Bogor | Ketua Umum Viking Persib Club (VPC), Tobias Ginanjar, meminta dugaan keterkaitan pelaku pembacokan terhadap Bobotoh, Arief Rahman Kusuma, dengan kelompok suporter ditelusuri lebih lanjut. Permintaan itu muncul setelah Arief meninggal dunia akibat peristiwa kekerasan tersebut. Bagi VPC, latar belakang dan kemungkinan hubungan pelaku dengan kelompok tertentu merupakan hal yang perlu diperiksa secara cermat, bukan disimpulkan berdasarkan spekulasi yang beredar.
Perhatian terhadap identitas dan latar belakang pelaku berkembang di tengah keterangan kepolisian yang menyebut pelaku bukan bagian dari suporter. Pernyataan tersebut menjadi salah satu informasi penting dalam penanganan kasus, tetapi VPC menilai perlu ada pendalaman agar gambaran mengenai peristiwa dan pihak-pihak yang terlibat dapat diketahui secara utuh. Karena itu, dugaan yang mengaitkan pelaku dengan kelompok suporter perlu dikonfirmasi melalui proses pemeriksaan, termasuk dengan mencocokkan keterangan dan bukti yang tersedia.
Tobias tidak menyatakan bahwa keterkaitan itu telah terbukti. Sikap VPC, sebagaimana disampaikan dalam permintaan pendalaman, berfokus pada perlunya memastikan informasi secara jelas. Perbedaan spekulasi publik dan keterangan resmi perlu dijaga agar dugaan tidak berubah menjadi tuduhan terhadap kelompok tertentu sebelum ada dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Penelusuran yang terbuka dan berdasarkan bukti juga dapat membantu mencegah informasi keliru berkembang di tengah masyarakat.
Kasus ini memunculkan pertanyaan mengenai motif, identitas pelaku, serta kemungkinan relasi yang relevan dengan kejadian. Jawaban atas pertanyaan tersebut menjadi ranah penyelidikan aparat, sementara pihak suporter dapat menyampaikan perhatian dan meminta proses berjalan menyeluruh. Hingga ada hasil pemeriksaan yang memastikan latar belakang pelaku, keterangan bahwa ia bukan bagian dari suporter dan dugaan adanya keterkaitan dengan kelompok suporter perlu diperlakukan sebagai informasi yang belum menjawab seluruh persoalan. Pendalaman diharapkan memberi kejelasan mengenai kasus pembacokan yang menewaskan Arief, tanpa mengandalkan asumsi atau menyebarkan kesimpulan yang belum terverifikasi.
Melalui akun Instagram pribadinya pada Kamis (29/10), Tobias menanggapi keterangan mengenai status orang yang diduga sebagai pelaku pembacokan terhadap Bobotoh. Ia menyebut sebagian Bobotoh merasa janggal ketika muncul pernyataan bahwa pelaku bukan suporter. Kejanggalan itu, menurut Tobias, berkaitan dengan dasar yang digunakan untuk menyampaikan kesimpulan tersebut kepada publik. Karena itu, ia menyoroti perlunya penjelasan yang terang mengenai asal informasi dan proses pemeriksaan yang telah dilakukan. Tobias juga merupakan anggota DPRD Jawa Barat, sehingga tanggapannya disampaikan dalam kapasitasnya sebagai wakil rakyat yang ikut meminta penanganan perkara secara terbuka.
Tobias menduga keterangan awal kepolisian yang menyebut pelaku bukan suporter bersumber dari pengakuan pelaku sendiri. Dugaan tersebut ia sampaikan sebagai hal yang perlu ditelusuri, bukan sebagai kepastian mengenai fakta perkara. Perbedaan pengakuan seseorang dan hasil pemeriksaan yang telah diverifikasi menjadi penting, terutama ketika informasi awal beredar luas dan menyangkut identitas atau keterkaitan dengan kelompok suporter. Menurut sorotan yang ia sampaikan, publik berhak mengetahui bagaimana aparat sampai pada keterangan tersebut, termasuk apakah ada bukti atau keterangan lain yang mendukungnya. Penjelasan itu diperlukan agar penilaian terhadap kasus tidak hanya bertumpu pada satu informasi yang belum jelas landasannya.
Sebagai anggota DPRD Jawa Barat, Tobias meminta aparat penegak hukum bersikap transparan dan tegas dalam menangani kasus pembacokan tersebut. Transparansi, dalam hal ini, berarti menyampaikan perkembangan dan dasar keterangan secara jelas dengan tetap memperhatikan proses penyidikan serta hak pihak-pihak terkait. Sikap tegas juga diperlukan agar dugaan tindak kekerasan diperiksa secara menyeluruh dan pihak yang terbukti bertanggung jawab diproses sesuai hukum. Ia menekankan bahwa keterbukaan dapat membantu meredakan keraguan di kalangan Bobotoh dan mencegah simpang siur informasi. Namun, penetapan fakta maupun status pelaku tetap menjadi kewenangan aparat berdasarkan hasil penyelidikan dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan semata-mata dugaan atau persepsi publik.
