JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 18 September 2026, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, baru-baru ini menekankan pentingnya pengembangan hunian yang berbasis pada konsep transit-oriented development (TOD). Menurut beliau, TOD merupakan solusi strategis untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal yang terjangkau, sekaligus mengatasi permasalahan kemacetan dan ketidakberdayaan dalam transportasi perkotaan. Konsep TOD mengutamakan pengembangan hunian yang dekat dengan akses transportasi umum, seperti kereta api dan bus, yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat akan mobilitas yang lebih baik.
Dalam pernyataannya, Menteri PKP mengidentifikasi proyek TOD di Manggarai, Jakarta, sebagai contoh sukses yang dapat direplikasi di berbagai lokasi lain di Indonesia. Proyek tersebut tidak hanya menyediakan hunian terjangkau, tetapi juga meningkatkan aksesibilitas warga ke berbagai fasilitas publik. Dengan mengintegrasikan hunian dan transportasi, masyarakat akan lebih mudah mengeksplorasi peluang ekonomi serta sosial yang ada di sekitar mereka.
Lebih lanjut, Maruarar Sirait menegaskan bahwa pengembangan hunian berbasis TOD harus dilakukan secara berkelanjutan. Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, baik pemerintah daerah maupun swasta, sangat dibutuhkan untuk menciptakan model pembangunan yang inklusif dan efektif. Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan lebih banyak proyek TOD yang dapat dilaksanakan, menjangkau wilayah yang membutuhkan pengembangan infrastruktur hunian yang baik.
Pada akhirnya, kehadiran proyek TOD di Indonesia bukan hanya sekedar upaya untuk memenuhi kebutuhan pangan akan tempat tinggal, tetapi juga merupakan langkah menuju pembangunan kota yang lebih berkelanjutan. Dengan mengedepankan prinsip-prinsip cerdas dalam pengembangan hunian, diharapkan masyarakat dapat menikmati kehidupan yang lebih baik dan sinergis dengan sistem transportasi yang ada.
Pemerintah Indonesia, melalui Menteri Maruarar, telah mengumumkan rencana untuk mengadakan pertemuan dengan beberapa pihak terkait yang berpengaruh terhadap pengembangan proyek hunian berbasis Transit Oriented Development (TOD). Pertemuan ini direncanakan akan melibatkan Direksi PT Kereta Api Indonesia dan Bank Rakyat Indonesia. Dalam konteks hunian TOD, kolaborasi sektor publik dan swasta sangat penting, mengingat kebutuhan akan aksesibilitas yang baik serta pengembangan yang berkelanjutan.
Dengan mengajak PT Kereta Api Indonesia, diharapkan akan ada pemahaman yang lebih baik mengenai integrasi transportasi publik dengan pengembangan kawasan hunian. Kereta api sebagai moda transportasi massal memiliki peranan signifikan dalam mendukung mobilitas masyarakat dan meminimalisir kemacetan. Oleh karena itu, diskusi ini akan memfokuskan pada bagaimana hunian TOD dapat dibangun di sekitar stasiun kereta api yang ada, serta potensi pengembangan infrastruktur yang mendukung.
Di sisi lain, kehadiran Bank Rakyat Indonesia dalam pertemuan ini juga sangat strategis. Bank sebagai lembaga keuangan memiliki kapasitas untuk menyediakan pendanaan untuk proyek hunian ini. Pertemuan tersebut diharapkan dapat mendorong diskusi tentang skema pendanaan inovatif yang dapat digunakan untuk mempercepat pembangunan hunian TOD. Selain itu, kegagalan dalam mendanai proyek semacam ini sering kali menjadi kendala utama yang menghambat kemajuan, sehingga penting bagi pihak-pihak tersebut untuk menemukan solusi yang bisa diimplementasikan.
Rapat ini diharapkan tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga ruang untuk membangun kesepakatan yang lebih konkrit. Dengan adanya dukungan dari badan-badan terkait, diharapkan proyek hunian TOD ini dapat meluas dan diimplementasikan di berbagai daerah, sehingga tuntutan akan hunian yang terpadu dengan moda transportasi yang efisien dapat terpenuhi.
Pembangunan rumah susun subsidi di Indonesia menjadi salah satu fokus utama pemerintah, khususnya di daerah perkotaan. Ini merupakan bagian dari upaya untuk mengatasi permasalahan perumahan yang semakin mendesak, seiring dengan pertumbuhan populasi yang pesat dan urbanisasi yang terus meningkat. Maruarar Sirait, dalam penjelasannya, menekankan pentingnya pembangunan ini untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan hunian yang layak dan terjangkau.
Rumah susun subsidi dirancang untuk memberikan alternatif hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah, yang seringkali kesulitan untuk mendapatkan tempat tinggal di kawasan strategis. Dengan memanfaatkan aset-aset yang dimiliki negara, pemerintah dapat mempercepat proses pembangunan rumah susun ini. Program ini memerlukan partisipasi aktif dari berbagai pihak, termasuk dukungan dari perusahaan swasta yang memiliki keahlian di bidang konstruksi dan pengembangan properti.
Pembangunan rumah susun tidak hanya bertujuan untuk menyediakan tempat tinggal, tetapi juga untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan terintegrasi dengan fasilitas umum. Kehadiran rumah susun subsidi di perkotaan diharapkan mengurangi kepadatan penduduk di daerah pinggiran dan memberikan akses yang lebih baik bagi masyarakat terhadap layanan pendidikan, kesehatan, dan transportasi. Hal ini sejalan dengan tujuan pemerintah untuk mewujudkan hunian yang inklusif bagi semua lapisan masyarakat.
Secara keseluruhan, dengan adanya fokus pada pembangunan rumah susun di daerah perkotaan, diharapkan bisa mempercepat pencapaian target penyediaan hunian yang layak bagi masyarakat. Inisiatif ini juga merupakan langkah strategis untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia, dengan mengedepankan kolaborasi antar berbagai sektor untuk menciptakan solusi perumahan yang efektif dan efisien.
Pembangunan hunian berbasis Transit Oriented Development (TOD) di wilayah Manggarai evidencing the crucial role of collaboration between the government and the private sector in delivering affordable housing to the community. The integration of TOD principles aims to efficiently utilize land, reduce dependency on motorized transport, and enhance urban living conditions through better access to public transportation facilities. This approach not only promotes sustainable urban growth but also makes a significant impact on housing accessibility.
Bank Tabungan Negara (BTN) has pioneered a subsidized housing credit scheme to facilitate the development of vertical housing projects under the TOD framework. This initiative is designed to make homeownership more attainable for low- to middle-income families by providing favorable terms such as fixed interest rates and extended repayment periods. Such financial support is pivotal in enabling prospective homeowners to overcome financial barriers that may deter them from purchasing a home.
Additionally, the collaboration between the government and private developers allows for the establishment of comprehensive urban planning strategies. Collaborative efforts ensure that infrastructure developments, such as roads and public transportation systems, align with housing projects. This synergy maximizes the effectiveness of resources and promotes a holistic approach to urban growth, thereby enhancing the livability of urban areas.
Furthermore, the engagement of various stakeholders—including local communities, non-governmental organizations, and financial institutions—enriches the development process. By incorporating community input into housing projects, developers can better address the specific needs and preferences of residents, fostering greater acceptance and involvement in the projects. Overall, the collaborative framework established in the Manggarai TOD initiative serves as a valuable model for similar urban developments across Indonesia, showcasing the power of partnerships in achieving sustainable and accessible housing solutions.








