Jakarta | Produksi susu segar Indonesia mulai menunjukkan tanda pemulihan pada 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi susu nasional tercatat sebesar 820.874,80 ton, meningkat 1,46% dibandingkan dengan capaian 2024 yang berada di angka 809.038,70 ton. Kenaikan ini menjadi sinyal positif bagi industri persusuan setelah produksi mengalami penurunan pada tahun sebelumnya.
Meski demikian, peningkatan tersebut belum cukup untuk mengembalikan produksi ke tingkat tertinggi dalam lima tahun terakhir. Pada 2021, produksi susu segar nasional mencapai 946.388,17 ton. Dengan demikian, capaian 2025 masih lebih rendah sekitar 125.513 ton dibandingkan level tersebut. Selisih ini menunjukkan bahwa proses pemulihan masih terbatas dan belum sepenuhnya mengatasi tekanan yang memengaruhi kinerja sektor peternakan sapi perah.
Pergerakan produksi selama lima tahun terakhir memperlihatkan pola yang berfluktuasi. Setelah mencapai 946.388,17 ton pada 2021, produksi turun menjadi 824.273,20 ton pada 2022. Setahun kemudian, angka tersebut kembali meningkat menjadi 837.223,20 ton pada 2023. Namun, tren positif itu tidak berlanjut karena produksi merosot menjadi 809.038,70 ton pada 2024, sebelum akhirnya naik lagi menjadi 820.874,80 ton pada 2025.
Rangkaian data tersebut memperlihatkan bahwa kenaikan pada 2025 lebih tepat dipandang sebagai awal pemulihan setelah penurunan, bukan sebagai kembalinya produksi ke kondisi puncak. Kinerja terbaru memang menunjukkan perbaikan, tetapi jaraknya dengan capaian 2021 masih cukup besar. Karena itu, peningkatan produksi perlu dijaga secara berkelanjutan agar kapasitas peternakan nasional dapat kembali mendekati level tertinggi dan mampu memperkuat pasokan susu segar dalam negeri.
Produksi susu segar nasional pada 2025 menunjukkan ketimpangan geografis yang sangat kuat. Sebagian besar pasokan berasal dari Pulau Jawa, terutama karena wilayah ini memiliki ekosistem peternakan sapi perah yang lebih berkembang, mulai dari populasi ternak, fasilitas pengumpulan susu, hingga jaringan pengolahan dan distribusi. Konsentrasi tersebut menjadikan Jawa sebagai penopang utama ketersediaan bahan baku bagi industri susu nasional.
Jawa Timur berada di posisi teratas dengan produksi mencapai 475.394,90 ton pada 2025. Angka itu setara dengan sekitar 57,9% dari total produksi susu segar Indonesia. Dengan kontribusi lebih dari separuh produksi nasional, Jawa Timur dapat disebut sebagai pusat utama industri susu segar. Aktivitas peternakan di berbagai sentra wilayah provinsi tersebut menjadi sumber penting bagi pemenuhan kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu.
Di posisi kedua, Jawa Barat menghasilkan 251.871,10 ton, sedangkan Jawa Tengah menempati peringkat ketiga dengan produksi 75.336,85 ton. Jika digabungkan, ketiga provinsi tersebut menyumbang sekitar 97,8% produksi susu segar nasional. Artinya, hampir 98 dari setiap 100 ton susu yang diproduksi di Indonesia berasal dari Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Besarnya konsentrasi ini sekaligus menunjukkan bahwa perubahan cuaca, penyakit ternak, gangguan distribusi, atau penurunan produktivitas di Pulau Jawa dapat berdampak luas terhadap pasokan nasional.
Ketergantungan terhadap sentra produksi di Jawa juga tercermin dalam rantai pasok perusahaan susu nasional. Sejumlah pelaku industri, termasuk PT Sarihusada Generasi Mahardhika (SGM) dan Nestle Indonesia, menggantungkan pasokan susu segar dari wilayah Jawa Timur hingga Jawa Tengah. Kondisi berbeda terlihat di luar Jawa. Sumatera Utara, sebagai provinsi dengan produksi terbesar keempat, hanya menghasilkan 6.267,49 ton pada 2025. Selisih tersebut memperlihatkan bahwa produksi nasional masih sangat bergantung pada ekosistem sapi perah di Jawa, sehingga penguatan sentra peternakan di wilayah lain menjadi penting untuk menciptakan pasokan yang lebih merata dan tangguh.
