SURABAYA, BIN.COM – Dalam sebuah percakapan yang tak terlihat oleh mata manusia, hidup bertanya kepada kematian, “Mengapa orang-orang mencintaimu tapi membenciku?” Kematian menjawab dengan tenang, “Karena kamu adalah dusta yang indah dan sementara, aku adalah kebenaran yang menyakitkan.”*
Dalam keheningan malam yang penuh dengan refleksi, pertanyaan itu menggema di sudut-sudut terdalam pikiran banyak orang. Kehidupan, dengan segala keindahannya yang penuh warna, seringkali dilihat sebagai hadiah yang berharga. Namun, di balik semua keindahan tersebut, tersembunyi kenyataan bahwa hidup adalah sementara dan penuh dengan ketidakpastian.
Sebaliknya, kematian, meskipun ditakuti dan dihindari, adalah satu-satunya kepastian yang kita miliki. Setiap makhluk hidup pasti akan menghadapinya. Kematian tidak bisa dielakkan, tidak bisa dihindari, dan itulah yang membuatnya begitu menakutkan bagi banyak orang. Namun, dalam kebenaran yang menyakitkan itu, terdapat kejujuran yang tak terbantahkan.
Di balik paradoks ini, tersembunyi refleksi mendalam tentang makna kehidupan dan kematian. Orang-orang cenderung mencintai hidup karena menawarkan kebebasan, harapan, dan mimpi yang tak terbatas. Kehidupan menjanjikan keindahan yang bisa dirasakan dan dinikmati, meski seringkali bersifat sementara dan penuh ilusi. Sementara itu, kematian dianggap sebagai akhir dari semua itu—sebuah akhir yang definitif dan tak terhindarkan.
Namun, mungkin di dalam ketakutan terhadap kematian, tersimpan penghargaan tersembunyi. Kematian mengajarkan kita untuk menghargai setiap momen yang kita miliki, untuk hidup dengan penuh makna dan tujuan. Ini adalah pengingat abadi bahwa waktu kita terbatas, dan oleh karena itu, kita harus menggunakannya dengan bijak.
Ketika hidup adalah dusta yang indah, itu tidak berarti bahwa kehidupan itu palsu atau tidak berarti. Sebaliknya, itu menunjukkan bahwa kita sering hidup dalam ilusi keabadian, terlena oleh keindahan sementara yang kita alami. Kita jarang berpikir tentang akhir perjalanan kita sampai saat-saat terakhir mendekat. Di sisi lain, kematian, sebagai kebenaran yang menyakitkan, memaksa kita untuk menghadapi realitas hidup yang sesungguhnya, tanpa ilusi.
Pertanyaan hidup kepada kematian dan jawaban yang diberikan mungkin adalah salah satu cara untuk mengingatkan kita tentang keseimbangan yang diperlukan antara menikmati keindahan hidup dan menerima kenyataan kematian. Ini adalah pengingat bahwa meskipun hidup penuh dengan keindahan dan kesempatan, kita harus tetap menyadari kebenaran yang menyakitkan tetapi pasti dari kematian.
Dengan menyadari keduanya—keindahan sementara hidup dan kebenaran abadi kematian—kita dapat menemukan cara untuk menjalani hidup yang lebih bermakna, penuh dengan penghargaan terhadap setiap momen yang kita miliki. Sebuah keseimbangan antara menikmati setiap detik yang diberikan dan menerima bahwa semuanya, pada akhirnya, akan berakhir. Dan mungkin, dalam penerimaan itu, kita menemukan kedamaian sejati.
Sufi Sang Penyair
Bambang Tri Kasmara









