Jenazah Terakhir Korban Jatuhnya Mi-17V5 Dievakuasi dari Perairan Seruyan

Jenazah Terakhir Korban Jatuhnya Mi-17V5 Dievakuasi dari Perairan Seruyan

Kabupaten Seruyan | Tim SAR gabungan mengevakuasi jenazah Sertu (Anumerta) Heri Prasetyo, prajurit TNI Angkatan Darat yang menjadi korban kecelakaan helikopter Mi-17V5, pada Jumat. Jenazah ditemukan dan dievakuasi dari perairan di sekitar Desa Pematang Limau dan Sungai Perlu, Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Evakuasi tersebut menandai bahwa seluruh korban meninggal dalam kecelakaan helikopter itu telah berhasil ditemukan dan dievakuasi.

Proses pencarian dan evakuasi melibatkan unsur SAR gabungan yang bekerja di kawasan perairan Seruyan. Kondisi lokasi dan medan perairan menjadi bagian dari upaya yang harus diperhitungkan tim dalam menjalankan operasi. Setelah jenazah ditemukan, petugas melakukan penanganan dan evakuasi sesuai prosedur sebelum korban dibawa untuk proses lebih lanjut.

Bacaan Lainnya

Heri Prasetyo merupakan prajurit TNI AD yang berada di dalam helikopter Mi-17V5 ketika kecelakaan terjadi. Penemuan jenazahnya menjadi tahap akhir dari pencarian para korban yang meninggal dalam insiden tersebut. Dengan demikian, operasi SAR untuk menemukan dan mengevakuasi seluruh korban meninggal dinyatakan tuntas.

Keberhasilan evakuasi ini mengakhiri pencarian di perairan Kabupaten Seruyan, meskipun penanganan setelah korban dievakuasi tetap menjadi bagian penting dari proses. Pihak terkait dapat melanjutkan tahapan berikutnya, termasuk penyerahan jenazah kepada keluarga dan keperluan administrasi maupun pemeriksaan sesuai ketentuan yang berlaku.

Operasi tersebut juga menunjukkan koordinasi berbagai unsur dalam pencarian di wilayah perairan. Tim SAR gabungan bekerja untuk memastikan korban dapat ditemukan dan ditangani dengan layak. Bagi keluarga dan rekan-rekan korban, kepastian bahwa seluruh korban telah dievakuasi menjadi kabar penting setelah rangkaian pencarian berlangsung. Perhatian selanjutnya tertuju pada proses penghormatan terakhir bagi para prajurit serta penyampaian informasi resmi mengenai penanganan insiden Mi-17V5.

Dalam operasi pencarian korban jatuhnya helikopter Mi-17V5 di perairan Seruyan, tim gabungan terlebih dahulu menemukan bangkai pesawat di dasar sungai. Kondisi helikopter yang berada di bawah permukaan air menjadi kendala bagi proses pemeriksaan dan evakuasi. Untuk membuka akses menuju bagian dalam badan pesawat, petugas menggunakan kapal tugboat untuk menarik bangkai helikopter dari posisinya. Setelah ditarik, badan helikopter kemudian dibalikkan agar para penyelam dapat menjangkau bagian yang sebelumnya sulit diakses. Tahapan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mengeluarkan korban yang masih berada di dalam pesawat.

Penarikan dan pembalikan badan helikopter memungkinkan penyelam masuk ke bagian dalam untuk melakukan pencarian lanjutan. Setelah akses terbuka, para penyelam menjangkau lokasi korban dan mengeluarkan jenazah dari bangkai pesawat. Proses tersebut menuntut koordinasi unsur yang bekerja di air dan petugas yang mendukung operasi dari sekitar lokasi. Tim gabungan yang terlibat terdiri atas personel TNI, Polri, Basarnas, BNPB, pemerintah daerah, serta masyarakat. Keterlibatan berbagai unsur itu membantu pelaksanaan pencarian hingga tahap evakuasi, dengan tugas yang disesuaikan pada kebutuhan operasi di lapangan. Warga setempat juga turut mendukung upaya penanganan di kawasan perairan Seruyan.

Setelah berhasil dikeluarkan dari helikopter, jenazah dibawa menggunakan kapal menuju Pelabuhan Segintung. Perjalanan melalui jalur air tersebut menjadi tahap lanjutan sebelum jenazah diserahkan untuk penanganan berikutnya. Dari pelabuhan, jenazah kemudian diantar ke RSUD Kuala Pembuang. Rangkaian ini menutup proses pemindahan dari lokasi bangkai helikopter di dasar sungai menuju fasilitas kesehatan di Kuala Pembuang. Dengan demikian, penggunaan tugboat tidak hanya membantu menggeser dan membalikkan badan pesawat, tetapi juga membuka jalan bagi penyelam untuk menjangkau bagian dalam dan mengevakuasi korban. Seluruh tahapan berlangsung melalui kerja bersama tim gabungan dan dukungan masyarakat setempat.