Berdasarkan koordinasi Viking Persib Club (VPC) dengan sejumlah komunitas pendukung Persib, muncul informasi yang mengindikasikan bahwa terduga pelaku pembacokan Bobotoh mungkin memiliki keterkaitan dengan basis suporter di Bogor. Informasi tersebut disampaikan sebagai petunjuk awal yang diterima komunitas, bukan sebagai kesimpulan mengenai identitas ataupun latar belakang pihak yang terlibat. Karena itu, kabar tersebut perlu diperlakukan secara hati-hati dan tidak dijadikan dasar untuk menuduh individu atau kelompok tertentu.
Tobias menjelaskan bahwa informasi yang sampai kepada mereka mengarah pada sebuah kelompok suporter yang klubnya berdomisili di Bogor. Namun, menurut keterangan yang diterimanya, klub tersebut saat ini tidak lagi berkompetisi di Liga 1 atau Super League. Rincian itu disebut sebagai bagian dari informasi yang tengah beredar di lingkungan komunitas, tetapi belum dapat memastikan hubungan kelompok tersebut dengan peristiwa yang terjadi. Belum ada kepastian bahwa dugaan mengenai lokasi basis atau afiliasi suporter itu sesuai dengan fakta hasil penyelidikan.
Tobias menegaskan bahwa informasi tersebut belum tentu benar dan masih sebatas dugaan. VPC, kata dia, berharap aparat kepolisian menelusuri petunjuk yang ada secara menyeluruh, termasuk memeriksa kebenaran kabar mengenai kemungkinan keterkaitan dengan basis pendukung di Bogor. Penelusuran perlu dilakukan melalui bukti dan keterangan yang dapat diverifikasi, agar tidak terjadi kesimpulan prematur. Ia juga berharap proses pemeriksaan berjalan profesional serta mengutamakan fakta, sehingga pihak yang benar-benar bertanggung jawab dapat diidentifikasi. Sampai ada penjelasan resmi dari kepolisian, masyarakat dan para pendukung diimbau tidak menyebarkan klaim yang belum terkonfirmasi atau mengaitkan kelompok tertentu dengan kekerasan tanpa dasar yang jelas. Sikap tersebut penting untuk menjaga situasi tetap kondusif dan memberi ruang bagi penyidik mengungkap kejadian secara objektif. Dengan demikian, informasi dari komunitas Persib dapat menjadi bahan yang diperiksa, tetapi bukan penetapan bahwa pelaku berasal dari kelompok tertentu.Kapolres Bogor AKBP Arfan Zulkan Sipayung menyampaikan bahwa orang yang diduga melakukan pembacokan terhadap seorang Bobotoh bukan suporter salah satu klub sepak bola. Keterangan itu disampaikan di tengah perhatian terhadap kemungkinan adanya kaitan dengan kelompok suporter. Namun, dugaan tersebut belum dapat dianggap sebagai fakta yang telah dipastikan. Polisi masih perlu menjelaskan perkara berdasarkan hasil penyelidikan dan bukti yang diperoleh.
Dalam penanganan kasus ini, polisi menangkap MR, pria berusia 26 tahun, yang disebut sebagai pelaku pembacokan Bobotoh di Bogor. Penangkapan tersebut menjadi bagian dari proses hukum atas peristiwa yang menimbulkan korban jiwa. Identitas MR sebagai orang yang ditangkap telah disampaikan, tetapi informasi mengenai motif maupun kemungkinan keterlibatan pihak lain harus merujuk pada keterangan resmi kepolisian, bukan spekulasi yang beredar.
Arfan menggambarkan perkara itu sebagai kenakalan remaja atau tindakan yang menghilangkan nyawa. Pernyataan tersebut menyoroti seriusnya peristiwa, terlepas dari apakah tindakan itu berhubungan dengan rivalitas sepak bola atau tidak. Karena itu, publik perlu membedakan keterangan yang telah disampaikan aparat dan dugaan yang masih memerlukan pendalaman. Penyebutan status sebagai suporter maupun keterkaitan dengan kelompok tertentu tidak semestinya disimpulkan hanya dari percakapan warganet.
Tobias meminta dugaan keterkaitan tersebut ditelusuri lebih lanjut. Pendalaman diperlukan agar masyarakat memperoleh kepastian informasi mengenai latar belakang peristiwa dan pihak-pihak yang terlibat. Langkah itu juga diharapkan dapat menjawab perdebatan yang berkembang di media sosial maupun ruang publik, termasuk pertanyaan tentang kemungkinan unsur suporter dalam kasus tersebut. Permintaan untuk memeriksa dugaan bukan berarti keterkaitan itu telah terbukti atau dikonfirmasi.
Kejelasan dari aparat penting untuk mencegah informasi yang belum terverifikasi berkembang menjadi tuduhan terhadap kelompok tertentu.