Pemulihan produksi susu nasional juga perlu dilihat dari kondisi di sisi hulu, terutama jumlah sapi perah yang menjadi penopang utama pasokan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), populasi sapi perah nasional pada 2025 mencapai 499.360 ekor. Jumlah tersebut meningkat 1,79% dibandingkan 2024 yang tercatat sebanyak 490.592 ekor. Kenaikan ini menunjukkan bahwa basis peternakan sapi perah mulai bergerak ke arah pemulihan setelah mengalami penurunan dalam beberapa tahun sebelumnya.
Perkembangan tersebut terlihat dari titik terendah populasi sapi perah nasional pada 2023, yakni 464.021 ekor. Setelah itu, jumlahnya meningkat menjadi 490.592 ekor pada 2024 dan kembali bertambah menjadi 499.360 ekor pada 2025. Rangkaian kenaikan selama dua tahun tersebut menjadi indikasi bahwa kapasitas di tingkat peternak mulai membaik. Pertumbuhan ini penting karena ketersediaan sapi perah berhubungan langsung dengan kemampuan menghasilkan susu di dalam negeri.
Meski demikian, pemulihan itu belum mengembalikan populasi sapi perah ke tingkat sebelumnya. Jumlah pada 2025 masih 14,2% lebih rendah dibandingkan populasi 2021 yang mencapai 582.169 ekor. Dengan demikian, peningkatan yang terjadi belum dapat diartikan sebagai pulihnya kapasitas peternakan nasional secara penuh. Masih terdapat selisih yang cukup besar dari kondisi 2021, sehingga penguatan sektor hulu tetap menjadi bagian penting dalam menopang produksi susu.
Kondisi ini menjadi semakin relevan ketika kebutuhan susu domestik berpotensi meningkat. Selain memenuhi konsumsi masyarakat, ketersediaan susu juga perlu mendukung kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Karena itu, kenaikan populasi sapi perah pada 2024 dan 2025 memberikan sinyal positif, tetapi belum menghapus tantangan untuk memulihkan jumlah ternak hingga mendekati level 2021. Kapasitas hulu yang belum sepenuhnya kembali menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan susu dalam negeri masih memerlukan perhatian berkelanjutan.
Keterbatasan produksi susu segar dalam negeri masih menjadi faktor utama tingginya kebutuhan impor. Kementerian Pertanian menyatakan bahwa produksi domestik saat ini baru mampu memenuhi sekitar 20% kebutuhan susu nasional. Artinya, sebagian besar kebutuhan masyarakat dan industri pengolahan masih harus dipenuhi melalui pasokan dari luar negeri. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan produksi dalam negeri belum sepenuhnya mengimbangi kebutuhan nasional yang terus harus dipenuhi secara berkelanjutan.
Untuk memperkuat pasokan domestik, pemerintah menargetkan penambahan sedikitnya 600 ribu ekor sapi perah indukan hingga 2029. Penambahan populasi sapi perah tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas produksi susu segar nasional. Dengan ketersediaan indukan yang lebih banyak, pasokan dari peternakan dalam negeri diharapkan dapat diperkuat secara bertahap. Kebijakan ini ditempatkan sebagai salah satu langkah untuk mengurangi kesenjangan produksi susu domestik dan kebutuhan nasional, meskipun kebutuhan impor masih tetap besar.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan besarnya ketergantungan tersebut. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, volume impor susu mencapai 221.762 ton dengan nilai US$678 juta. Jika menggunakan kurs US$1 setara Rp17.875, nilai tersebut setara dengan sekitar Rp12,12 triliun. Besarnya nilai impor itu berkaitan dengan belum mencukupinya pasokan susu segar yang diproduksi di dalam negeri. Dalam tujuh bulan pertama 2026, volume impor bahkan hampir menyamai total impor susu sepanjang 2025. Perbandingan ini memperlihatkan bahwa ketika produksi domestik baru memenuhi sekitar seperlima kebutuhan nasional, impor tetap menjadi sumber penting untuk memenuhi kebutuhan susu di dalam negeri. Target penambahan sapi perah hingga 2029 berjalan dalam konteks tersebut, yakni memperbesar kapasitas pasokan lokal di tengah kebutuhan impor yang masih tinggi.
Baca juga: Pentingnya Audit Produksi pada Pengelolaan Lahan Agrinas