Helikopter Mi-17V5 tersebut lepas landas dari Kuala Pembuang pada Rabu, 4 November, pukul 09.55 WIB. Penerbangan itu membawa prajurit yang sedang bertugas menangani kebakaran hutan dan lahan di wilayah Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Informasi ini menempatkan penerbangan dalam konteks dukungan terhadap penanganan kebakaran, bukan sebagai perjalanan tanpa kaitan dengan operasi tersebut. Para prajurit berada di dalam helikopter saat menjalankan tugas yang berhubungan dengan upaya pemadaman.

Dalam mendukung operasi water bombing, helikopter mengambil air di perairan Desa Sungai Perlu. Ketika berada di perairan tersebut, helikopter mengalami kendala terbang dan jatuh ke perairan. Keterangan yang tersedia menyebutkan adanya kendala saat penerbangan, tetapi tidak menjelaskan penyebab teknis maupun faktor lain yang memicu kejadian. Karena itu, konteks kecelakaan perlu dipaparkan sesuai informasi tersebut tanpa menarik kesimpulan lebih jauh tentang kerusakan, kondisi pesawat, ataupun keadaan di sekitar lokasi.

Peristiwa ini terjadi ketika helikopter mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Pengambilan air di Desa Sungai Perlu merupakan bagian dari kegiatan water bombing yang disebut dalam keterangan mengenai tugas penerbangan. Dengan demikian, penjelasan tentang jatuhnya Mi-17V5 berkaitan dengan pelaksanaan dukungan operasi tersebut dan lokasi pengambilan air. Fakta yang dapat disampaikan terbatas pada waktu keberangkatan, tujuan tugas para prajurit, aktivitas mengambil air, serta keterangan bahwa helikopter mengalami kendala terbang sebelum jatuh ke perairan. Rincian lain tidak dapat dipastikan dari keterangan yang tersedia, sehingga tidak tepat mengaitkannya dengan dugaan penyebab tertentu. Pemisahan fakta dan dugaan penting agar laporan mengenai kecelakaan tetap akurat dan tidak menambahkan informasi yang belum dikonfirmasi. Keterangan ini juga membantu pembaca memahami hubungan penerbangan, tugas pemadaman, dan lokasi kejadian secara jelas, tanpa menyamakan kendala terbang yang disebutkan dengan penjelasan teknis tentang penyebabnya. Fokusnya tetap pada konteks operasi dan fakta yang diketahui.

Kecelakaan helikopter Mi-17V5 di perairan Seruyan menimbulkan dampak serius bagi seluruh kru yang berada di dalam pesawat. Tiga prajurit TNI Angkatan Darat gugur dalam peristiwa tersebut, yaitu Letkol Cpn (Anumerta) Dudi Firmansyah, Kapten Cpn (Anumerta) Nurhafiz Akbar, dan Sertu (Anumerta) Heri Prasetyo. Kepergian ketiganya menjadi kehilangan besar bagi keluarga, rekan, serta satuan tempat mereka bertugas. Nama dan pangkat para korban dicatat sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian mereka. Peristiwa ini sekaligus menegaskan besarnya risiko yang dihadapi para personel ketika menjalankan tugas menggunakan sarana penerbangan militer.

Di tengah kabar duka tersebut, lima kru lainnya berhasil selamat. Mereka adalah Kapten Cpn Febri, Letda Cpn Fercis, Pratu Gilang, Serka Kadiya, dan Kapten Cpn Suganda. Keselamatan mereka menjadi perhatian dalam penanganan awal setelah helikopter mengalami kecelakaan. Kondisi para kru yang selamat dan kebutuhan pertolongan menjadi bagian penting dari upaya yang dilakukan di lokasi. Sementara itu, gugurnya tiga personel menambah berat dampak kejadian, yang tidak hanya menyangkut kerusakan atau hilangnya sebuah pesawat, tetapi juga keselamatan dan kehidupan para prajurit di dalamnya.

Sesaat setelah kejadian, TNI AD mengirimkan personel melalui jalur udara untuk mengevakuasi kru. Langkah tersebut dilakukan dengan prioritas memastikan seluruh personel memperoleh pertolongan secepatnya. Dalam situasi darurat, kecepatan respons menjadi hal penting agar korban dapat dijangkau dan kebutuhan mendesak bisa ditangani. Upaya evakuasi itu mencakup perhatian terhadap kru yang selamat maupun pencarian dan penanganan terhadap personel yang terdampak. Pengiriman personel melalui udara menjadi bagian dari respons awal TNI AD terhadap kecelakaan di perairan Seruyan.

Perbedaan hasil yang dialami para kru—tiga prajurit gugur dan lima lainnya selamat—menunjukkan beratnya konsekuensi kecelakaan tersebut. Informasi mengenai nama-nama personel memberi gambaran yang jelas tentang siapa saja yang terdampak, sekaligus membantu publik memahami skala kehilangan dan penyelamatan yang berlangsung. 8 kunjungan

Pos terkait