tinggal di Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, Samarinda, Kalimantan Timur, meninggal dunia setelah mengalami sesak napas. Kisah mengenai kondisi dan perjalanan perawatannya disampaikan oleh ibunya, Sindhy Jumatun (25), saat ditemui pada Jumat (16/10/2026). Peristiwa ini menjadi perhatian keluarga karena YS masih berusia sangat muda ketika mengalami gangguan pernapasan tersebut.
Sindhy menceritakan pengalaman itu sebagai bagian dari upaya keluarga menjelaskan apa yang dialami anaknya. Informasi yang disampaikan berpusat pada sesak napas yang dialami YS dan kabar bahwa balita tersebut kemudian meninggal dunia. Keterangan itu memberi gambaran mengenai peristiwa dari sudut pandang ibu, yang menyampaikan kisahnya kepada pihak yang menemuinya pada hari tersebut. Usia YS, yakni 1 tahun 2 bulan, serta tempat tinggalnya di wilayah Bukuan, Palaran, menjadi identitas utama yang diketahui dalam laporan ini.
Meski demikian, keterangan yang tersedia tidak menetapkan penyebab kematian YS. Sesak napas disebut sebagai kondisi yang dialami sebelum balita itu meninggal, tetapi hal tersebut tidak dengan sendirinya memastikan penyebab medisnya. Karena itu, informasi mengenai peristiwa ini perlu dipahami secara terbatas sesuai keterangan yang telah disampaikan, tanpa menambahkan dugaan tentang diagnosis, pemicu, ataupun detail perawatan yang belum dijelaskan. Kisah Sindhy mencatat pengalaman keluarga menghadapi kondisi anaknya, sementara penjelasan lebih lanjut mengenai penyebab kematian tidak dapat disimpulkan dari informasi tersebut.
Sindhy mengatakan YS mulai mengalami sesak napas sekitar sepekan sebelum meninggal. Pada awalnya, keluarga berupaya memahami perubahan kondisi tersebut dan memantau keadaan anaknya. Namun, keluhan itu tidak segera mereda. Sindhy melihat napas YS terasa semakin mengkhawatirkan, sehingga pada Kamis (8/10) ia membawa anaknya ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan.
Menurut penuturan Sindhy, hasil pemeriksaan saat itu menunjukkan kondisi YS masih normal. Saturasi oksigen anak tersebut juga disebut masih berada dalam batas normal. Ketika dokter memeriksa pernapasannya, Sindhy menyebut belum terdengar suara tambahan. Berdasarkan pemeriksaan awal itu, dokter menyampaikan kemungkinan YS hanya mengalami batuk atau pilek.
Keterangan tersebut menjadi gambaran mengenai kondisi YS pada kunjungan pertamanya ke rumah sakit. Pada saat itu, keluarga mendapatkan penjelasan yang mengarah pada keluhan pernapasan ringan, sementara sejumlah tanda yang diperiksa masih dinilai normal. Meski demikian, Sindhy tetap memperhatikan keadaan anaknya setelah kembali dari pemeriksaan tersebut.
Ia menuturkan bahwa kondisi YS tidak kunjung membaik. Dari hari ke hari, Sindhy justru melihat keadaan anaknya terus menurun. Sesak napas yang dialami sejak sekitar satu minggu sebelumnya menjadi keluhan yang terus diperhatikan keluarga, terutama karena perubahan kondisi itu terasa semakin jelas. Bagi Sindhy, perkembangan tersebut berbeda dari kesan awal ketika hasil pemeriksaan rumah sakit menunjukkan kondisi dan saturasi YS masih normal.
Dalam menceritakan perjalanan perawatan anaknya, Sindhy menekankan bahwa keputusan membawa YS ke rumah sakit telah dilakukan ketika keluhan sesak napas muncul. Pemeriksaan pertama memberikan keterangan awal mengenai kondisi anak tersebut, tetapi keluarga kemudian menyaksikan perubahan yang berlanjut. Perjalanan dari gejala awal hingga kondisi YS memburuk menjadi bagian penting dari cerita keluarga tentang upaya mencari pertolongan medis. Sindhy menyampaikan urutan kejadian itu sebagai pengalaman yang mereka lalui sebelum YS meninggal, termasuk pemeriksaan pada Kamis (8/10) dan perubahan kondisi yang diamatinya sesudahnya.
Pada Rabu (14/10), Sindhy membawa YS ke puskesmas untuk menjalani pemeriksaan. Menurut penuturannya, dokter yang memeriksa menemukan suara tambahan pada pernapasan anaknya. Dokter kemudian menyarankan agar YS dirawat inap. Setelah menerima saran tersebut, Sindhy membawa anaknya ke instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Ia berharap kondisi YS dapat diperiksa dan ditangani di rumah sakit, mengingat temuan pemeriksaan di puskesmas dan perubahan napas yang ia perhatikan.
