Airlangga Yakin Rupiah Tak Menembus Rp19.000, Tekanan Pasar Masih Membayangi

Airlangga Yakin Rupiah Tak Menembus Rp19.000, Tekanan Pasar Masih Membayangi

Jakarta | Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan optimistis nilai tukar rupiah tidak akan melemah hingga menembus Rp19.000 per dolar Amerika Serikat. Ia menyampaikan pandangan tersebut kepada wartawan di Jakarta pada Rabu. Airlangga mengaitkan keyakinannya dengan kondisi makroekonomi Indonesia yang, menurut penilaiannya, masih relatif stabil. Pernyataan itu disampaikan saat rupiah berada dalam tekanan pasar, tetapi ia tetap menilai pelemahan hingga tingkat tersebut tidak akan terjadi.

Dalam keterangannya, Airlangga menekankan kondisi ekonomi makro Indonesia sebagai alasan utama di balik optimisme tersebut. Ia tidak menyampaikan bahwa tekanan terhadap rupiah telah berakhir, melainkan menyatakan keyakinan bahwa mata uang domestik tidak akan mencapai Rp19.000 per dolar AS. Dengan demikian, penilaiannya berfokus pada batas pelemahan yang disebutkan dan kondisi ekonomi yang dianggap masih relatif stabil. Pernyataan itu menjadi responsnya ketika ditanya wartawan mengenai kemungkinan rupiah menyentuh level tersebut.

Bacaan Lainnya

Optimisme yang disampaikan Airlangga merupakan pandangan pemerintah mengenai arah nilai tukar di tengah tekanan pasar yang masih membayangi. Namun, inti pernyataannya tetap pada keyakinan bahwa rupiah tidak akan menembus Rp19.000 per dolar AS, dengan kondisi makroekonomi yang dinilainya relatif stabil sebagai pertimbangan. Ia menyampaikan hal itu di Jakarta pada Rabu, tanpa menyebut dalam pernyataan tersebut bahwa tekanan pasar sudah hilang. Karena itu, keterangan Airlangga mencerminkan optimisme terhadap batas pelemahan rupiah, bukan pernyataan bahwa nilai tukar tidak sedang menghadapi tekanan.

Pada perdagangan Rabu, nilai tukar rupiah ditutup melemah 28 poin, atau sekitar 0,15 persen, menjadi Rp18.184 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp18.156 per dolar AS. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa mata uang Indonesia kehilangan sebagian nilainya terhadap dolar AS dalam satu sesi perdagangan. Dengan posisi penutupan di atas Rp18.180, rupiah bergerak semakin dekat dengan ambang Rp18.200 per dolar AS, meskipun belum mencapai level tersebut.

Bank Indonesia juga menerbitkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada sore hari yang sama. Angka JISDOR tercatat sebesar Rp18.183 per dolar AS. Nilai itu merupakan kurs referensi yang diterbitkan bank sentral, sedangkan Rp18.184 merupakan angka penutupan perdagangan rupiah yang dilaporkan untuk hari tersebut. Keduanya berada pada tingkat yang hampir sama, tetapi berasal dari ukuran dan pencatatan yang berbeda sehingga tidak tepat untuk diperlakukan sebagai satu angka atau saling menggantikan.

Selisih satu rupiah kurs penutupan dan JISDOR tidak mengubah gambaran utama pergerakan hari itu: rupiah melemah dan berada dekat Rp18.200 per dolar AS. Namun, angka penutupan maupun JISDOR hanya menggambarkan kondisi pada waktu dan berdasarkan metode masing-masing, bukan kepastian arah kurs pada sesi berikutnya. Perkembangan selanjutnya dapat berubah mengikuti dinamika perdagangan dan kondisi pasar. Karena itu, pembacaan data perlu menyebutkan secara jelas apakah angka yang digunakan merujuk pada penutupan perdagangan atau kurs referensi JISDOR. Ketelitian tersebut membantu pembaca membandingkan pergerakan rupiah dari hari ke hari tanpa mencampuradukkan dua indikator yang berbeda. Data Rabu ini memberi gambaran bahwa tekanan terhadap rupiah masih tampak dalam nilai tukar, sementara jaraknya ke Rp18.200 kian tipis. Meski demikian, level itu tetap merupakan batas yang didekati, bukan nilai yang tercatat pada penutupan hari tersebut.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah dan sejumlah mata uang kawasan masih dipengaruhi ketidakpastian global. Konflik di Timur Tengah yang belum menunjukkan kepastian penyelesaian membuat pelaku pasar terus mencermati perkembangan geopolitik. Situasi tersebut turut menjaga harga minyak tetap tinggi, yakni di atas 115 dolar AS per barel. Harga energi yang mahal dapat menambah tekanan terhadap perekonomian dan meningkatkan risiko fiskal ke depan, sehingga menjadi salah satu perhatian investor.

