Jakarta | Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan bahwa akses layanan kesehatan bagi penyandang disabilitas terus diperkuat melalui fasilitas kesehatan yang berada di bawah pengelolaan Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Menurut Pramono, fasilitas tersebut telah menerapkan layanan yang ramah disabilitas, sehingga kelompok yang membutuhkan aksesibilitas dapat memperoleh pelayanan secara lebih mudah, aman, dan setara.
Dalam pernyataannya, fasilitas yang disebut telah menerapkan layanan ramah disabilitas mencakup 31 rumah sakit umum daerah (RSUD) dan 336 puskesmas. Penerapan layanan itu mencerminkan upaya pemerintah daerah untuk memastikan kebutuhan penyandang disabilitas diperhatikan sejak proses kedatangan, pendaftaran, pemeriksaan, hingga memperoleh tindakan medis. Penyediaan akses yang sesuai juga menjadi bagian penting dari pelayanan publik yang tidak membatasi warga berdasarkan kondisi fisik maupun kebutuhan khusus.
Pramono juga menyampaikan cakupan fasilitas kesehatan lainnya dengan rincian 44 puskesmas, 31 rumah sakit, dan 292 puskesmas pembantu. Angka-angka tersebut disampaikan dalam pernyataannya sebagai bagian dari gambaran mengenai jaringan pelayanan kesehatan di Jakarta. Rincian itu dicatat sesuai dengan keterangan yang diberikan, tanpa mengubah perbedaan jumlah fasilitas yang disebutkan.
Melalui keterangan tersebut, Pramono menggambarkan Jakarta sebagai daerah yang memberikan layanan kesehatan secara penuh bagi kelompok yang membutuhkan aksesibilitas. Pernyataan ini menempatkan penyandang disabilitas sebagai bagian penting dari penerima layanan publik, sekaligus menegaskan bahwa fasilitas kesehatan pemerintah perlu terus menyediakan lingkungan pelayanan yang dapat dijangkau oleh seluruh warga. Layanan ramah disabilitas tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan fasilitas fisik, tetapi juga dengan kesiapan petugas, alur pelayanan, informasi, serta dukungan yang memungkinkan pasien menerima perawatan sesuai kebutuhannya.
Selain memperluas akses kesehatan dan pendidikan, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut dukungan lain bagi kelompok rentan melalui keberadaan 584 anggota Pasukan Putih. Informasi tersebut disampaikan saat Pramono membuka Special Kids Expo (Spekix) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) Senayan, Jakarta, pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan peran Pasukan Putih sebagai bagian dari upaya pemerintah menghadirkan pelayanan yang lebih dekat dengan masyarakat.
Pasukan Putih bertugas mendatangi kampung-kampung untuk memberikan pelayanan kepada warga lanjut usia, penyandang disabilitas, dan anak-anak berkebutuhan khusus. Kehadiran mereka di lingkungan permukiman diharapkan dapat mengurangi hambatan yang sering dihadapi warga ketika harus mendatangi fasilitas kesehatan. Dengan pendekatan langsung, petugas dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan warga sekaligus menghubungkan mereka dengan layanan yang sesuai.
Menurut Pramono, program tersebut mempermudah akses ketiga kelompok itu terhadap ambulans dan tenaga kesehatan. Layanan ini dinilai penting, terutama bagi warga yang mengalami keterbatasan mobilitas, memerlukan pendampingan, atau membutuhkan penanganan medis tanpa dapat melakukan perjalanan secara mandiri. Dukungan itu juga menjadi bentuk perhatian pemerintah terhadap kebutuhan kesehatan yang beragam di tingkat komunitas.
Pramono mengimbau masyarakat yang membutuhkan ambulans, dokter, maupun layanan terkait agar memanfaatkan program Pasukan Putih. Warga dapat menyampaikan kebutuhan mereka melalui saluran layanan pemerintah yang tersedia sehingga bantuan dapat dikoordinasikan dengan lebih cepat. Ia menekankan bahwa fasilitas tersebut disediakan untuk membantu masyarakat, termasuk lansia, penyandang disabilitas, dan anak berkebutuhan khusus, memperoleh pelayanan secara lebih mudah, aman, dan setara.
