Biosferun 2026 Dorong Pariwisata Hijau dan Ekonomi Warga di Menoreh

Biosferun 2026 Dorong Pariwisata Hijau dan Ekonomi Warga di Menoreh

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, Badan Pelaksana Otorita Borobudur kembali menyelenggarakan Biosferun 2026, ajang lari lintas alam tahunan yang mengambil tempat di kawasan Perbukitan Menoreh. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada 18 Oktober 2026 dengan lokasi start dan finis di Lapangan Pagerharjo, Kulonprogo. Sekitar 1.000 pelari dari berbagai daerah ditargetkan ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Biosferun 2026 memanfaatkan lanskap hijau Menoreh sebagai jalur olahraga sekaligus ruang untuk memperkenalkan karakter destinasi di sekitar Borobudur. Peserta akan menikmati suasana perbukitan dan lingkungan pedesaan yang menjadi bagian penting dari daya tarik kawasan. Penyelenggaraan lari lintas alam ini diharapkan dapat memperluas pilihan aktivitas wisata berbasis alam, terutama bagi pengunjung yang ingin menikmati pengalaman di luar kawasan candi.

Bacaan Lainnya

Selain mendorong gaya hidup aktif, kegiatan tersebut diarahkan untuk menggerakkan sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat lokal. Kehadiran peserta, pendamping, serta wisatawan berpotensi meningkatkan permintaan terhadap akomodasi, kuliner, transportasi, produk usaha mikro, dan berbagai layanan warga. Dengan demikian, Biosferun 2026 tidak berhenti sebagai agenda olahraga, tetapi juga menjadi sarana promosi destinasi dan penguatan rantai ekonomi di tingkat lokal.

Pemilihan Lapangan Pagerharjo sebagai titik awal dan akhir memberikan ruang bagi interaksi peserta dan masyarakat sekitar. Warga berpeluang terlibat melalui penyediaan kebutuhan kegiatan maupun pengenalan produk unggulan setempat. Melalui penyelenggaraan yang berkelanjutan, Biosferun diharapkan turut membangun citra Perbukitan Menoreh sebagai tujuan wisata hijau yang menarik, sekaligus memberi manfaat ekonomi yang lebih luas bagi komunitas di Kulonprogo.

Biosferun 2026 dirancang sebagai festival yang memadukan olahraga, alam, dan budaya dalam satu pengalaman pariwisata di kawasan Menoreh. Lintasan lari tidak hanya mengajak peserta menguji ketahanan fisik, tetapi juga membawa mereka mengenal bentang alam, kehidupan desa, serta kekayaan tradisi masyarakat setempat. Dengan konsep tersebut, kegiatan ini menempatkan olahraga sebagai pintu masuk untuk memperluas apresiasi terhadap lingkungan dan kebudayaan lokal.

Plt. Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB), Yusuf Hartanto, menegaskan bahwa Biosferun tidak boleh dipahami sebatas perlombaan. Dalam konferensi pers pada Kamis (1/10), ia menyampaikan, “Biosferun ini bukan semata-mata kompetisi lari, tetapi bagian dari upaya kami menghadirkan pariwisata yang memberi manfaat bagi konservasi lingkungan dan masyarakat sekitar.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan acara tidak hanya diukur dari jumlah peserta atau kemeriahan penyelenggaraan, melainkan juga dari dampaknya terhadap keberlanjutan kawasan.

Melalui penyelenggaraan yang memperhatikan daya dukung alam, panitia ingin menghadirkan acara berkualitas tanpa mengabaikan prinsip pariwisata berkelanjutan. Pengelolaan sampah, pemanfaatan sumber daya secara bijak, penghormatan terhadap ruang hidup warga, serta perlindungan lanskap Menoreh menjadi bagian penting dari pelaksanaan kegiatan. Pendekatan ini diharapkan dapat menjaga keseimbangan kebutuhan wisatawan dan kepentingan konservasi.

Di sisi lain, Biosferun 2026 membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi warga desa di kawasan Menoreh. Masyarakat dapat terlibat melalui penyediaan akomodasi, kuliner, produk kerajinan, jasa transportasi, pemandu lokal, dan berbagai layanan pendukung lainnya. Keterlibatan tersebut memungkinkan manfaat ekonomi pariwisata berputar di tingkat lokal, sekaligus memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap kegiatan dan destinasi. Dengan menggabungkan kompetisi, eksplorasi alam, serta ekspresi budaya, Biosferun diharapkan menjadi model acara yang mampu mendorong promosi destinasi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan warga.

