JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 22 September 2026, PT Telkom Indonesia, sebagai salah satu penyedia layanan telekomunikasi terkemuka di Indonesia, telah menetapkan langkah strategis untuk mendukung pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di negara ini. Melalui anak usahanya, PT Telkom Data Ekosistem (Neutradc), perusahaan ini berkomitmen untuk membangun infrastruktur AI yang dapat memenuhi kebutuhan yang semakin meningkat dalam era digital.
Rencana ambisius ini mencakup pembangunan pusat data AI yang dirancang dengan kapasitas total mencapai 1 gigawatt. Lokasi pusat data ini akan tersebar di beberapa wilayah penting di Indonesia, yang diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengembangan ekosistem AI nasional. Dengan adanya pusat data ini, Telkom memposisikan diri sebagai pemimpin dalam menyediakan layanan komputasi dan penyimpanan data yang diperlukan bagi pengembangan solusi kecerdasan buatan di berbagai sektor.
Pembangunan infrastruktur tersebut tidak hanya bertujuan untuk mendukung aplikasi AI, tetapi juga untuk mendorong inovasi dalam sektor-sektor lain yang dapat memanfaatkan teknologi ini. Misalnya, sektor kesehatan, pendidikan, dan industri dapat merasakan manfaat dari pemanfaatan kecerdasan buatan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional mereka. Dengan langkah ini, Telkom tidak hanya berkontribusi pada perkembangan teknologi, tetapi juga berinvestasi dalam masa depan ekonomi digital Indonesia.
Keberadaan pusat data AI yang kuat dan siap pakai di wilayah strategis akan mempermudah akses terhadap teknologi canggih dan data yang dibutuhkan untuk penelitian dan pengembangan lebih lanjut. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah Indonesia dalam memajukan penggunaan teknologi digital di berbagai aspek kehidupan, sehingga dapat mengakselerasi transformasi digital di Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah mengalami peningkatan yang signifikan dalam permintaan akan komputasi berbasis kecerdasan buatan (AI), terutama dari sektor Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kenaikan ini tidak terlepas dari kebutuhan untuk mengoptimalkan operasional bisnis, meningkatkan efisiensi, serta mendorong inovasi di lingkungan yang semakin kompetitif. Dengan demikian, infrastruktur yang mendukung teknologi AI perlu mendapat perhatian lebih dari pihak-pihak terkait, termasuk pemerintah dan sektor swasta.
Salah satu faktor utama yang memicu peningkatan permintaan akan komputasi berbasis AI adalah pergeseran menuju sistem operasional terintegrasi. Diprediksi bahwa pada tahun 2030, banyak BUMN akan beralih dari model tradisional menuju model yang memanfaatkan teknologi canggih dan aplikasi AI dalam setiap aspek operasional mereka. Hal ini mencakup analisis data besar, otomatisasi proses, dan penggunaan algoritma prediktif yang dapat membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat.
Untuk memenuhi kebutuhan kompulsif ini, pembangunan infrastruktur AI yang kuat dan fleksibel adalah keharusan. Tidak hanya untuk menyimpan dan mengelola data yang semakin melimpah, tetapi juga untuk memastikan bahwa BUMN dapat menggunakan teknologi AI untuk menggali wawasan baru yang mendukung strategi bisnis mereka. Oleh karena itu, sarana penyimpanan yang lebih baik, konektivitas yang lebih tinggi, dan platform pemrosesan yang lebih canggih harus menjadi fokus utama bagi pengembang infrastruktur.
Secara keseluruhan, transformasi menuju komputasi berbasis AI di Indonesia memerlukan komitmen dan kerjasama dari semua pemangku kepentingan untuk menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pertumbuhan teknologi ini. Dukungan dari pemerintah, investasi dari sektor swasta, serta kolaborasi akademisi dan industri menjadi faktor penting dalam mengatasi tuntutan akan infrastruktur yang diperlukan untuk mendukung kebutuhan komputasi berbasis AI di masa depan.
