Kabupaten Pidie | Tim gabungan Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Direktorat Jenderal Bea Cukai membongkar sebuah laboratorium narkotika rahasia di Kabupaten Pidie, Aceh. Lokasi tersebut berada di dua ruko di kawasan Mutiara Timur. Pengungkapan ini menunjukkan bahwa bangunan yang tampak seperti tempat usaha biasa dapat digunakan untuk kegiatan produksi narkotika secara tersembunyi. Berdasarkan informasi yang disampaikan, fasilitas itu dimanfaatkan untuk mengolah sabu cair menjadi sabu yang siap diedarkan. Keberadaan beberapa lembaga dalam operasi tersebut mencerminkan koordinasi lintas instansi dalam penindakan dan pemeriksaan lokasi. Ruko-ruko itu menjadi pusat perhatian setelah petugas melakukan pengungkapan, sementara rincian mengenai proses penanganan di dalamnya bergantung pada hasil pemeriksaan lebih lanjut.
Dari sisi luar, bangunan tersebut terlihat seperti deretan ruko biasa dan tidak langsung memperlihatkan fungsi sebenarnya. Namun, bagian depan lokasi telah dipasangi garis polisi setelah pengungkapan dilakukan. Pembatas itu menandai area yang sedang berada dalam penanganan petugas dan membantu menjaga lokasi selama pemeriksaan berlangsung. Perbedaan tampilan luar yang umum dan penggunaan ruang di dalamnya menjadi salah satu gambaran penting dari temuan di Pidie. Informasi yang tersedia menyebut dua unit ruko di kawasan Mutiara Timur, tetapi tidak merinci identitas usaha yang mungkin pernah terlihat dari luar. Karena itu, kondisi bangunan dapat dijelaskan sebatas tampilan fisik yang dilaporkan, tanpa menyimpulkan bahwa seluruh ruko di sekitarnya berkaitan dengan kegiatan tersebut.
Di bagian dalam, ruangan-ruangan digunakan untuk tahapan produksi, dengan peralatan dan bahan kimia memenuhi area laboratorium. Susunan ruang dan perlengkapan itu menggambarkan bahwa tempat tersebut bukan sekadar lokasi penyimpanan, melainkan fasilitas untuk mengolah bahan hingga menjadi produk siap edar. Petugas perlu memeriksa setiap bagian bangunan, termasuk peralatan dan bahan yang ditemukan, sebagai bagian dari penyelidikan. Pengolahan sabu cair menjadi sabu siap edar juga menegaskan pentingnya pemeriksaan terhadap bahan serta proses yang berlangsung di lokasi. Rincian mengenai jenis peralatan, jumlah bahan, maupun kapasitas produksi tidak disebutkan dalam informasi yang tersedia. Temuan ini tetap memperlihatkan bagaimana dua ruko di Pidie diduga dialihfungsikan secara tersembunyi, sementara proses hukum dan pemeriksaan atas barang bukti menjadi bagian penting penanganan kasus.
Barang bukti yang terlihat di lokasi pengungkapan laboratorium narkotika di Pidie menunjukkan adanya sejumlah perlengkapan dan bahan yang diduga digunakan dalam kegiatan pengolahan sabu. Di antaranya terdapat persediaan sabu dalam bentuk cair, tabung gas, kompor, alat penyinaran, mesin pendingin, timbangan, serta beberapa ember. Petugas juga menemukan paket sabu yang telah dikemas. Keberadaan berbagai barang tersebut menjadi bagian dari penyelidikan untuk mengetahui fungsi masing-masing peralatan dan bagaimana tempat itu diduga dioperasikan.
Dalam operasi gabungan, aparat menyita sekitar 1,2 ton sabu dan mengamankan sejumlah orang yang berada di lokasi. Jumlah sitaan tersebut menempatkan pengungkapan ini sebagai operasi besar, sementara pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk memastikan asal bahan, proses produksi, serta jalur distribusinya. Barang-barang yang ditemukan akan diteliti lebih lanjut sebagai barang bukti, termasuk untuk membantu mengungkap peran orang-orang yang diamankan dan kemungkinan keterlibatan pihak lain.
Polisi menduga kuat laboratorium tersebut terafiliasi dengan jaringan narkoba internasional lintas negara yang melibatkan sindikat asal China, Malaysia, dan Indonesia. Namun, keterkaitan itu masih merupakan dugaan yang perlu dibuktikan melalui penyidikan, pemeriksaan barang bukti, serta penelusuran hubungan komunikasi dan transaksi. Karena itu, penyebutan negara-negara tersebut belum dapat diperlakukan sebagai kepastian mengenai asal seluruh pelaku ataupun kepemilikan laboratorium. Penegak hukum perlu mengonfirmasi setiap mata rantai sebelum menyimpulkan struktur jaringan dan pembagian perannya.
Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto mengecek lokasi pengungkapan. Keterangan waktu dokumentasi yang diterima menyebutkan bahwa dokumentasi tersebut diterima pada Jumat, 23 Oktober 2026. Pemeriksaan langsung di lokasi menjadi bagian dari perhatian terhadap penanganan kasus dan proses pengumpulan bukti. Selanjutnya, penyidik diharapkan menguji temuan secara menyeluruh, mencocokkan keterangan para pihak, serta menelusuri kemungkinan hubungan dengan operasi ketamin di Belawan. Informasi tentang sitaan dan dugaan jaringan perlu disampaikan secara cermat, dengan membedakan fakta yang telah terkonfirmasi dari hal-hal yang masih dalam penyelidikan.
Sebelum menuju Pidie, Suyudi terlebih dahulu memimpin konferensi pers mengenai pengungkapan penyelundupan ketamin di Sumatera Utara. Kasus tersebut berawal dari kapal MT Global 168 yang dicurigai membawa narkotika dan kemudian dicegat dalam operasi gabungan di perairan Tanjungbalai Asahan. Setelah diamankan, kapal dikawal menuju dermaga Pelindo Bandar Deli, Belawan. Di lokasi itu, petugas melakukan pemeriksaan dan menyampaikan hasil penindakan kepada publik. Barang bukti yang ditemukan berupa 1,16 ton ketamin HCl, dengan nilai yang diperkirakan mencapai Rp3,48 triliun. Pengungkapan ini menjadi bagian penting dari rangkaian operasi sebelum agenda Suyudi di Pidie.
Menurut kronologi yang tersedia, pergerakan kapal lebih dahulu menjadi perhatian intelijen karena terdeteksi anomali pada rutenya. MT Global 168 melintasi Selat Malaka setelah bergerak melalui Laut Andaman, pola perjalanan yang mendorong aparat melakukan pemantauan lebih lanjut. Informasi tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan persiapan intersepsi oleh tim gabungan Badan Narkotika Nasional, Bea Cukai, dan Bareskrim Polri. Pada Senin, 19 Oktober, petugas berkumpul di Kuala Tanjung untuk menyiapkan operasi laut. Dua kapal patroli, yakni BC 20006 dan KP Murai 4018, digunakan dalam upaya mencegat kapal yang dicurigai tersebut. Koordinasi antarlembaga diperlukan agar pengawasan dan tindakan di laut dapat dilakukan secara terarah.
Tim gabungan kemudian mencegat MT Global 168 di perairan Tanjungbalai Asahan. Kapal itu selanjutnya dikawal menuju Belawan untuk menjalani pemeriksaan lebih menyeluruh di dermaga Pelindo Bandar Deli. Dalam penggeledahan, petugas menemukan 58 karung berisi ketamin HCl dengan berat keseluruhan 1,16 ton. Selain muatan tersebut, kapal MT Global 168 dan 14 unit ponsel turut diamankan sebagai barang bukti. Nilai ketamin yang diungkap dalam kasus ini disebut mencapai Rp3,48 triliun. Rangkaian tindakan—mulai dari deteksi anomali rute, persiapan di Kuala Tanjung, intersepsi di laut, hingga pemeriksaan di Belawan—menunjukkan tahapan penanganan perkara yang dijelaskan dalam konferensi pers. Informasi itu disampaikan Suyudi sebelum ia melanjutkan perjalanan ke Pidie.
Aparat meringkus delapan kru kapal dalam operasi ketamin di Belawan. Komposisi awak yang diamankan terdiri atas tujuh warga negara Indonesia dan satu warga negara asing asal Taiwan. Informasi mengenai jumlah, kewarganegaraan, serta peran para kru tersebut disampaikan Suyudi dalam pemaparan terkait pengungkapan ini. Rincian tersebut menggambarkan susunan awak kapal berdasarkan jabatan yang mereka emban, dari posisi nakhoda hingga awak yang bertugas sebagai able seaman.
Suyudi menyebut IC bertugas sebagai nakhoda atau kapten kapal. Dalam susunan kru yang dipaparkan, posisi chief officer diemban oleh RS, sedangkan JA tercatat sebagai chief engineer. IAE disebut bertugas sebagai masinis dua. Peran-peran tersebut merupakan bagian dari pembagian jabatan awak kapal yang dijelaskan dalam keterangan Suyudi, tanpa mengubah jumlah keseluruhan kru yang diamankan maupun komposisi kewarganegaraan yang disampaikan.
Selain posisi tersebut, JMR disebut bertugas sebagai oiler. Sementara itu, tiga awak lainnya, yakni RF, DPB, dan YCY, berperan sebagai able seaman. Dengan demikian, daftar yang dipaparkan mencakup delapan orang: IC, RS, JA, IAE, JMR, RF, DPB, dan YCY. Suyudi mengaitkan setiap nama dengan jabatan masing-masing, sehingga informasi mengenai kru disampaikan melalui identifikasi peran di kapal.
Baca juga: Pengungkapan Kasus Pencurian Kendaraan di Tangerang | Operasi Gaktib Wira Clurit Digelar di Makodim Probolinggo, Polisi Militer Periksa Kendaraan Prajurit | TNI dan APH Bersinergi Cegah Penyalahgunaan Narkotika di Rutan Barabai