Anak berkebutuhan khusus yang memenuhi kriteria akan memperoleh kesempatan untuk mengakses beasiswa melalui program LPDP Jakarta. Program ini direncanakan menjadi bagian dari kerja sama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pemerintah pusat. Pelaksanaannya dijadwalkan mulai berjalan pada 2027, sehingga anak berkebutuhan khusus memiliki peluang yang lebih luas untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi melalui dukungan pembiayaan pendidikan.
Pramono menyebut jumlah penerima beasiswa tersebut diperkirakan berada pada kisaran 50 hingga 75 orang. Ia juga berharap sebagian penerima berasal dari kalangan anak berkebutuhan khusus. Pernyataan ini menunjukkan adanya upaya untuk memperluas akses pendidikan tinggi secara lebih inklusif, dengan tetap memberikan kesempatan kepada peserta yang memenuhi kriteria program. Para penerima dapat memilih perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri. Dukungan tersebut mencakup harapan pemerintah agar penerima beasiswa dapat melanjutkan pendidikan di luar negeri sesuai dengan pilihan perguruan tinggi yang dituju.
Selain melalui LPDP Jakarta, anak berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas juga dapat memanfaatkan jalur dukungan pendidikan melalui Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul. Program ini menjadi salah satu bentuk perhatian Pemerintah DKI Jakarta terhadap keberlanjutan pendidikan masyarakat, termasuk kelompok yang membutuhkan dukungan akses lebih besar. Beasiswa tersebut mencakup jenjang pendidikan S1, S2, hingga S3. Dengan tersedianya pilihan pada beberapa jenjang, dukungan ini dapat membantu penerima melanjutkan pendidikan sesuai tahapan akademik yang ditempuh. Perluasan akses melalui kedua program tersebut memperlihatkan arah kebijakan yang menempatkan pendidikan tinggi sebagai hak yang perlu dapat dijangkau oleh anak berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas.
Pramono menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkomitmen memperkuat dukungan bagi penyandang disabilitas, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus. Pesan tersebut disampaikan kepada Sri Hartati, atau yang akrab dipanggil Doti, penggagas Spekix, serta para orang tua dan pihak lain yang selama ini mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus. Dukungan pemerintah diarahkan pada pemenuhan kebutuhan yang bersifat mendasar, terutama akses terhadap layanan kesehatan dan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak.
Dalam kesempatan itu, Pramono menyampaikan keyakinannya dengan suara yang bergetar. Ia menyoroti perjuangan Doti selama tujuh tahun dalam menyediakan ruang bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan yang lebih terbuka, aman, dan mendukung perkembangan anak. Perjalanan itu juga menunjukkan bahwa pemenuhan hak penyandang disabilitas membutuhkan ketekunan, kolaborasi, serta perhatian berkelanjutan dari masyarakat dan pemerintah.
Pramono menyatakan bahwa Doti dan masyarakat yang selama ini mendukung anak-anak berkebutuhan khusus tidak lagi sendirian. Pemerintah DKI Jakarta, menurutnya, menyatakan kesungguhan untuk hadir dan memberikan dukungan terhadap upaya tersebut. Pernyataan itu mencakup perhatian pada akses kesehatan sekaligus perluasan peluang pendidikan, sehingga anak-anak berkebutuhan khusus dapat memperoleh layanan sesuai kebutuhannya dan kesempatan untuk berkembang. Pesan tersebut disampaikan sebagai bentuk penghargaan terhadap perjuangan Doti, sekaligus penegasan bahwa orang tua, komunitas, dan para pendukung anak berkebutuhan khusus memiliki mitra dalam pemerintah daerah.
Baca juga: Kualitas Udara Jakarta Hari Ini: Ancaman Kesehatan di Tengah Musim Kemarau | Meningkatkan Akses Pendidikan bagi Warga Kurang Mampu di Surabaya | Tingkatkan Literasi Kesehatan, Koramil Trucuk Bojonegoro dan Puskesmas Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis









