Kota Serang | Kericuhan suporter terjadi saat pertandingan Persita Tangerang melawan Persija Jakarta di Banten International Stadium, Kota Serang, pada Sabtu malam, 17 Oktober 2026. Ketegangan dilaporkan mulai terlihat pada menit ke-25 babak pertama, ketika pertandingan sedang berlangsung. Lokasi awal yang disebut dalam keterangan kepolisian berada di sekitar Gate 14, salah satu area stadion yang menjadi titik berkumpul suporter.
Kepala Bidang Humas Polda Banten, Kombes Pol Maruli Hutapea, menyampaikan bahwa ketegangan bermula ketika kedua kelompok suporter saling melontarkan ejekan. Pada saat yang sama, masing-masing kelompok tengah menyuarakan dukungan bagi tim yang mereka jagokan. Situasi tersebut kemudian memicu suasana di sekitar Gate 14 menjadi tegang. Berdasarkan keterangan Maruli, peristiwa itu diduga dipicu oleh ejekan dan provokasi di suporter.
Uraian tersebut menempatkan saling ejek sebagai awal ketegangan yang terjadi di lokasi, tanpa menyebut pemicu lain. Keterangan mengenai menit ke-25 babak pertama dan titik di sekitar Gate 14 memberi gambaran waktu serta tempat ketika situasi mulai memanas. Peristiwa itu berlangsung dalam konteks pertandingan Persita melawan Persija, dengan kedua kelompok suporter hadir untuk memberikan dukungan kepada tim masing-masing.
Informasi awal yang disampaikan Kabid Humas Polda Banten itu menjadi dasar untuk memahami kronologi awal kericuhan. Penjelasan Maruli menegaskan bahwa ejekan dan provokasi diduga mendahului meningkatnya ketegangan di kedua kelompok. Dengan demikian, momen yang disebut sebagai permulaan insiden adalah interaksi saling mengejek di sekitar Gate 14 pada menit ke-25 babak pertama, di tengah berlangsungnya pertandingan di Banten International Stadium, Kota Serang.
Dampak kericuhan mulai terasa pada jalannya pertandingan, karena insiden yang terjadi di sekitar tribun mengganggu suasana dan membuat perhatian tertuju pada situasi antarsuporter. Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti ketegangan langsung berakhir. Setelah pertandingan berjalan hingga memasuki jeda babak pertama, suasana di stadion kembali memanas. Perkembangan ini menjadi bagian penting dalam kronologi kejadian, sebab gesekan berlanjut di area tribun setelah insiden sebelumnya sempat memengaruhi pertandingan.
Menurut keterangan Maruli, keributan kembali meningkat saat jeda babak pertama di area tribun Gate 5, Gate 6, dan Gate 7 di Banten International Stadium. Pada waktu itu, sejumlah suporter Persija mendatangi area tribun yang ditempati suporter Persita. Kedatangan tersebut berlangsung di tengah suasana yang belum sepenuhnya kondusif. Dengan demikian, ketegangan yang sebelumnya berdampak pada jalannya laga kembali terlihat di beberapa bagian tribun ketika para pemain memasuki waktu istirahat.
Maruli menyebut kedatangan sejumlah suporter Persija itu disertai provokasi. Situasi tersebut kemudian memicu gesekan antarkelompok suporter di area yang disebutkan. Urutan kejadian ini menunjukkan bahwa keributan pada jeda pertandingan bukan peristiwa yang terpisah dari ketegangan sebelumnya, melainkan kelanjutan situasi yang masih berlangsung di stadion. Lokasi kejadian yang meliputi Gate 5, Gate 6, dan Gate 7 juga menegaskan bahwa peningkatan ketegangan terjadi di area tribun, tepat saat pertandingan memasuki jeda babak pertama. Keterangan tersebut menempatkan kedatangan suporter Persija, provokasi, lalu gesekan sebagai rangkaian peristiwa yang terjadi pada waktu dan lokasi itu, tanpa mengubah urutan sebagaimana disampaikan Maruli. Saat itu, jeda laga belum cukup meredakan suasana di kedua kelompok. Sebaliknya, situasi kembali meningkat dan membuat area tribun tersebut menjadi pusat perhatian dalam kronologi kericuhan suporter Persita dan Persija.Setelah gesekan terjadi, keributan berkembang dan sejumlah suporter Persita berupaya menjauh dari lokasi. Pergerakan itu berlangsung ketika situasi di sekitar mereka memanas. Sebagian suporter memilih meninggalkan area tempat keributan berlangsung, sementara beberapa lainnya berusaha mencari jalan keluar dengan melompati pembatas tribun menuju lintasan jogging track.
Upaya menjauh tersebut terlihat dari suporter yang berlarian untuk menghindari keributan. Mereka bergerak meninggalkan titik gesekan, berusaha tidak berada di tengah situasi yang semakin ramai. Beberapa suporter melintasi pembatas tribun dan turun ke lintasan jogging track. Peristiwa ini menjadi bagian dari perkembangan setelah gesekan awal, ketika orang-orang yang berada di dekatnya mulai berusaha menyelamatkan diri.
Di tengah upaya tersebut, aksi saling lempar juga terjadi. Suporter dari kedua kelompok terlibat dalam tindakan itu, sementara pergerakan di lokasi mencakup kejar-kejaran. Sebagian orang berlari menjauh, sedangkan yang lain bergerak saling mengejar. Gambaran ini menunjukkan bahwa situasi tidak hanya diwarnai usaha meninggalkan lokasi, tetapi juga aksi yang membuat keributan terus berlangsung.
Pergerakan suporter yang melompati pembatas menuju jogging track berlangsung bersamaan dengan upaya sebagian lainnya untuk menjauh. Tidak semua orang mengambil jalur yang sama: ada yang berlari menghindari keributan dan ada pula yang bergerak dalam rangkaian kejar-kejaran. Aksi saling lempar menjadi bagian lain dari perkembangan tersebut. Rangkaian ini memperlihatkan perubahan dari gesekan menjadi keributan yang membuat sejumlah suporter berusaha keluar dari area terdekat.
Dalam kronologi ini, perhatian tertuju pada upaya suporter Persita untuk menjauh, termasuk mereka yang melompati pembatas tribun. Para suporter yang berlarian berusaha menghindari keributan, sementara aksi saling lempar dan kejar-kejaran masih berlangsung. Peristiwa-peristiwa tersebut menggambarkan perkembangan situasi setelah gesekan terjadi, tanpa mengubah urutan pokoknya: keributan berlanjut, sebagian suporter berusaha menyelamatkan diri, dan pergerakan di sekitar lokasi tetap diwarnai aksi saling lempar serta kejar-kejaran.
Polda Banten mencatat sebanyak 11 orang mengalami luka-luka dalam insiden kericuhan suporter Persita dan Persija di Banten International Stadium. Data tersebut menunjukkan jumlah korban yang dilaporkan mengalami cedera dalam peristiwa itu. Keterangan mengenai dampak insiden ini disampaikan oleh Maruli, yang menjelaskan bahwa luka-luka terjadi dalam situasi kericuhan dan pergerakan suporter. Jumlah yang dicatat kepolisian tersebut menjadi informasi utama mengenai korban, sementara rincian yang disampaikan mencakup penyebab cedera serta lokasi penanganan medis. Tidak ada keterangan tambahan mengenai keadaan para korban di luar informasi tersebut.
Menurut Maruli, cedera yang dialami para korban lain terjadi akibat aksi saling lempar. Selain itu, ada pula korban yang terkilir saat berlangsung kejar-kejaran. Dengan demikian, keterangan tentang penyebab luka mencakup dua hal tersebut: benturan atau dampak dari saling lempar, serta cedera terkilir dalam pergerakan saat kejar-kejaran. Penjelasan itu disampaikan sebagai gambaran mengenai bagaimana sebagian korban mengalami luka dalam insiden. Keterangan tersebut tidak merinci jenis cedera setiap orang ataupun menghubungkan penyebab tertentu dengan nama korban. Informasi yang tersedia hanya menyebutkan faktor-faktor tersebut secara umum.
Seluruh korban yang tercatat telah mendapat penanganan medis. Maruli menyebut penanganan dilakukan di RS Bhayangkara, RS Banten, dan RS Arafiq. Ketiga rumah sakit tersebut menjadi lokasi korban menerima perawatan setelah mengalami luka dalam kericuhan. Pencatatan 11 orang terluka, keterangan mengenai aksi saling lempar dan terkilir saat kejar-kejaran, serta penyebutan fasilitas kesehatan merangkum dampak insiden sebagaimana disampaikan Polda Banten melalui Maruli. Tidak disertakan informasi mengenai kondisi terkini para korban, tingkat keparahan cedera masing-masing, ataupun perkembangan lain setelah mereka mendapat penanganan medis.
Baca juga: Persija dan Persib Siap Bertanding, Gubernur Serukan Dukungan Sportif dari Suporter | Perubahan Lokasi Pertandingan Persija: Musafir ke Bali untuk Hadapi Java United | Duel Panas Persija dan Persib di Super League








