JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Kementerian Sosial bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan memberangkatkan kadet atau calon perwira Universitas Pertahanan untuk mendampingi siswa Sekolah Rakyat. Penugasan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pembinaan karakter sekaligus mendukung proses pendidikan bagi peserta didik di berbagai wilayah Indonesia.
Para kadet akan ditempatkan di 181 lokasi Sekolah Rakyat yang tersebar di seluruh Indonesia. Pendampingan tersebut mencakup satuan pendidikan pada jenjang sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Dengan cakupan itu, kehadiran kadet diharapkan dapat menjangkau lingkungan belajar yang memiliki kebutuhan pendampingan sesuai dengan karakteristik masing-masing jenjang pendidikan.
Sekolah Rakyat saat ini diikuti oleh lebih dari 44 ribu siswa yang berada di berbagai lokasi tersebut. Program pendidikan ini telah melaksanakan proses pembelajaran sejak 2025, sehingga penugasan kadet dilakukan dalam konteks keberlanjutan kegiatan belajar dan pembinaan siswa yang telah berjalan. Pendampingan tidak hanya berkaitan dengan aktivitas di lingkungan sekolah, tetapi juga diarahkan untuk membantu penguatan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan karakter peserta didik.
Pemberangkatan kadet dilaksanakan di Landasan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, pada Jumat. Melalui kerja sama lintas kementerian ini, pemerintah menempatkan sumber daya pendidikan dan pertahanan untuk mendukung penyelenggaraan Sekolah Rakyat. Para calon perwira Universitas Pertahanan tersebut selanjutnya menjalankan tugas pendampingan di lokasi yang telah ditetapkan, bersama unsur pendidikan dan pengelola sekolah setempat.
Pengiriman kadet ke Sekolah Rakyat menunjukkan perhatian pemerintah terhadap pembentukan peserta didik secara menyeluruh. Selain memperoleh pembelajaran akademik, siswa diharapkan mendapatkan penguatan sikap dan kebiasaan positif sebagai bekal dalam kehidupan sosial serta pendidikan pada tahap berikutnya. Penugasan di ratusan lokasi juga mencerminkan skala pelaksanaan program yang melibatkan siswa dari jenjang SD hingga SMA di seluruh Indonesia.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menjelaskan bahwa keterlibatan kadet dalam pembinaan siswa Sekolah Rakyat berangkat dari kebutuhan untuk menghadirkan panutan yang dapat membantu proses penyesuaian. Para siswa datang dari latar belakang keluarga, pengalaman, dan lingkungan sosial yang beragam. Perbedaan tersebut membuat mereka memerlukan pendampingan ketika mulai hidup bersama di asrama dan mengikuti kegiatan belajar dalam lingkungan sekolah yang teratur.
Dalam situasi itu, kadet diharapkan tidak hanya menjalankan tugas pendampingan, tetapi juga menunjukkan contoh nyata melalui perilaku sehari-hari. Sikap tertib, tanggung jawab, ketepatan waktu, ketekunan, serta kemampuan menghormati orang lain menjadi nilai yang dapat diamati dan ditiru oleh siswa. Kehadiran teladan secara langsung membantu siswa memahami bahwa karakter dibentuk melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten, bukan sekadar melalui nasihat di ruang kelas.
Kadet juga berperan mendampingi siswa dalam mengenali pentingnya kedisiplinan. Aturan di asrama dan sekolah mungkin menjadi pengalaman baru bagi sebagian siswa sehingga diperlukan proses adaptasi yang bertahap. Pendampingan dilakukan untuk menjelaskan tujuan di balik setiap ketentuan, membantu siswa mengelola rutinitas, serta mendorong mereka menjalankan tanggung jawab dengan kesadaran. Dengan pendekatan tersebut, kedisiplinan diharapkan tumbuh sebagai kebutuhan pribadi, bukan semata-mata karena pengawasan.
Gus Ipul menekankan bahwa pembinaan tidak berarti menyeragamkan kemampuan, minat, dan bakat seluruh siswa. Setiap anak tetap memiliki potensi serta jalur perkembangan yang berbeda. Namun, kedisiplinan dipandang sebagai salah satu syarat penting untuk mencapai keberhasilan dalam bidang apa pun. Karena itu, para kadet diharapkan mampu membangun motivasi dan kemauan kuat pada diri siswa agar mereka bersedia mengembangkan keterampilan, berlatih secara teratur, serta berani mengejar potensi terbaiknya. Pendekatan ini menempatkan kadet sebagai mitra pembentuk karakter yang mendukung pertumbuhan siswa secara utuh.