Pembangunan infrastruktur data center di Indonesia memerlukan kolaborasi yang erat berbagai sektor, termasuk kementerian, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), serta industri swasta seperti perbankan dan energi. Dengan melibatkan semua pemangku kepentingan, diharapkan pengembangan infrastruktur ini dapat lebih terarah dan memenuhi kebutuhan masing-masing sektor. Salah satu inisiatif yang telah diambil adalah penyelenggaraan workshop oleh Neutradc.
Dalam workshop tersebut, peserta dari sektor publik dan swasta berkumpul untuk berdiskusi mengenai tantangan dan peluang dalam pengembangan data center. Melalui dialog ini, pentingnya adanya data center yang efisien dan tahan terhadap masalah keamanan siber menjadi sorotan utama. Infrastruktur yang kuat akan mendukung pertumbuhan teknologi kecerdasan buatan yang semakin berkembang di tanah air. Misalnya, sektor perbankan membutuhkan sistem yang mampu memproses data besar dengan cepat dan akurat, sehingga kolaborasi ini bisa menciptakan solusi yang inovatif.
Lebih jauh lagi, data center yang baik harus mampu mengakomodasi kebutuhan mobilitas dan komunikasi lembaga-lembaga pemerintahan dan sektor bisnis. Dengan pengembangan data center yang optimal, komunikasi yang lebih baik dapat terjalin, yang pada gilirannya akan mempermudah pengambilan keputusan strategis. Oleh karena itu, kerja sama antar sektor ini tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada pemetaan dan pemahaman kebutuhan serta potensi yang ada di setiap sektor.
Inisiatif kolaboratif ini diharapkan dapat menerapkan teknologi terbaik dalam pembangunan data center. Melalui berbagi pengetahuan, sumber daya, dan kebijakan yang saling mendukung, Indonesia dapat mempersiapkan diri menghadapi tantangan di era digital. Hal ini juga akan berkontribusi pada penguatan daya saing nasional dalam sektor teknologi informasi dan komunikasi, yang sangat penting bagi kemajuan ekonomi negara.
Dalam pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di Indonesia, tantangan signifikan yang sering dihadapi adalah pengolahan data yang memerlukan konsumsi energi yang tinggi. Mengingat tantangan ini, Neutradc menginisiasi kolaborasi dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk menyediakan pasokan energi yang handal dan berbasis hijau. Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk mencapai keberlanjutan dalam era digital yang kian berkembang.
Kolaborasi ini bertujuan untuk menggunakan sumber energi terbarukan dalam operasional fasilitas pengolahan data, sehingga mengurangi jejak karbon yang dihasilkan. Penggunaan energi hijau, seperti tenaga surya dan angin, tidak hanya mendukung pengembangan AI tetapi juga sejalan dengan komitmen nasional terhadap dekarbonisasi. Dengan mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil, inisiatif ini mendukung tujuan pemerintah dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.
Selain itu, pendekatan berkelanjutan terhadap energi hijau juga berpotensi untuk meningkatkan efisiensi biaya operasional dalam pengolahan data. Energi terbarukan, yang semakin terjangkau, menjadi solusi yang menarik bagi perusahaan-perusahaan yang berinvestasi dalam infrastruktur AI. Hal ini sekaligus menciptakan peluang untuk inovasi lebih lanjut dalam bidang teknologi hijau.
Di tingkat industri, keberlanjutan menjadi faktor penting yang harus diintegrasikan ke dalam strategi bisnis. Dengan mengadopsi praktik energi hijau, perusahaan tidak hanya memenuhi tanggung jawab lingkungan, tetapi juga meningkatkan citra brand mereka di mata konsumen yang semakin peduli terhadap isu-isu lingkungan. Oleh karena itu, pengintegrasian energi hijau dalam pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan di Indonesia bukan hanya langkah strategis, tetapi juga langkah yang harus diambil demi masa depan yang lebih berkelanjutan.











