KABUPATEN BEKASI, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 11 September 2026, Kisruh ini bermula dari sebuah video yang menampilkan pernyataan Asep Setiawan, yang akrab disapa Abah Setu. Video tersebut dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial, menarik perhatian luas dari masyarakat, terutama di kalangan umat Islam. Dalam video itu, Abah Setu membuat beberapa pernyataan yang dianggap oleh banyak pihak sebagai penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Hal ini menimbulkan keresahan dan reaksi yang cukup keras dari masyarakat sekitar, khususnya warga Desa Telajung, Cikarang Barat.
Reaksi masyarakat terhadap video tersebut tidaklah sederhana. Setelah video itu viral, berbagai organisasi kemasyarakatan dan tokoh agama mulai mengeluarkan pernyataan protes. Mereka menilai bahwa pernyataan yang diucapkan oleh Abah Setu tidak hanya tidak pantas, tetapi juga berpotensi memecah belah masyarakat. Dalam waktu singkat, situasi di Desa Telajung semakin memanas, dengan banyak demonstrasi yang berlangsung di luar tempat tinggal Abah Setu.
Pada tahap awal, Abah Setu tidak memberikan klarifikasi atau respons atas pernyataan dalam video tersebut. Namun, setelah situasi semakin tidak kondusif, ia akhirnya memilih untuk meminta maaf secara publik. Permintaan maaf itu disiarkan melalui video yang dirilis di media sosial, di mana Abah Setu menyampaikan penyesalannya dan menjelaskan bahwa pernyataannya tidak dimaksudkan untuk menyinggung siapapun.
Permintaan maaf ini, meskipun diharapkan dapat meredakan ketegangan, masih mendapatkan tanggapan beragam dari masyarakat. Banyak yang menerima permintaan maaf tersebut, namun tidak sedikit pula yang merasa bahwa tindakan tersebut terlambat dan tidak cukup untuk menenangkan situasi yang sudah terlanjur gaduh. Dengan demikian, peristiwa ini lebih dari sekadar kontroversi media sosial, melainkan mencerminkan ketidakpuasan masyarakat terhadap ucapan yang dianggap merendahkan keyakinan agama mereka.
Pada tanggal yang baru lalu, sebuah forum mediasi digelar di Polres Metro Bekasi, di mana Abah Setu tampil untuk secara terbuka mengungkapkan permintaan maafnya. Dalam momen tersebut, Abah Setu mengakui kesalahannya terkait dengan ujaran yang dia sampaikan dalam video yang telah menimbulkan kontroversi. Ujaran tersebut dikatakan telah menyinggung perasaan banyak orang, khususnya umat Islam. Permintaan maaf tersebut bukan hanya sekedar ungkapan lisan, tetapi juga disertai dengan penyesalan yang mendalam atas dampak negatif yang ditimbulkan dari pernyataannya.
Dalam pernyataannya, Abah Setu menegaskan bahwa ia tidak bermaksud untuk menyakiti atau menyinggung siapa pun. Dia mengungkapkan bahwa dia sangat menghargai toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Meskipun begitu, ia mengakui bahwa failih memahami konteks dari ujarannya dalam video tersebut jadi salah dan telah menyebabkan kesalahpahaman yang meluas. Menyadari betapa seriusnya dampak perkataannya, Abah Setu berkomitmen untuk tidak mengulangi kesalahan serupa di masa depan.
Selain itu, ia juga menyatakan kesiapannya untuk bertanggung jawab atas tindakannya yang telah membuat banyak pihak terluka. Abah Setu menegaskan pentingnya pertemuan semacam ini dalam menyelesaikan konflik dan menyembuhkan luka yang ada. Dalam upaya untuk memperbaiki kesalahpahaman tersebut, ia mengajak semua pihak untuk saling menjalin komunikasi yang baik. Komitmen Abah Setu dalam memperbaiki diri dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan menjadi salah satu pokok penting dalam pernyataan maafnya, yang diharapkan dapat membawa kedamaian dan mengurangi ketegangan di masyarakat.Reaksi Masyarakat dan Forum Umat Islam Bekasi RayaSetelah insiden yang melibatkan Abah Setu dan pernyataannya yang dianggap menyinggung Nabi Muhammad SAW, masyarakat setempat menunjukkan reaksi yang cukup kuat dan beragam. Banyak dari mereka merasa terganggu dan kecewa dengan ucapan yang keluar dari seorang tokoh yang seharusnya memberikan contoh yang baik. Beberapa individu bahkan merasa terdorong untuk langsung mendatangi kediaman Abah Setu, dengan harapan mendapatkan klarifikasi lebih lanjut mengenai pernyataannya yang dipermasalahkan.
