Nanang Hendarno Pimpin Telkom, Ini Rekam Jejak Karier dan Laporan Hartanya

Nanang Hendarno Pimpin Telkom, Ini Rekam Jejak Karier dan Laporan Hartanya

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 1 Oktober 2026, Nanang Hendarno resmi ditetapkan sebagai direktur utama PT Telkom yang baru pada Rabu, 30 September 2026. Penetapan tersebut menjadi bagian dari keputusan perusahaan dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB). Rapat itu membahas perombakan jajaran direksi Telkom, termasuk penetapan pemimpin baru untuk menduduki posisi tertinggi dalam struktur manajemen perusahaan.

Dalam keputusan RUPSLB tersebut, Nanang Hendarno menggantikan Dian Siswarini sebagai direktur utama PT Telkom. Dian sebelumnya menjabat posisi itu sejak Mei 2025. Pergantian ini menandai perubahan kepemimpinan di tingkat direksi setelah Nanang sebelumnya menjalankan tanggung jawab sebagai Direktur Network Telkom. Ia mulai mengemban jabatan tersebut pada Mei 2025, sebelum kemudian ditetapkan untuk memimpin perusahaan.

Bacaan Lainnya

Perubahan susunan direksi tersebut berlangsung bersamaan dengan penyesuaian susunan komisaris PT Telkom. Dalam susunan terbaru yang ditetapkan melalui RUPSLB, Ronald Silaban dan Silmy Karim tidak lagi tercantum sebagai komisaris PT Telkom. Dengan keputusan itu, rapat pemegang saham tidak hanya menetapkan Nanang Hendarno sebagai direktur utama, tetapi juga memperbarui komposisi jajaran pengawasan perusahaan. Rangkaian keputusan tersebut menjadi bagian dari penataan susunan kepengurusan Telkom yang diumumkan pada 30 September 2026.

Nanang Hendarno dikenal sebagai salah satu pejabat karier yang telah lama berkiprah di lingkungan PT Telkom. Perjalanan profesionalnya tidak terlepas dari perusahaan telekomunikasi milik pemerintah Indonesia tersebut, termasuk keterlibatannya dalam jajaran manajemen Grup Telkom. Sebagai orang lama di lingkungan Telkom, ia memiliki rekam jejak yang berkembang secara bertahap seiring dengan pengalaman dan tanggung jawab yang dijalankan di perusahaan.

Sebelum memasuki perjalanan kariernya di industri telekomunikasi, Nanang menempuh pendidikan tinggi di bidang teknik. Ia merupakan lulusan jurusan Teknik Elektro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, pada 1991. Pendidikan tersebut menjadi bagian awal dari latar belakang akademiknya, terutama dalam bidang yang berkaitan dengan teknologi, sistem, dan rekayasa. Kompetensi teknis itu kemudian menjadi bekal ketika ia mulai bergabung dengan PT Telkom.

Nanang melanjutkan pendidikan ke jenjang master di Delft University of Technology, Belanda. Pada 1997, ia meraih gelar master dalam bidang Space System Engineering. Bidang studi tersebut memperluas latar akademiknya dalam ranah rekayasa sistem, sekaligus melengkapi pendidikan Teknik Elektro yang sebelumnya ditempuh di ITS. Rangkaian pendidikan ini tercatat sebagai bagian penting dari profil profesionalnya sebelum menjalani tanggung jawab yang lebih besar di lingkungan Grup Telkom.

Setelah bergabung dengan PT Telkom, Nanang meniti karier di perusahaan yang berperan sebagai salah satu penyedia layanan telekomunikasi utama di Indonesia. Pengalamannya di lingkungan perusahaan tersebut berlanjut hingga ia masuk dalam jajaran direksi Grup Telkom sejak 2016. Posisi itu menandai keterlibatannya dalam level kepemimpinan grup, setelah sebelumnya dikenal sebagai bagian dari kalangan profesional yang memiliki perjalanan panjang di Telkom. Rekam pendidikan dan masa pengabdiannya di perusahaan menjadi dua unsur yang menyertai perkembangan karier Nanang di Grup Telkom.

