Kiki Ungkap Pernah Tertipu, OJK Ingatkan Modus Scam Berbasis AI

Kiki Ungkap Pernah Tertipu, OJK Ingatkan Modus Scam Berbasis AI

Jakarta | Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, yang akrab disapa Kiki, mengungkapkan bahwa dirinya pernah menjadi korban scam. Pengakuan tersebut disampaikan dalam konferensi pers OJK Digiclass Sekolah Rakyat di Cilandak, Jakarta Selatan, pada Selasa (27/10). Cerita itu menunjukkan bahwa pengalaman dan jabatan tidak serta-merta membuat seseorang kebal dari upaya penipuan.

Pengalaman Kiki menjadi pengingat bahwa scam dapat menyasar siapa saja, tanpa memandang latar belakang, tingkat pendidikan, maupun pemahaman seseorang tentang layanan keuangan. Pelaku penipuan kerap memanfaatkan situasi dan kepercayaan calon korban, sehingga pesan atau tawaran yang tampak meyakinkan tetap perlu diperiksa dengan cermat. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak langsung mengambil keputusan ketika menerima permintaan, informasi, atau ajakan yang terasa mendesak.

Bacaan Lainnya

Dalam menghadapi beragam modus, kewaspadaan perlu dimulai dari kebiasaan sederhana: berhenti sejenak, memeriksa kebenaran informasi, dan memastikan identitas pihak yang menghubungi. Masyarakat juga perlu menjaga data pribadi, termasuk kode verifikasi dan kata sandi, serta tidak membagikannya kepada orang lain. Jika suatu tawaran menjanjikan keuntungan yang tidak masuk akal atau meminta tindakan segera, kondisi tersebut patut menjadi alasan untuk lebih berhati-hati.

Kisah yang disampaikan Kiki menegaskan bahwa menjadi korban penipuan bukan semata-mata persoalan kurangnya pengetahuan. Modus dapat dirancang untuk membangun rasa percaya, menimbulkan kekhawatiran, atau membuat seseorang bertindak sebelum sempat mempertimbangkan risikonya. Oleh sebab itu, langkah pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman pribadi; kebiasaan memverifikasi informasi dan berdiskusi dengan pihak tepercaya juga dapat membantu mengurangi risiko.

Pengakuan tersebut sekaligus mengingatkan masyarakat agar tidak merasa terlalu aman dari scam. Setiap orang dapat menghadapi upaya penipuan, termasuk mereka yang memahami teknologi dan keuangan. Dengan bersikap tenang, memeriksa sumber informasi, serta tidak mengikuti instruksi mencurigakan secara tergesa-gesa, masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih hati-hati dan melindungi diri dari kerugian.

Kiki mengingatkan bahwa kemajuan kecerdasan buatan (AI) membuat pelaku penipuan semakin mudah meniru identitas seseorang di ruang digital. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk membuat pesan, suara, gambar, atau rekaman yang tampak meyakinkan, sehingga korban merasa sedang berkomunikasi dengan sosok yang dikenal. Peniruan tidak hanya menyasar figur publik atau pejabat, tetapi juga orang-orang dalam lingkaran pribadi. Karena itu, kemiripan nama, foto, suara, maupun gaya komunikasi tidak selalu menjadi bukti bahwa akun atau pesan tersebut benar-benar berasal dari orang yang bersangkutan.

Menurut Kiki, identitas Ketua Komisi Informasi Pusat RI Endoko, dirinya sendiri, hingga Menkomdigi Vivi dapat ditiru. Risiko yang sama berlaku bagi orang tua, anak, saudara, dan orang terdekat lainnya. Contohnya, seseorang bisa menerima pesan yang seolah dikirim oleh anggota keluarga, dengan permintaan mendesak atau cerita yang dirancang untuk menimbulkan kepanikan. Pelaku dapat menggunakan materi yang tersedia secara daring sebagai bahan, lalu menyusunnya agar komunikasi palsu terasa personal. Dalam situasi seperti ini, hubungan yang akrab justru dapat membuat penerima lebih cepat percaya dan bertindak sebelum memeriksa kebenarannya.

Dampaknya, masyarakat menghadapi tantangan yang semakin besar untuk membedakan sosok asli dan tiruan, terutama ketika interaksi berlangsung lewat aplikasi pesan atau media sosial. Penampilan yang autentik belum tentu menjamin bahwa informasi tersebut benar, sementara tekanan waktu dapat mendorong seseorang mengambil keputusan tanpa verifikasi. Kiki menekankan pentingnya memastikan sumber setiap informasi dan permintaan, khususnya jika ada arahan untuk mengirim uang, membagikan kode, atau memberikan data pribadi. Hubungi orang yang disebut melalui nomor atau kanal lain yang sudah diketahui, bukan hanya dengan membalas pesan mencurigakan. Periksa pula alamat akun, konteks permintaan, dan tanda-tanda ketidakwajaran. Jika permintaan mengatasnamakan pejabat atau lembaga, cocokkan dengan saluran resmi. Kebiasaan berhenti sejenak dan mengecek ulang dapat mengurangi risiko menjadi korban penipuan berbasis AI.

