Jakarta | Polisi berupaya membubarkan massa demonstrasi di Jakarta pada Rabu malam, 28 Oktober 2026, setelah sebagian peserta aksi masih bertahan di kawasan Bundaran HI. Upaya pembubaran berlangsung sekitar pukul 19.20 WIB, ketika hujan deras mengguyur lokasi. Situasi di lapangan menjadi tegang karena massa belum sepenuhnya meninggalkan area aksi, sementara aparat berusaha mengakhiri kerumunan. Hujan menambah tantangan bagi kedua pihak dan membuat keadaan di sekitar lokasi terasa semakin tidak kondusif. Pada saat itu, pembubaran tidak berlangsung dalam suasana yang sepenuhnya tertib.
Kericuhan sempat mewarnai proses tersebut. Massa yang masih berada di lokasi belum bergerak seluruhnya, sehingga upaya aparat untuk membubarkan mereka berlangsung di tengah kondisi yang berubah-ubah. Hujan deras turut membatasi jarak pandang dan menyulitkan pergerakan di area terbuka, meskipun tidak tersedia keterangan lebih lanjut mengenai dampak langsungnya terhadap peserta maupun petugas. Situasi ini memperlihatkan ketegangan upaya mengosongkan kawasan dan keberadaan demonstran yang belum beranjak. Rangkaian kejadian berlangsung cepat, namun belum ada rincian terverifikasi mengenai penyebab khusus kericuhan atau tindakan tertentu yang dilakukan masing-masing pihak.
Pada tahap tersebut, perhatian utama tertuju pada proses pembubaran dan kondisi massa yang masih bertahan. Tidak semua peserta diketahui telah meninggalkan Bundaran HI ketika polisi mulai melakukan upaya itu. Karena itu, keadaan tetap rawan berubah selama kerumunan masih berada di sekitar lokasi dan hujan terus turun. Informasi yang tersedia hanya menyebut adanya kericuhan, tanpa menjelaskan apakah terdapat korban, penangkapan, atau kerusakan. Perkembangan lebih lanjut perlu dikonfirmasi melalui keterangan resmi dan laporan lapangan yang dapat dipastikan. Hingga rincian tersebut tersedia, gambaran yang dapat disampaikan adalah pembubaran pada malam hari itu berlangsung tegang, di tengah hujan deras, ketika sebagian massa belum meninggalkan kawasan aksi.
Sebelum situasi di Bundaran HI semakin tegang, sejumlah orang masih bertahan di lokasi meskipun upaya pembubaran sedang berlangsung. Mereka tidak langsung meninggalkan area dan tetap berada di sekitar massa yang berkumpul. Di tengah hujan, perhatian tertuju pada orang-orang yang membawa kayu serta gerakan di kerumunan. Keadaan tersebut membuat suasana di lokasi tampak tidak sepenuhnya mereda, sementara petugas kepolisian berada di hadapan massa. Gambaran ini menunjukkan bahwa pembubaran berlangsung dalam situasi yang masih dinamis, tanpa cukup informasi untuk memastikan bagaimana ketegangan pertama kali muncul.
Dalam keadaan itu, botol terlihat dilemparkan ke arah petugas kepolisian. Lemparan tersebut menambah ketegangan yang telah terasa di lokasi, terutama karena masih ada orang yang bertahan sambil membawa kayu. Perhatian pada dua hal itu—keberadaan kayu dan botol yang mengarah kepada petugas—menjadi bagian penting dari gambaran sebelum situasi memanas. Namun, informasi yang tersedia tidak menjelaskan siapa yang lebih dahulu melakukan tindakan yang memicu kericuhan. Karena itu, uraian mengenai kejadian perlu tetap terbatas pada hal-hal yang terlihat dan dilaporkan, tanpa menetapkan pihak tertentu sebagai pemulai.
Hujan menjadi latar ketika orang-orang masih berada di kawasan bundaran dan petugas berupaya membubarkan massa. Keberadaan sejumlah orang yang belum beranjak, disertai botol yang dilemparkan ke arah polisi, menunjukkan bahwa keadaan belum sepenuhnya terkendali pada tahap tersebut. Meski demikian, tidak tersedia keterangan yang cukup untuk menjelaskan jumlah orang secara rinci, asal benda-benda yang dibawa, ataupun urutan lengkap peristiwa. Informasi tentang korban atau kerusakan juga tidak dapat dipastikan dari keterangan yang ada, sehingga tidak tepat untuk membuat klaim mengenai hal tersebut. Fokus pada kondisi yang diketahui membantu menjaga gambaran peristiwa tetap cermat dan netral: sebagian orang masih bertahan membawa kayu, sementara botol dilemparkan ke arah petugas di tengah hujan dan suasana yang kian tegang.