Perjalanan karier Nanang Hendarno di lingkungan Telkom menunjukkan perkembangan jabatan yang berlangsung secara bertahap, dari posisi di tingkat divisi hingga memimpin perusahaan induk. Rekam jejak tersebut mulai terlihat jelas pada 2015, ketika ia ditunjuk sebagai Executive General Manager Divisi Service Operation PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Penunjukan ini menjadi salah satu tahap penting dalam perjalanan profesionalnya di lingkungan Telkom.

Setahun kemudian, pada 2016, Nanang dipercaya menjabat sebagai Chief of Technology PT Telekomunikasi Indonesia International. Ia menjalankan jabatan tersebut hingga 2022. Periode ini menempatkannya pada posisi di salah satu anak usaha Telkom sebelum kembali memperoleh kepercayaan untuk memimpin perusahaan lain dalam ekosistem yang sama. Urutan tersebut memperlihatkan perpindahan tanggung jawab Nanang dari fungsi operasional di perusahaan induk menuju peran teknologi di anak usaha.

Pada 2022, Nanang kemudian ditunjuk sebagai CEO PT Infrastruktur Telekomunikasi Indonesia. Ia menempati posisi tersebut sampai akhirnya ditarik ke perusahaan induk pada 2025. Perubahan ini menandai berlanjutnya perjalanan jabatan Nanang di lingkungan Telkom, dengan tanggung jawab yang kembali berada pada tingkat perusahaan induk setelah sebelumnya memimpin anak usaha.

Dalam perubahan susunan direksi Telkom pada Mei 2025, Nanang diangkat sebagai Direktur Network. Jabatan tersebut menjadi bagian dari struktur direksi Telkom yang dijalaninya setelah kembali ke perusahaan induk. Perkembangan berikutnya terjadi pada September 2026. Pada bulan tersebut, posisi Nanang kembali berubah setelah ia ditetapkan sebagai Direktur Utama PT Telkom. Dengan demikian, kronologi jabatannya mencakup peran sebagai Executive General Manager pada 2015, Chief of Technology pada 2016 hingga 2022, CEO pada 2022 hingga 2025, Direktur Network sejak Mei 2025, dan Direktur Utama mulai September 2026.

Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Nanang Hendarno menjadi bagian dari informasi yang perlu diperhatikan setelah ia memimpin jajaran direksi PT Telkom. Sebagai pejabat direksi pada badan usaha yang termasuk dalam cakupan kewajiban pelaporan, Nanang menyampaikan laporan kekayaannya sesuai ketentuan yang berlaku. Dokumen LHKPN tahun 2026 untuk periode pelaporan 2025 mencatat total kekayaan Nanang sebesar Rp43,4 miliar.

Dalam laporan tersebut, komponen dengan nilai terbesar tercatat sebagai kekayaan lainnya, yakni Rp19,4 miliar. Selain itu, Nanang memiliki enam aset tanah dan bangunan yang tersebar di Jakarta Selatan, Bandung, Surabaya, dan Sleman. Keseluruhan aset tanah dan bangunan itu dilaporkan dengan nilai total Rp10,2 miliar. Rincian tersebut menunjukkan jenis dan lokasi aset sebagaimana tercantum dalam dokumen LHKPN periode terkait.

Komponen kendaraan dalam laporan terdiri atas tiga mobil dengan nilai keseluruhan Rp2,4 miliar. Nanang juga melaporkan kepemilikan surat berharga senilai Rp112 juta. Setiap kategori aset dicantumkan dalam laporan sebagai bagian dari perhitungan total harta kekayaan yang disampaikan kepada lembaga berwenang.

Adapun kas dan setara kas yang tercatat dalam LHKPN tersebut mencapai Rp9,7 miliar. Dengan demikian, laporan itu memuat beberapa kelompok aset, yaitu kekayaan lainnya, tanah dan bangunan, kendaraan, surat berharga, serta kas dan setara kas. Nilai total Rp43,4 miliar merupakan angka yang dilaporkan untuk periode 2025 dalam dokumen LHKPN tahun 2026. Data tersebut menggambarkan rincian kekayaan yang wajib disampaikan Nanang dalam kapasitasnya sebagai pejabat direksi PT Telkom, tanpa mengubah jenis maupun nilai aset yang tercantum.

Pos terkait