Diduga Cabuli Keponakan Dibawah Umur, Warga Ranuyoso Minta APH Segera Bertindak Tegas

Lumajang, Jawa Timur – Warga Kecamatan Ranuyoso, Kabupaten Lumajang, dihebohkan dengan dugaan kasus pencabulan yang diduga dilakukan oleh seorang pria berinisial T terhadap keponakannya sendiri yang masih berstatus pelajar SMA. Peristiwa ini menyulut kemarahan dan keresahan warga sekitar, terlebih karena belum ada langkah hukum tegas dari aparat berwenang (APH) hingga saat ini.

Kasus memilukan ini mencuat ke permukaan setelah korban, sebut saja N (16), tiba-tiba menghentikan aktivitas sekolahnya tanpa alasan yang jelas. Informasi dari warga menyebutkan bahwa N mengalami trauma berat diduga setelah mengalami tindakan bejat dari T, pria yang tak lain adalah paman iparnya sendiri.

Dari penelusuran di lapangan, N tinggal bersama nenek dan ibunya yang keduanya tengah menderita penyakit stroke. Kondisi tersebut membuat N tak memiliki perlindungan atau pengawasan yang memadai dari keluarga terdekatnya.

“Dia itu tinggal bertiga di rumah. Nenek dan ibunya sakit-sakitan. Anaknya jadi seperti tanpa perlindungan,” ungkap salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Menurut warga lainnya, sebut saja Jono, pelaku diduga sudah dua kali melakukan aksi tak bermoralnya kepada korban. Parahnya lagi, beredar kabar bahwa T diduga telah berusaha menutup kasus ini dengan cara ‘mengondisikan’ pihak-pihak tertentu agar kasus ini tidak diproses secara hukum.

“Informasi yang saya dengar, pelaku diduga sudah menghabiskan uang sampai lima puluh juta rupiah untuk meredam kasus ini agar tidak naik ke ranah hukum. Bahkan, sekarang dia diminta untuk pulang kampung, supaya kasus ini tidak mencuat ke publik,” kata Jono.

Kondisi korban pun semakin memprihatinkan. Sejumlah warga mengaku melihat perubahan drastis pada N, yang kini jarang keluar rumah dan tampak mengalami depresi berat.

“Kasihan sekali anak itu. Kalau keluar rumah, mukanya pucat, murung, seperti ketakutan terus,” tambah Jono.

Warga juga mengaku kecewa karena hingga kini belum ada upaya nyata dari pemerintah desa maupun aparat hukum untuk menangani kasus ini secara serius. Banyak yang menduga kasus ini sengaja ditutupi oleh pihak keluarga dan oknum tertentu di desa agar tidak mencemarkan nama baik keluarga atau lingkungan sekitar.

Dengan adanya kondisi tersebut, masyarakat berharap agar aparat penegak hukum segera mengambil langkah tegas untuk menyelidiki dan mengusut tuntas kasus ini. Mereka khawatir apabila pelaku terus dibiarkan bebas, maka bisa saja ada korban lainnya di kemudian hari.

“Kalau pelaku ini tetap bebas berkeliaran, saya dan warga lain sangat khawatir anak-anak kami jadi korban berikutnya,” pungkas Jono.

Kasus ini menjadi tamparan keras bagi semua pihak, khususnya dalam hal perlindungan anak di lingkungan pedesaan yang kerap kali luput dari pengawasan dan pendampingan yang memadai. Masyarakat berharap, keadilan bisa ditegakkan, dan pelaku bisa dihukum setimpal sesuai aturan hukum yang berlaku di Indonesia. (**)

Pos terkait