Sebanyak 1.262 kadet dan 206 pengasuh diberangkatkan untuk mendampingi siswa Sekolah Rakyat. Penugasan dalam skala besar ini menunjukkan bahwa pembinaan tidak hanya diarahkan pada kegiatan akademik, tetapi juga pada proses pendampingan yang membantu siswa membangun kebiasaan, sikap, dan pola interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Para kadet dan pengasuh hadir sebagai pendamping yang memberikan arahan secara terukur, sesuai dengan kebutuhan perkembangan siswa.
Tugas utama mereka mencakup penguatan karakter dan kepribadian siswa. Melalui pendampingan yang konsisten, siswa diarahkan untuk mengenal nilai kedisiplinan, tanggung jawab, kebersamaan, serta sikap saling menghormati. Selain itu, para kadet juga memberikan wawasan mengenai nusantara dan bela negara. Materi tersebut diharapkan dapat membantu siswa memahami keberagaman Indonesia, menumbuhkan rasa memiliki terhadap bangsa, serta membangun kesadaran untuk hidup sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas.
Penugasan ini perlu dilakukan dengan mempertimbangkan latar belakang siswa yang beragam. Mereka berasal dari lingkungan, pengalaman, dan karakter yang berbeda-beda, sehingga proses penyesuaian tidak dapat berlangsung secara seragam atau sekaligus. Kemampuan beradaptasi menjadi penting bagi para pendamping agar dapat memahami perbedaan tersebut dan membangun komunikasi yang tepat dengan setiap siswa. Pembelajaran tentang kehidupan bersama juga perlu diberikan secara bertahap, sehingga siswa memiliki waktu untuk mengenali aturan, memahami peran masing-masing, dan membentuk hubungan yang positif. Dengan pendekatan yang sabar dan berkelanjutan, pendampingan dapat membantu menciptakan lingkungan yang mendukung pembentukan karakter, penguatan kepribadian, serta tumbuhnya wawasan kebangsaan siswa.
Rektor Universitas Pertahanan (Unhan) Letnan Jenderal TNI (Purn) Anton Nugroho menjelaskan bahwa Unhan akan menempatkan tim pendamping di 181 Sekolah Rakyat. Pembagian tersebut dirancang agar setiap sekolah memperoleh dukungan yang terarah dan berkelanjutan dalam mendampingi siswa. Setiap tim terdiri atas tujuh kadet bersama seorang pengasuh yang bertugas mengoordinasikan kegiatan, memberikan pendampingan, serta memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai kebutuhan sekolah.
Kadet yang ditugaskan berasal dari tingkat 2, 3, dan 4. Mereka memiliki latar belakang program studi yang beragam, lain kedokteran, kedokteran gigi, teknik, teknik mesin, teknik sipil, dan farmasi. Keberagaman keilmuan ini diharapkan memberikan manfaat dalam proses pembelajaran dan pendampingan siswa. Dengan pengetahuan serta pengalaman yang berbeda, para kadet dapat menghadirkan sudut pandang yang lebih luas ketika membantu siswa memahami berbagai persoalan, mengembangkan kebiasaan positif, dan mengenali potensi diri.
Meski demikian, Anton menegaskan bahwa para kadet tidak berperan sebagai guru yang memberikan mata pelajaran khusus. Fokus utama mereka adalah membantu pengembangan disiplin, karakter, pengetahuan, dan keterampilan siswa. Pendampingan dilakukan melalui interaksi langsung, termasuk diskusi mengenai hambatan atau kesulitan yang dihadapi siswa dalam kegiatan belajar maupun kehidupan sehari-hari. Dari pembahasan tersebut, kadet dapat memberikan solusi dan arahan yang sesuai secara proporsional, dengan tetap berkoordinasi bersama pengasuh dan pihak sekolah. Pola ini diharapkan membangun hubungan pendampingan yang terbuka, sehingga siswa merasa memiliki ruang untuk menyampaikan persoalan dan memperoleh dukungan yang relevan. Penempatan tim lintas program studi juga memungkinkan kegiatan pembinaan disesuaikan dengan kondisi setiap sekolah, tanpa mengubah fungsi utama guru dalam menyampaikan materi akademik.










