Jakarta | Ambisi menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia menuntut pembaruan yang menyeluruh, bukan sekadar mengejar kenaikan jumlah hasil panen. Produksi tetap menjadi fondasi penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan memperkuat pasokan, tetapi angka produksi saja belum menggambarkan kesiapan sistem pangan. Negara juga perlu memastikan hasil pertanian dapat diproduksi secara konsisten, dikelola dengan efisien, serta mampu menjawab perubahan kebutuhan dan tantangan di masa depan. Karena itu, upaya menuju ketahanan pangan perlu menghubungkan kebijakan, pengetahuan, teknologi, dan kapasitas petani dalam satu arah pembangunan yang saling mendukung.
Pada peringatan World Food Day, Jumat, 30 Oktober 2026, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menekankan bahwa peningkatan produksi saja tidak cukup untuk mencapai cita-cita tersebut. Riset, teknologi, mekanisasi, dan pengawasan pertanian juga diperlukan. Penekanan ini menunjukkan bahwa produktivitas perlu dibangun melalui proses yang lebih kuat, mulai dari pengembangan pengetahuan hingga penerapan praktik yang tepat di lapangan. Riset dapat membantu menemukan pendekatan yang sesuai dengan kondisi pertanian, sementara teknologi dan mekanisasi berpotensi mendukung pekerjaan agar lebih efektif. Pengawasan diperlukan agar pelaksanaan program dan pengelolaan pertanian berjalan secara terarah.
Keempat unsur itu saling melengkapi. Hasil riset akan lebih berguna ketika dapat diterapkan melalui teknologi yang mudah dijangkau dan sesuai kebutuhan petani. Mekanisasi dapat membantu meningkatkan efisiensi kerja, tetapi penerapannya perlu mempertimbangkan kondisi usaha tani dan kemampuan pengguna. Sementara itu, pengawasan dapat membantu memastikan dukungan serta kebijakan benar-benar menjawab kebutuhan sektor pertanian. Dengan pembaruan yang dirancang secara terpadu, Indonesia dapat membangun dasar yang lebih kokoh bagi peningkatan produktivitas dan keberlanjutan pasokan pangan. Ambisi sebagai lumbung pangan dunia, dengan demikian, perlu ditempuh melalui penguatan seluruh ekosistem pertanian, bukan hanya target panen yang lebih tinggi.
Dalam upaya meningkatkan produktivitas pertanian, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menekankan pentingnya penelitian dan pengembangan varietas padi baru. Menurut pandangannya, pembaruan varietas merupakan pekerjaan mendasar karena kemampuan produksi tidak hanya ditentukan oleh luas lahan, ketersediaan sarana, atau tata kelola budidaya. Benih yang digunakan petani juga berpengaruh terhadap hasil panen dan kecocokan tanaman dengan lingkungan tempat padi dibudidayakan. Karena itu, peningkatan produksi perlu ditopang perhatian pada inovasi varietas yang sesuai dengan kebutuhan pertanian Indonesia.
Zulkifli Hasan menyebut varietas padi yang digunakan saat ini sebagai peninggalan era pemerintahan Soeharto. Pernyataan tersebut menyoroti perlunya meninjau kembali pilihan varietas yang tersedia, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan yang lebih sesuai dengan keadaan pertanian masa kini. Ia menyatakan bahwa kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) diperlukan dalam upaya tersebut. Kolaborasi ini dipandang penting agar perhatian terhadap riset dan inovasi dapat mendukung pencarian varietas yang lebih relevan, tanpa mengabaikan kondisi nyata yang dihadapi petani di berbagai wilayah.
Pengembangan varietas baru juga perlu mempertimbangkan keragaman karakteristik lahan di Indonesia. Kondisi tanah, ketersediaan air, lingkungan sekitar, dan pola budidaya dapat berbeda satu daerah dengan daerah lain. Oleh sebab itu, satu varietas belum tentu memberikan kecocokan yang sama ketika ditanam pada semua jenis lahan. Perhatian khusus perlu diberikan pada lahan dengan kondisi tertentu, termasuk lahan air payau, sehingga kebutuhan budidaya di lokasi tersebut tidak disamakan begitu saja dengan lahan sawah pada umumnya. Penyesuaian varietas terhadap karakter lahan dapat menjadi pertimbangan penting dalam merancang pengembangan benih padi.
Pendekatan yang memperhitungkan perbedaan wilayah berpotensi membuat upaya peningkatan produktivitas lebih terarah. Penelitian varietas dapat diarahkan untuk memahami kebutuhan lahan dan petani, sementara kerja sama dengan BRIN menjadi bagian dari perhatian terhadap kapasitas riset nasional. Dengan menempatkan pembaruan varietas sebagai pekerjaan mendasar, pembicaraan mengenai ketahanan pangan tidak hanya berfokus pada jumlah produksi, tetapi juga pada kesesuaian benih dengan lingkungan tanam. Gagasan ini menegaskan perlunya pengembangan padi yang mempertimbangkan keragaman kondisi pertanian Indonesia secara cermat dan berkelanjutan.