Setibanya di IGD, Sindhy mengaku mendapat penjelasan bahwa kondisi YS masih normal. Namun, ia merasa pola napas anaknya berbeda dari biasanya dan tetap khawatir. Karena itu, Sindhy menghubungi dokter puskesmas untuk meminta surat rujukan agar YS dapat diperiksa di poli anak. Langkah tersebut ditempuh setelah penjelasan yang diterimanya di IGD belum menghilangkan kekhawatirannya. Sindhy ingin YS memperoleh pemeriksaan sesuai saran dokter puskesmas, sehingga ia kembali membawa anaknya ke IGD rumah sakit.
Setelah kembali ke IGD dengan surat rujukan, YS dipasangi infus dan menjalani nebulisasi. Sindhy menyampaikan bahwa setelah tindakan tersebut, anaknya kemudian mendapat kamar perawatan. Dalam keterangannya, ia mengatakan kondisi YS sempat terlihat membaik. Perbaikan itu, menurut Sindhy, tidak berlangsung hingga pagi. Sejak tengah malam, kondisi anaknya kembali memburuk dan terus menjadi perhatian keluarga sampai menjelang subuh.
Sindhy menuturkan bahwa pada rentang waktu tersebut, napas YS makin menjadi perhatian. Menjelang subuh, tubuh dan bibir anaknya disebut membiru sebelum napasnya berhenti. Urutan yang ia ceritakan dimulai dari pemeriksaan di puskesmas, berlanjut ke IGD dan pemeriksaan di poli anak melalui rujukan, lalu perawatan di rumah sakit. Kesaksian ini menggambarkan pengalaman keluarga selama mencari pemeriksaan dan perawatan, sebagaimana disampaikan ibu YS, tanpa menyimpulkan penyebab kondisi tersebut. Keterangan mengenai perubahan kondisi dari sempat membaik hingga memburuk kembali itu menjadi bagian dari kronologi yang disampaikan Sindhy tentang hari-hari terakhir perawatan anaknya.
Sindhy menyampaikan bahwa YS tidak memiliki riwayat penyakit pernapasan, termasuk asma. Menurut penuturannya, sebelum mengalami sesak napas, anaknya tidak pernah didiagnosis mengidap gangguan pernapasan tersebut. Keterangan ini disampaikan keluarga untuk menjelaskan kondisi kesehatan YS yang mereka ketahui selama ini. Sindhy juga menyebut YS memiliki kondisi bawaan berupa keterlambatan tumbuh kembang dan peradangan pada mata. Kedua kondisi itu menjadi bagian dari riwayat kesehatan anak yang selama ini diperhatikan keluarga, tetapi bukan berarti keluarga mengaitkannya secara langsung dengan kejadian sesak napas yang dialami YS.
Untuk memantau kondisi anaknya, Sindhy mengatakan YS rutin dibawa menjalani kontrol setiap dua minggu. Jadwal pemeriksaan berkala tersebut telah dilakukan sejak YS berusia sekitar tujuh atau delapan bulan. Dengan membawa YS ke layanan kesehatan secara teratur, keluarga berupaya mengikuti perkembangan kondisinya dan memperoleh pemantauan. Sindhy tidak merinci apakah kunjungan tersebut ditujukan khusus untuk keterlambatan tumbuh kembang, peradangan mata, atau kebutuhan pemeriksaan lainnya. Namun, ia menjelaskan bahwa kontrol dua mingguan telah menjadi bagian dari perawatan YS sejak usia dini. Riwayat kontrol itu juga memberi gambaran mengenai upaya keluarga dalam mendampingi perawatan anaknya.
Sindhy turut menceritakan keadaan lingkungan di sekitar rumah. Ia mengatakan abu berwarna hitam yang diduga berasal dari kebakaran lahan kerap terlihat pada pagi hari. Menurut keterangannya, asap juga sampai ke lingkungan tempat tinggal keluarga. Meski demikian, Sindhy tidak memastikan apakah paparan asap tersebut berkaitan dengan sesak napas yang dialami YS. Keterangan tentang abu dan asap itu merupakan pengamatan keluarga terhadap kondisi sekitar rumah, bukan penetapan penyebab gangguan kesehatan. Belum ada dasar dari pernyataan Sindhy untuk menyimpulkan bahwa asap menjadi pemicu kondisi YS. Karena itu, kondisi lingkungan dan riwayat kesehatan anak perlu dipahami sebagai informasi yang disampaikan keluarga, tanpa menganggap keduanya memiliki hubungan sebab-akibat yang telah terbukti.
Baca juga: Investigasi Kecelakaan Minibus Keluarga di Kali Cikumpa | Kenangan Terakhir Imam Soeparno dan Keluarga Korban KM Virgo Transport 8 | Dewa United Mengincar Poin Penting di Samarinda