Strategi pelibatan masyarakat dalam Biosferun 2026 dirancang sejak tahap persiapan hingga kegiatan berakhir. Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) tidak hanya menempatkan warga Menoreh sebagai penerima dampak, tetapi juga sebagai mitra penyelenggaraan. Masyarakat dapat terlibat melalui penyediaan kebutuhan peserta, promosi potensi desa, pengelolaan layanan pendukung, serta pengenalan produk lokal unggulan kepada wisatawan dan pelari yang datang.

Promosi tersebut mencakup pangan olahan, kerajinan, produk pertanian, suvenir, dan berbagai komoditas khas dari desa-desa sekitar. Dengan membuka ruang penjualan dan mempertemukan pelaku usaha dengan pengunjung, rangkaian Biosferun diharapkan menciptakan peluang pendapatan baru yang tidak berhenti pada hari pelaksanaan. Relasi pelaku UMKM, komunitas, dan penyelenggara juga dapat berkembang menjadi kerja sama promosi pariwisata berkelanjutan setelah acara selesai.

Arah manfaat ekonomi ini diperkuat oleh analisis dampak lingkungan dan ekonomi Kementerian Pariwisata terhadap penyelenggaraan Biosferun 2025. Analisis tersebut menunjukkan adanya perputaran ekonomi yang signifikan di kawasan kegiatan. Kepala Divisi Pemasaran Nusantara Pariwisata BPOB, Ricky Harris Fadhila, menyampaikan bahwa nilai ekonomi yang tercipta di area kegiatan Menoreh pada tahun sebelumnya diperkirakan mencapai sekitar Rp1 miliar hingga Rp1,5 miliar. Angka itu menjadi dasar penting untuk memperluas dampak penyelenggaraan pada 2026.

Penerima manfaatnya mencakup komunitas, vendor, warga sekitar, kelompok kesenian, UMKM lokal, pedagang, penyedia jasa logistik, hingga pengelola parkir desa. Keterlibatan kelompok kesenian memberi ruang bagi ekspresi budaya lokal, sementara pedagang dan UMKM memperoleh akses langsung kepada pasar baru. Di sisi lain, jasa logistik dan parkir desa mendapatkan permintaan tambahan selama arus peserta meningkat. BPOB mengarahkan agar manfaat tersebut dirasakan secara luas oleh berbagai unsur masyarakat, sehingga Biosferun tidak sekadar menjadi agenda olahraga, melainkan penggerak ekonomi lokal yang inklusif dan selaras dengan prinsip pariwisata hijau.

Menghadapi kemungkinan meningkatnya jumlah peserta dan pengunjung, penyelenggara Biosferun 2026 menyiapkan langkah logistik untuk menjaga kelancaran kegiatan di kawasan pegunungan. Perhatian utama diarahkan pada mitigasi lalu lintas dan penyediaan lahan parkir yang memadai. Pengaturan tersebut diperlukan agar arus kendaraan dapat dikelola dengan baik, sementara peserta dan pengunjung memiliki ruang parkir yang tertata. Persiapan ini diharapkan dapat mencegah kemacetan serta mengurangi gangguan terhadap aktivitas masyarakat di sekitar lokasi acara.

Ricky menegaskan bahwa keberhasilan Biosferun tidak hanya ditentukan oleh pelaksanaan teknis, tetapi juga oleh keterlibatan aktif masyarakat lokal. Menurutnya, masyarakat perlu menjadi bagian penting dalam setiap proses kegiatan karena merekalah yang memiliki kedekatan langsung dengan kawasan dan potensinya. “Biosferun merupakan ruang kolaborasi yang mengangkat potensi alam, budaya, produk, dan aktivitas warga,” ujar Ricky. Pandangan tersebut menempatkan acara sebagai wadah bersama untuk mempertemukan penyelenggara, warga, serta berbagai potensi lokal dalam satu kegiatan yang saling mendukung.

Badan Otorita Pariwisata Borobudur (BPOB) memandang Biosferun 2026 dengan optimisme terhadap dampak berkelanjutan yang dapat dihasilkan. Kegiatan ini diharapkan mendukung pemberdayaan ekonomi perdesaan melalui keterlibatan dan penguatan potensi warga. Pada saat yang sama, penyelenggaraan Biosferun diarahkan untuk turut menjaga kelestarian lingkungan Perbukitan Menoreh. Perpaduan pengelolaan acara, partisipasi masyarakat, dan perhatian terhadap lingkungan menjadi dasar untuk memperkuat posisi Borobudur Highland sebagai destinasi green tourism berkelas nasional maupun internasional.

Pos terkait