Modernisasi pengelolaan pupuk dapat menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mengendalikan biaya produksi. Salah satu usulan yang disampaikan Zulkifli adalah penggunaan pupuk berbentuk tablet, disertai sistem sirkulasi air yang lebih terkelola. Pendekatan ini ditujukan agar unsur pupuk tetap tersedia bagi tanaman dan tidak mudah terbawa aliran air yang kemudian dibuang dari lahan. Dengan demikian, pemupukan dapat diarahkan lebih tepat dan kehilangan pupuk berkurang.
Dalam praktiknya, pupuk yang larut atau terbawa air dapat menyebabkan petani perlu menambahkan pupuk lagi untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Sistem sirkulasi memungkinkan air digunakan kembali, sehingga pupuk yang masih terkandung di dalamnya tidak langsung terbuang. Tablet pupuk juga dapat mendukung pemberian unsur hara secara lebih terkendali, sesuai dengan tata kelola lahan dan kebutuhan tanaman. Menurut Zulkifli, cara tersebut berpotensi membuat pemakaian pupuk lebih efektif dan murah, sekaligus mengurangi kebutuhan pupuk. Usulan ini menekankan efisiensi penggunaan sumber daya, bukan sekadar penambahan input pertanian.
Pengelolaan pupuk yang lebih efisien perlu berjalan bersama percepatan mekanisasi pertanian. Penggunaan mesin dapat membantu mengatasi keterbatasan tenaga kerja dan mempercepat kegiatan budidaya, terutama pada tahapan yang membutuhkan banyak pekerja. Zulkifli membandingkan kebutuhan 24 orang untuk menanam padi di lahan seluas satu hektare dengan kemampuan satu mesin yang dapat menangani 24 hektare dalam sehari. Perbandingan tersebut menggambarkan skala kapasitas yang ia sampaikan, bukan ukuran yang harus dianggap berlaku untuk setiap lahan atau kondisi pertanian.
Karena itu, pengembangan mekanisasi perlu disesuaikan dengan kebutuhan petani, karakteristik wilayah, dan ketersediaan layanan pendukung. Mesin akan lebih bermanfaat apabila petani dapat mengaksesnya, memperoleh pelatihan pengoperasian, dan mendapatkan perawatan yang memadai. Kombinasi pupuk yang digunakan secara lebih hemat dan mekanisasi yang tepat dapat membantu memperbaiki efisiensi usaha tani. Langkah ini juga mendukung peningkatan produktivitas tanpa mengabaikan pengelolaan air, biaya, serta kondisi kerja di lapangan. Dengan penerapan yang terencana, pembaruan teknologi dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas produksi pangan Indonesia.Selain dukungan terhadap produksi, pemerintah perlu menyiapkan teknologi untuk mengawasi kegiatan pertanian dan memastikan setiap proses berjalan lebih optimal. Pengawasan yang baik membantu memberi gambaran mengenai pelaksanaan program, kondisi lahan, serta perkembangan kegiatan di lapangan. Dengan informasi yang memadai, kendala dapat diketahui dan ditangani secara lebih terarah, sementara pelaksanaan kebijakan dapat ditinjau secara berkala. Teknologi dalam konteks ini bukan sekadar perangkat, melainkan bagian dari tata kelola yang menghubungkan perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan. Kesiapan sistem tersebut penting agar upaya memperkuat sektor pangan didukung proses yang terukur, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Zulkifli menyebut pengawasan dan kepastian sebagai bagian dari persiapan jangka panjang menuju ambisi Indonesia menjadi lumbung pangan dunia. Kepastian diperlukan agar berbagai pihak memahami arah pelaksanaan serta peran masing-masing dalam mendukung pertanian. Sementara itu, pengawasan membantu memastikan bahwa langkah yang direncanakan benar-benar berlangsung sesuai kebutuhan dan dapat dievaluasi. Teknologi dapat mendukung kedua hal tersebut melalui pengumpulan dan pemanfaatan informasi yang relevan, sehingga pemerintah memiliki dasar yang lebih kuat untuk melihat kemajuan maupun persoalan. Penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi wilayah dan kemampuan pelaksana, agar sistem yang disiapkan berguna dalam praktik, bukan hanya menjadi rencana di atas kertas.
Persiapan ini juga menuntut koordinasi pemerintah, pelaku pertanian, dan pihak yang mengelola teknologi. Data dan mekanisme pemantauan perlu digunakan secara konsisten, disertai kejelasan mengenai tindak lanjut ketika ditemukan hambatan.
Baca juga: Kompetisi Padelpreneur Cup: Membangun Jaringan Pengusaha Muda di Jatim | Revitalisasi Anak Kali Krukut: Strategi Terpadu Tanpa Penggusuran | Strategi Digital Terpadu Telkom untuk Masa Depan








