Tim tinju Indonesia mengakhiri kiprahnya pada Asian Games 2026 di Jepang tanpa membawa pulang medali. Hasil tersebut menjadi catatan penting bagi evaluasi cabang olahraga tinju, terutama karena kontingen Merah Putih telah menurunkan lima atlet untuk bersaing di berbagai kelas. Perjuangan para petinju nasional berlangsung hingga babak lanjutan, tetapi belum mampu menghasilkan podium bagi Indonesia.
Lima atlet yang mewakili Indonesia ialah Nabila Maharani di kelas 54 kilogram, Huswatun Hasanah di kelas 65 kilogram, Jill Mandagie di kelas 55 kilogram, Asri Udin di kelas 60 kilogram, dan Maikhel Muskita di kelas 80 kilogram. Masing-masing membawa harapan untuk memperpanjang kiprah Indonesia dalam persaingan tinju Asia. Namun, hasil terbaik kontingen hanya mencapai babak perempat final, sehingga target medali belum dapat diwujudkan pada ajang tersebut.
Maikhel Muskita menjadi petinju terakhir Indonesia yang bertahan dalam turnamen. Langkahnya terhenti di perempat final setelah kalah dari petinju Korea Selatan, Minseong Kim. Kekalahan itu sekaligus menutup peluang Indonesia untuk meraih medali dari cabang tinju pada Asian Games 2026. Dengan demikian, seluruh wakil Indonesia menyelesaikan kompetisi tanpa penghargaan podium.
Para petinju Indonesia kemudian telah kembali ke Tanah Air pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Kepulangan tersebut menandai berakhirnya rangkaian perjuangan kontingen tinju di Jepang. Catatan tanpa medali dan pencapaian tertinggi berupa perempat final menjadi dasar untuk menilai kembali kesiapan atlet dalam menghadapi kompetisi tingkat Asia. Evaluasi terhadap penampilan lima petinju diperlukan agar pengalaman dari Asian Games 2026 dapat menjadi bahan perbaikan pada ajang berikutnya.
Pengurus Besar Tinju Amatir Indonesia (Perbati) mengakui masih terdapat sejumlah kekurangan yang perlu segera diperbaiki setelah penampilan Indonesia pada Asian Games 2026. Salah satu persoalan utama yang menjadi sorotan adalah kondisi fisik atlet. Evaluasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan teknis dan kualitas dasar para petinju Indonesia sebenarnya tidak tertinggal jauh dari lawan-lawan mereka di Asia.
Sekretaris Jenderal Perbati, Hengky Silatang, menilai kualitas petinju Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara Asia, termasuk negara yang memiliki banyak juara Olimpiade. Penilaian itu menunjukkan bahwa kesenjangan terbesar bukan semata-mata terletak pada teknik, keberanian, atau kemampuan membaca pertandingan. Perbedaan yang lebih terlihat terdapat pada daya tahan untuk mempertahankan intensitas selama seluruh ronde.
Dalam sejumlah pertandingan, petinju Indonesia mampu tampil agresif dan menguasai jalannya laga pada ronde pertama. Namun, tekanan tersebut tidak selalu dapat dipertahankan ketika pertandingan memasuki ronde kedua dan ketiga. Tenaga yang menurun membuat kecepatan, akurasi pukulan, serta pergerakan menjadi kurang efektif. Situasi ini kemudian memberi kesempatan kepada lawan untuk mengambil alih kendali dan mengubah hasil pertandingan.
Maikhel, Huswatun, dan Jill Mandagie disebut sebagai contoh petinju yang sempat memimpin pada bagian awal laga, tetapi mengalami kemunduran pada ronde-ronde berikutnya hingga akhirnya berbalik kalah. Pola tersebut menjadi catatan penting bagi Perbati karena keunggulan teknis akan sulit dipertahankan apabila tidak didukung kesiapan fisik yang memadai.
Perbati juga menyoroti belum adanya pelatih fisik khusus yang mendampingi para petinju. Selama ini, aspek kebugaran dan daya tahan belum ditangani melalui program yang secara khusus dirancang untuk kebutuhan tinju. Kehadiran pelatih fisik diharapkan dapat membantu menyusun latihan kekuatan, stamina, pemulihan, serta strategi menjaga energi sepanjang pertandingan. Pembenahan ini menjadi kebutuhan mendesak agar petinju Indonesia mampu mempertahankan performa sejak ronde awal hingga bel terakhir.