Tekanan juga datang dari perubahan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat. Pasar semakin memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga AS, yang dapat membuat aset berdenominasi dolar lebih menarik. Pada saat bersamaan, memburuknya sentimen risk-off mendorong penguatan dolar AS ketika investor mengurangi paparan terhadap aset berisiko. Kondisi ini berpotensi memicu arus keluar dana dari pasar negara berkembang, termasuk pasar keuangan di kawasan, serta mendorong kenaikan imbal hasil obligasi. Kombinasi faktor tersebut menambah tekanan terhadap mata uang regional, meskipun tingkat dampaknya dapat berbeda di setiap negara.

Dari sisi domestik, perhatian pasar tertuju pada kekhawatiran mengenai kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI. Ketidakpastian terkait isu tersebut dapat memengaruhi keputusan investor dan menambah kehati-hatian dalam menempatkan dana. Kebutuhan valuta asing yang meningkat menjelang akhir bulan juga menjadi faktor tambahan yang dapat menekan rupiah, seiring pelaku usaha memenuhi kebutuhan pembayaran dalam mata uang asing. Meski berbagai faktor eksternal dan domestik itu masih membayangi, Erwin menilai pergerakan rupiah secara umum tetap sejalan dengan mata uang kawasan. Dengan demikian, tekanan yang terjadi tidak hanya mencerminkan kondisi Indonesia, tetapi juga berkaitan dengan dinamika global dan perubahan sentimen investor terhadap pasar negara berkembang.

Tekanan terhadap rupiah masih tercermin dalam pergerakan nilai tukar selama September 2026. Secara bulanan, rupiah melemah 1,15 persen di tengah dinamika pasar yang terus berlangsung. Perkembangan tersebut menjadi bagian dari kondisi yang dihadapi Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar, sekaligus memastikan mekanisme pasar tetap berjalan. Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026. Angka ini menggambarkan posisi cadangan devisa pada penutupan bulan tersebut, ketika tekanan pasar masih membayangi pergerakan rupiah.

Dalam merespons perkembangan nilai tukar, BI menempuh langkah stabilisasi melalui sejumlah instrumen transaksi. Upaya itu mencakup transaksi non-deliverable forward (NDF), domestic non-deliverable forward (DNDF), dan spot. Penggunaan instrumen tersebut diarahkan untuk menjaga mekanisme pasar sekaligus mendukung kestabilan nilai tukar agar tetap sesuai dengan fundamental perekonomian. Selain transaksi valuta asing, BI juga melakukan pembelian surat berharga negara di pasar sekunder. Langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari upaya bank sentral dalam mengelola tekanan pasar dan menjaga pergerakan nilai tukar.

Pelaksanaan stabilisasi berlangsung dengan memperhatikan dinamika pasar dan kondisi yang berkembang. Melalui transaksi NDF, DNDF, dan spot, BI melakukan langkah di pasar valuta asing; sementara pembelian surat berharga negara dilakukan di pasar sekunder. Kedua jenis upaya itu menjadi bagian dari rangkaian kebijakan yang dijalankan untuk menjaga kestabilan rupiah dan mekanisme pasar, dengan tetap mengacu pada fundamental. Pada saat yang sama, komunikasi dengan berbagai pihak juga dilakukan sebagai bagian dari respons terhadap perkembangan pasar. Erwin menyampaikan bahwa BI terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, serta pihak terkait lainnya. Koordinasi tersebut menjadi bagian dari upaya BI dalam memantau perkembangan dan menjaga kelancaran komunikasi di tengah tekanan yang berlangsung. Dengan demikian, data pelemahan bulanan rupiah dan cadangan devisa akhir September menjadi konteks bagi rangkaian langkah stabilisasi serta koordinasi yang disampaikan BI.

Pos terkait