Jakarta | Hingga kuartal III 2026, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA membukukan penjualan sebesar Rp15,80 triliun. Nilai tersebut meningkat 11,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menandakan adanya pertumbuhan pendapatan dalam sembilan bulan pertama tahun ini. Capaian ini menjadi salah satu gambaran perkembangan aktivitas usaha perusahaan, terutama dari pelaksanaan berbagai proyek yang tercatat melalui skema non-KSO maupun kerja sama operasi (KSO).
Penjualan WIKA terdiri atas Rp9,04 triliun dari proyek non-KSO dan Rp6,77 triliun dari proyek KSO. Dengan demikian, kedua kategori tersebut memberikan kontribusi yang relatif berimbang terhadap total penjualan. Jumlah angka per kategori sedikit berbeda dari total yang dilaporkan karena pembulatan. Pemisahan ini penting untuk memahami sumber pendapatan perusahaan, sebab nilai dari proyek yang dikerjakan langsung dan proyek dalam skema KSO dicatat berdasarkan pengaturan serta porsi keterlibatan WIKA masing-masing.
Pertumbuhan penjualan tersebut berlangsung seiring dengan peningkatan perolehan kontrak baru. Sampai kuartal III 2026, kontrak baru WIKA mencapai Rp9,78 triliun, naik 57,9 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan adanya tambahan pekerjaan yang diperoleh perusahaan selama periode pelaporan dan dapat menjadi bagian dari dukungan terhadap aktivitas usaha berikutnya. Namun, nilai kontrak baru tidak sama dengan penjualan yang telah dibukukan. Kontrak umumnya diakui sebagai pendapatan secara bertahap sesuai perkembangan pelaksanaan proyek dan ketentuan akuntansi yang berlaku. Karena itu, angka Rp9,78 triliun perlu dibaca sebagai perolehan pekerjaan baru, bukan sebagai nilai yang seluruhnya telah masuk ke penjualan hingga September 2026. Secara keseluruhan, data tersebut memperlihatkan penjualan yang tumbuh bersama peningkatan kontrak baru, sementara realisasi pendapatan dari kontrak akan bergantung pada pelaksanaan proyek dalam periode berjalan maupun periode selanjutnya.
WIKA mengaitkan capaian kinerja hingga kuartal III 2026 dengan transformasi perusahaan dan upaya penyehatan keuangan yang dijalankan secara konsisten sejak 2023. Langkah tersebut menjadi bagian dari arah pembenahan yang berkelanjutan, bukan sekadar respons jangka pendek terhadap kondisi usaha. Perusahaan menempatkan disiplin dalam mengambil keputusan sebagai unsur penting untuk mendukung pertumbuhan yang lebih sehat. Dalam kerangka itu, pemilihan pekerjaan dilakukan dengan pertimbangan yang lebih cermat agar kegiatan usaha sejalan dengan sasaran profitabilitas dan kemampuan perusahaan menjaga keberlangsungan operasionalnya.
Salah satu upaya yang dijalankan adalah menerapkan seleksi proyek secara ketat. Menurut WIKA, proses tersebut menggunakan prinsip four eyes, yakni penilaian yang melibatkan lebih dari satu pihak untuk menelaah keputusan secara hati-hati. Pendekatan ini dimaksudkan agar proyek yang diambil telah melalui pertimbangan yang memadai, termasuk terkait potensi hasil dan pola pembayarannya. Dengan demikian, keputusan tidak hanya berfokus pada penambahan pekerjaan, tetapi juga memperhatikan kualitas proyek dan kontribusinya terhadap kesehatan usaha. Seleksi yang disiplin menjadi bagian dari transformasi yang diarahkan untuk menjaga pertumbuhan secara lebih terukur.
WIKA juga mengutamakan pola pembayaran yang mencakup uang muka dan pembayaran progres bulanan. Pola tersebut menjadi pertimbangan dalam memilih proyek, sejalan dengan tujuan menjaga kelancaran pelaksanaan dan mendukung kebutuhan operasional. Perusahaan menyatakan bahwa pendekatan seleksi dan pembayaran ini diarahkan agar proyek dapat menghasilkan profitabilitas yang baik serta beroperasi secara mandiri. Artinya, proyek diharapkan mampu menopang pelaksanaannya melalui hasil dan mekanisme pembayaran yang sesuai, bukan menjadi beban yang mengganggu upaya penyehatan. Konsistensi dalam menerapkan kebijakan tersebut memperlihatkan kaitan transformasi, disiplin memilih pekerjaan, dan sasaran perbaikan kinerja. Bagi WIKA, pengelolaan proyek secara selektif merupakan salah satu penopang untuk mempertahankan pertumbuhan sekaligus melanjutkan pembenahan keuangan yang telah berjalan sejak 2023.