Forum Umat Islam Bekasi Raya, sebuah organisasi yang mengadvokasi kepentingan umat Islam di wilayah tersebut, tidak tinggal diam menyikapi situasi ini. Mereka menyampaikan apresiasi terhadap langkah mediasi yang diambil untuk meredakan ketegangan. Namun, meski demikian, forum ini mengungkapkan ketidakpuasan terhadap hasil mediasi tersebut. Dalam pertemuan yang diadakan, beberapa pengurus forum menyampaikan kekhawatiran mereka akan sejumlah poin yang belum terjawab secara memuaskan. Mereka menyatakan bahwa penting bagi mereka untuk mendapatkan penjelasan yang lebih mendalam terkait niat dan makna di balik ucapan Abah Setu.
Salah satu tuntutan utama yang diajukan oleh Forum Umat Islam Bekasi Raya adalah agar Abah Setu menghentikan seluruh aktivitas yang mereka anggap merugikan. Tuntutan ini merupakan upaya untuk memastikan bahwa pernyataan yang dinilai tidak patut tersebut tidak dilanjutkan, dan untuk mencegah terjadinya polemik serupa di masa depan. Forum ini berpendapat bahwa reputasi seorang ulama seharusnya senantiasa dijaga, dan ucapan yang terkesan kontroversial dapat berpotensi memecah belah umat.
Secara keseluruhan, respons masyarakat dan Forum Umat Islam Bekasi Raya menunjukkan betapa pentingnya komunikasi dan klarifikasi dalam menangani isu-isu sensitif seperti ini. Reaksi yang muncul mencerminkan kedalaman rasa kepriuhan dari kalangan umat dan menunjukkan harapan untuk penyelesaian yang lebih positif di masa mendatang.
Setelah melalui proses mediasi yang melibatkan berbagai pihak, Abah Setu mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan komitmennya untuk menjaga harkat dan martabat Nabi Muhammad SAW. Dalam konteks ini, penting bagi setiap tokoh masyarakat untuk memiliki pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai dalam agama, khususnya dalam hal interaksi antarumat beragama. Pelajaran yang dapat diambil dari situasi ini adalah perlunya pendekatan yang bijaksana dan penuh kasih dalam menyampaikan pandangan atau pernyataan terkait agama.
Abah Setu juga menegaskan akan berusaha lebih keras untuk memperdalam pengetahuannya tentang Islam. Ini merupakan langkah signifikan yang diharapkan dapat mengurangi kemungkinan terjadinya pernyataan yang tidak sensitif di masa mendatang. Dengan membangun pemahaman yang komprehensif mengenai ajaran Islam, Abah Setu dapat lebih efektif dalam menjalankan perannya sebagai figur publik yang dihormati oleh masyarakat.
Harapan yang muncul dari pernyataan Abah Setu adalah terciptanya suasana yang kondusif bagi kerukunan antarumat beragama. Masyarakat berharap bahwa dengan meningkatnya kesadaran dan pemahaman, tindakan atau pernyataan yang dapat memicu kontroversi tidak akan terulang lagi. Komunikasi yang terbuka dan saling menghormati antarindividu, terutama pada isu-isu sensitif, sangat penting untuk menciptakan harmoni dalam masyarakat yang majemuk.
Ke depan, komunitas diharapkan dapat terlibat dalam diskusi yang konstruktif dan mengedukasi satu sama lain tentang perbedaan dan persamaan yang terdapat dalam ajaran agama. Proses ini tidak hanya akan memperkuat hubungan antarumat beragama tetapi juga menjadi landasan bagi perdamaian dan toleransi yang lebih baik di dalam masyarakat. Dengan demikian, langkah-langkah ke depan harus mengarah pada saling pengertian yang mendalam dan penghormatan terhadap keyakinan masing-masing individu.