Suasana di Bundaran HI semakin memanas setelah polisi menembakkan gas air mata ke arah massa. Peristiwa itu terjadi ketika demonstran masih berada di lokasi, sementara hujan deras mengguyur kawasan tersebut. Situasi yang sebelumnya sudah tegang pun berkembang menjadi upaya pembubaran kerumunan oleh aparat. Urutan kejadian ini menunjukkan bahwa penembakan gas air mata mendahului tindakan polisi untuk memukul mundur demonstran, bukan sebaliknya.
Di tengah hujan, aparat kemudian bergerak memukul mundur massa yang masih bertahan. Langkah tersebut dilakukan untuk membubarkan kerumunan yang belum meninggalkan kawasan. Hujan deras menyertai proses itu, sehingga suasana pembubaran berlangsung dalam kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Meski demikian, informasi yang tersedia hanya menerangkan bahwa aparat mendorong massa mundur dan berupaya membubarkan mereka; tidak ada rincian tambahan yang dapat memastikan bagaimana setiap orang di lokasi merespons.
Rangkaian tersebut memperlihatkan peningkatan ketegangan dalam peristiwa di Bundaran HI: gas air mata ditembakkan lebih dahulu ke arah massa, lalu aparat memukul mundur demonstran yang tetap bertahan di tengah hujan deras. Penggambaran ini menjaga urutan peristiwa sebagaimana dilaporkan tanpa menyimpulkan jumlah tembakan, dampak gas air mata, atau tindakan lain yang tidak disebutkan. Fokusnya adalah perubahan situasi dari penembakan gas air mata menuju upaya pembubaran, dengan hujan deras sebagai keadaan yang menyertai proses tersebut. Karena itu, suasana tegang dan langkah aparat dalam membubarkan kerumunan menjadi inti dari kejadian yang dapat dipastikan berdasarkan keterangan yang tersedia.
Di tengah suasana tegang dan hujan yang mengguyur kawasan Bundaran HI, aparat kepolisian berulang kali meminta para demonstran membubarkan diri. Imbauan disampaikan melalui pengeras suara agar terdengar oleh massa yang masih berkumpul di sekitar lokasi. Petugas meminta peserta aksi mengakhiri kegiatan dan meninggalkan kawasan dengan tertib. Seruan tersebut disampaikan ketika hujan masih turun, sementara aparat berupaya mengarahkan massa untuk tidak bertahan lebih lama di area unjuk rasa. Situasi berlangsung dinamis, sehingga pesan yang sama kembali disampaikan kepada demonstran dari waktu ke waktu.
Melalui pengeras suara, polisi menyampaikan, “saya imbau teman-teman agar kembali ke rumah masing-masing,”. Petugas juga berulang kali meminta massa pulang dan membubarkan diri. Dalam imbauan itu, aparat mengingatkan para peserta bahwa mereka telah menyampaikan pendapat melalui aksi unjuk rasa. Karena itu, demonstran diminta mengakhiri kegiatan dan meninggalkan lokasi, bukan melanjutkan berkumpul di kawasan tersebut. Pesan yang berulang itu menjadi bagian dari upaya aparat untuk mendorong massa pulang secara tertib, terutama dalam kondisi hujan yang menyertai jalannya pembubaran.
Permintaan agar demonstran kembali ke rumah masing-masing disampaikan dengan nada tegas, tetapi tetap berupa imbauan kepada peserta aksi. Polisi meminta massa mengikuti arahan dan tidak berlama-lama di Bundaran HI setelah menyampaikan aspirasi. Pengingat mengenai hak menyampaikan pendapat juga disertai ajakan untuk mengakhiri unjuk rasa dan pulang. Dengan demikian, arahan aparat berpusat pada pembubaran massa secara tertib di tengah situasi yang tegang dan cuaca basah. Polisi kembali menyerukan agar demonstran mendengar instruksi, bergerak meninggalkan kawasan, serta menghindari kerumunan yang masih bertahan. Aparat meminta seluruh peserta aksi membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing.
Baca juga: Pemberian Fasilitas Baru untuk Jemaat GKPI di Rajeg setelah Insiden Pembubaran Ibadah