Profitabilitas WIKA pada kuartal III 2026 menunjukkan penguatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba kotor tercatat sebesar Rp1,09 triliun, meningkat 44,4 persen secara tahunan. Kenaikan ini berjalan seiring dengan perbaikan margin laba kotor, yang mencapai 12,11 persen, dari 8,34 persen pada kuartal III 2025. Perubahan tersebut menggambarkan peningkatan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aktivitas operasional setelah memperhitungkan beban pokok. Perkembangan margin juga penting diperhatikan karena menunjukkan bahwa pertumbuhan laba kotor tidak hanya berasal dari nilai nominal yang lebih tinggi, tetapi disertai porsi laba yang lebih besar terhadap pendapatan. Meski demikian, angka ini perlu dibaca bersama perkembangan pendapatan, biaya, dan kualitas proyek untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kinerja.
Di tingkat operasional, laba usaha WIKA mencapai Rp754,33 miliar, atau tumbuh 162,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut lebih cepat daripada kenaikan laba kotor, sehingga perubahan beban operasional dan efisiensi turut menjadi bagian penting dalam membaca hasil kuartalan. EBITDA core operasi tercatat Rp957,84 miliar, meningkat 148,4 persen secara tahunan. Angka EBITDA ini tidak memasukkan penyertaan pada investasi kereta, sehingga merefleksikan hasil dari operasi inti dengan cakupan yang lebih terfokus. Perbedaan dasar pengukuran perlu diperhatikan saat membandingkan EBITDA dengan laba usaha maupun indikator lain; masing-masing memberikan sudut pandang berbeda tentang kinerja. Secara umum, peningkatan laba usaha dan EBITDA core memperkuat sinyal pemulihan profitabilitas, tetapi belum dengan sendirinya menjelaskan arus kas, kebutuhan modal kerja, atau keberlanjutan margin.
Penerapan lean management juga tercermin pada penurunan operating expense ratio menjadi 5,34 persen, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Rasio yang lebih rendah mengindikasikan porsi biaya operasional terhadap pendapatan yang semakin terkendali, dan konsisten dengan perbaikan laba usaha. Bagi perusahaan konstruksi, disiplin pengendalian biaya dapat mendukung daya tahan margin ketika beban proyek dan kondisi usaha berubah. Namun, penilaian atas hasil lean management sebaiknya melihat apakah efisiensi dapat dipertahankan tanpa mengurangi mutu pelaksanaan proyek maupun kapasitas operasional. Dengan demikian, indikator kuartal III 2026 menunjukkan kemajuan pada laba kotor, margin, laba usaha, EBITDA core, serta rasio biaya. Tren beberapa periode berikutnya akan membantu menilai apakah penguatan tersebut berlanjut dan menjadi dasar profitabilitas yang lebih stabil.Sekretaris Perusahaan WIKA, Ngatemin, pada Jumat, 30 Oktober 2026, menyatakan bahwa pertumbuhan penjualan dan penguatan margin hingga kuartal III mencerminkan strategi perseroan untuk memperkuat posisi di pasar sekaligus meningkatkan efisiensi operasional. Kinerja tersebut menjadi landasan bagi WIKA untuk menjaga momentum pertumbuhan. Perseroan juga berupaya memperkuat profitabilitas secara berkelanjutan, sehingga perbaikan usaha dapat berjalan seiring dengan penyehatan kondisi keuangan dan kemampuan memenuhi kewajiban.
Untuk mendukung upaya tersebut, WIKA memerlukan dukungan berbagai pihak, termasuk pemegang saham, kreditur, regulator, dan publik. Penguatan keuangan tidak hanya bergantung pada kinerja operasional, tetapi juga pada langkah penataan yang terkoordinasi dan menyeluruh. Perseroan menyoroti perlunya restrukturisasi komprehensif, pengembalian modal perseroan, serta divestasi pada proyek penugasan kereta cepat. Dukungan para pemangku kepentingan diharapkan membantu pelaksanaan langkah-langkah tersebut secara tertib dan memberi ruang bagi perbaikan struktur keuangan.
Restrukturisasi dan pengembalian modal ditujukan untuk mendukung pemulihan keuangan, sementara divestasi proyek penugasan dapat mengurangi eksposur WIKA terhadap beban yang terkait. Menurut bahan sumber, rangkaian langkah itu diharapkan membantu menurunkan beban bunga dan kerugian atas penugasan tersebut. Dengan berkurangnya tekanan biaya, perseroan diharapkan memiliki kapasitas lebih baik untuk memperkuat profitabilitas dan menjaga keberlanjutan usaha. Pelaksanaan strategi tetap perlu memperhatikan kepentingan kreditur serta ketentuan yang berlaku.
Selain meringankan beban keuangan hasil langkah penyehatan diharapkan menyediakan dana untuk membayar kreditur bank dan pemegang.