Kiki menyoroti bahwa penipuan tidak selalu dimulai dengan permintaan uang dalam jumlah besar. Salah satu modus yang perlu diwaspadai adalah tawaran pekerjaan daring dengan tugas sederhana, misalnya memberi tanda suka pada unggahan, mengikuti akun, atau menonton konten. Iming-iming bayaran untuk aktivitas yang tampak mudah dapat membuat tawaran tersebut terasa aman, terutama bagi orang yang sedang mencari penghasilan tambahan.

Dalam skema ini, pelaku bisa lebih dahulu mengirimkan sejumlah uang kepada calon korban. Pembayaran awal itu digunakan untuk membangun kepercayaan dan membuat pekerjaan terlihat sungguh-sungguh. Setelah korban merasa yakin, pelaku kemudian meminta transfer dana, misalnya dengan alasan perlu menyetor modal, membuka tugas lanjutan, atau memenuhi syarat agar memperoleh komisi yang lebih besar. Janji keuntungan tinggi menjadi daya tarik, tetapi justru dapat menjadi tanda bahaya. Korban yang sudah mengirim uang biasanya diminta membayar lagi, sementara bayaran yang dijanjikan tidak kunjung diterima.

Masyarakat sebaiknya tidak menyerahkan uang untuk mendapatkan pekerjaan atau komisi tanpa memeriksa pihak yang menawarkan. Telusuri identitas perusahaan melalui kanal resmi, cermati alamat situs dan akun yang digunakan, serta jangan membagikan data pribadi, kode verifikasi, atau informasi perbankan. Jika tawaran mengharuskan transfer segera, menjanjikan keuntungan tidak masuk akal, atau menekan penerima agar bertindak cepat, hentikan komunikasi dan lakukan verifikasi secara mandiri.

Kiki juga mengingatkan adanya penipuan dalam transaksi belanja daring. Pelaku dapat menyamar sebagai penjual, membuat penawaran yang jauh lebih murah, atau mengarahkan pembeli ke pembayaran di luar platform. Gunakan fitur transaksi resmi dan periksa reputasi toko, ulasan, serta ketentuan pengembalian sebelum membayar. Modus lain adalah penipuan berkedok hubungan asmara atau love scam. Setelah membangun kedekatan melalui internet, pelaku dapat mengarang keadaan darurat dan meminta uang, hadiah, atau bantuan finansial. Hindari mengirim dana kepada orang yang belum pernah ditemui atau diverifikasi secara langsung.

Menurut Kiki, edukasi tidak cukup hanya menghafalkan daftar modus, karena cara pelaku menipu dapat terus berubah, termasuk dengan memanfaatkan teknologi AI. Edukasi perlu membangun logika dan kemampuan berpikir kritis agar masyarakat mampu mempertanyakan klaim, mengenali tekanan emosional, serta memeriksa bukti sebelum bertindak. Sikap berhati-hati dan kebiasaan melakukan verifikasi menjadi perlindungan penting ketika menghadapi tawaran maupun pesan yang belum jelas kebenarannya.

OJK terus memperkuat perlindungan konsumen di tengah berkembangnya penipuan yang memanfaatkan teknologi, termasuk kecerdasan buatan. Upaya tersebut lain dilakukan melalui peningkatan edukasi dan literasi keuangan agar masyarakat lebih mampu mengenali tawaran mencurigakan, memahami risiko transaksi digital, serta menjaga kerahasiaan data pribadi dan informasi perbankan. Edukasi juga mendorong masyarakat untuk memeriksa kebenaran identitas pihak yang menghubungi sebelum mengirim uang atau memberikan akses ke akun.

Menurut Kiki, perlindungan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Karena itu, OJK berkolaborasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk memperkuat koordinasi dalam mencegah serta menangani penipuan. OJK juga mendorong pelaku usaha jasa keuangan meningkatkan mitigasi risiko, termasuk memperkuat pemantauan transaksi dan mekanisme respons terhadap laporan konsumen. Langkah-langkah tersebut diharapkan membantu mendeteksi aktivitas tidak wajar lebih dini dan membatasi dampak kerugian.

Bagi masyarakat yang menjadi korban, kecepatan melapor sangat penting. Korban diimbau segera menyampaikan laporan melalui Indonesia Anti-Scam Center (IASC), sekaligus menghubungi bank atau penyedia jasa keuangan yang digunakan. Pelaku penipuan biasanya berupaya memindahkan dana yang diterima ke rekening lain dalam waktu singkat.

Baca juga: Silaturahmi Penuh Jelang HUT TNI, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko Ingatkan tentang Profesionalisme Prajurit

Pos terkait