Pertarungan Maikhel Muskita melawan Minseong Kim menjadi gambaran paling jelas dalam evaluasi kondisi fisik tinju Indonesia seusai Asian Games 2026. Pada ronde pertama, Maikhel mampu tampil meyakinkan dan unggul dengan skor 4-1. Penampilan tersebut menunjukkan bahwa ia memiliki kemampuan teknis serta strategi untuk mengendalikan jalannya pertandingan. Hengky menilai Maikhel seharusnya dapat menembus semifinal apabila keunggulan awal itu mampu dipertahankan hingga ronde terakhir.
Namun, situasi berubah pada ronde kedua dan ketiga. Maikhel mulai tertinggal setelah intensitas pertandingan menguras tenaga, sementara Minseong Kim dapat menjaga tekanan dan konsistensinya. Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada kekuatan atau power petinju Indonesia. Menurut penilaian Perbati, atlet memiliki daya pukul dan kapasitas untuk bersaing, tetapi kondisi fisik belum cukup mendukung mereka dalam mempertahankan performa sepanjang pertandingan. Keunggulan pada awal laga akhirnya sulit dikonversi menjadi kemenangan karena stamina menurun pada fase penentuan.
Perbati berencana menghadirkan pelatih fisik khusus untuk memperbaiki aspek tersebut. Pendampingan juga akan dilakukan secara konsisten, bukan hanya menjelang kejuaraan, sehingga perkembangan kebugaran, daya tahan, pemulihan, dan kesiapan atlet dapat dipantau secara berkelanjutan. Hengky menyatakan bahwa pengurus ikut bertanggung jawab atas hasil yang dicapai, sehingga evaluasi tidak hanya diarahkan kepada petinju. Temuan dari kasus Maikhel akan menjadi bahan perbaikan untuk menyusun program yang lebih terukur, terutama dalam menghadapi target lolos ke Olimpiade dan persaingan pada SEA Games di Malaysia.
Hengky menilai kegagalan Indonesia meraih medali pada cabang tinju Asian Games 2026 tidak dapat langsung dikaitkan dengan kualitas atlet atau kondisi fisik semata. Menurutnya, terdapat faktor nonteknis yang turut memengaruhi hasil pertandingan. Pandangan tersebut tidak berarti menyimpulkan adanya kecurangan, melainkan menunjukkan bahwa tinju memiliki unsur penilaian yang perlu dipahami secara lebih menyeluruh, terutama ketika hasil laga ditentukan melalui keputusan juri.
Sistem penilaian tinju, menurut Hengky, belum sepenuhnya dapat diukur seperti cabang olahraga yang hasilnya ditentukan oleh waktu, jarak, atau jumlah poin yang terlihat secara langsung. Keputusan diberikan oleh juri berdasarkan pengamatan terhadap efektivitas pukulan, penguasaan ronde, pertahanan, dan aspek teknis lainnya. Karena itu, perbedaan sudut pandang dalam menilai jalannya pertandingan tetap mungkin terjadi, meskipun setiap juri bekerja berdasarkan aturan yang berlaku.
Dalam laga Maikhel, Hengky melihat ronde pertama lebih layak diberikan kepada petinju Indonesia tersebut. Ronde kedua dinilainya menjadi milik lawan, sementara ronde ketiga masih terbuka untuk diperdebatkan. Ia menilai Maikhel tetap memiliki peluang untuk memenangi ronde terakhir, sehingga hasil akhir sangat bergantung pada interpretasi juri terhadap intensitas serangan dan efektivitas aksi kedua petinju. Situasi itu menjadi perhatian karena Indonesia dinilai belum memiliki perwakilan yang kuat dan konsisten dalam lingkungan tinju internasional.
Ketiadaan perwakilan di tingkat internasional dikhawatirkan dapat memengaruhi situasi penilaian, bukan dalam bentuk tuduhan, melainkan karena posisi Indonesia dan jejaringnya belum cukup kuat di arena global. Atas evaluasi tersebut, pembenahan perlu dilakukan secara menyeluruh. Persiapan atlet dapat diperpanjang melalui training center, disertai kehadiran pelatih fisik khusus dan pendampingan yang lebih intensif. Pengurus juga perlu memperhatikan keterlibatan sumber daya Indonesia dalam lingkungan tinju internasional agar pengalaman, komunikasi, dan pemahaman terhadap perkembangan penilaian dapat semakin meningkat.









