Letjen TNI Iwan Setiawan ditunjuk sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Penunjukan tersebut menempatkannya sebagai pengganti Letjen TNI Mohammad Fadjar, yang sebelumnya memimpin salah satu satuan strategis utama di lingkungan TNI Angkatan Darat. Pergantian ini menjadi bagian dari penyegaran kepemimpinan sekaligus penataan organisasi di tubuh TNI AD.
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak membenarkan informasi tersebut pada Rabu, 7 Oktober 2026, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Ketika dikonfirmasi mengenai sosok yang mengisi jabatan Pangkostrad, Maruli menyatakan bahwa posisi itu kini diisi oleh Iwan Setiawan. Pernyataan KSAD tersebut menegaskan perubahan kepemimpinan di lingkungan Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat.
Sebelum ditunjuk sebagai Pangkostrad, Iwan Setiawan menjabat Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Danpussenif) TNI AD. Ia menduduki posisi tersebut sejak Januari 2025, setelah menggantikan Letjen TNI Teguh Muji Angkasa. Dalam kapasitasnya sebagai Danpussenif, Iwan bertanggung jawab terhadap pembinaan dan pengembangan kecabangan infanteri, termasuk peningkatan kemampuan personel, kesiapan satuan, serta penerapan doktrin dan taktik yang relevan dengan kebutuhan pertahanan.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari rekam tugas Iwan sebelum menerima amanah baru sebagai Pangkostrad. Jabatan ini memiliki peran strategis karena Kostrad merupakan komando utama operasional TNI AD yang dituntut selalu siap mengerahkan kekuatan dalam berbagai tugas. Dengan latar belakang kepemimpinan di bidang infanteri, Iwan kini menghadapi tanggung jawab lebih luas untuk menjaga kesiapan operasional, membina prajurit, dan memastikan satuan di bawah komandonya mampu merespons dinamika keamanan nasional.
Keberhasilan Iwan Setiawan mencapai puncak Gunung Everest pada 1997 menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan karier militernya. Saat itu, ia masih berpangkat Letnan Satu dan berusia 29 tahun. Pencapaian tersebut menempatkan namanya dalam catatan prajurit Indonesia yang berhasil menaklukkan gunung tertinggi di dunia. Prestasi itu diraih melalui rangkaian persiapan, seleksi, latihan, dan penyesuaian terhadap kondisi alam yang berbeda dari lingkungan latihan di Indonesia.
Iwan merupakan bagian dari tim Ekspedisi Everest 1997 yang digagas oleh Prabowo Subianto. Sebelum ditetapkan sebagai anggota tim, ia mengikuti proses seleksi yang melibatkan puluhan personel Kopassus. Seleksi tersebut menjadi tahap awal untuk menentukan prajurit yang mampu menjalani ekspedisi dengan tuntutan fisik dan mental yang berat. Dari proses itu, Iwan terpilih untuk bergabung bersama personel lain dalam misi menuju puncak Everest.
Persiapan ekspedisi dilakukan secara bertahap. Latihan awal berlangsung di Gunung Gede dan Gunung Pangrango, Jawa Barat. Kedua lokasi tersebut digunakan untuk membangun kesiapan fisik serta melatih kemampuan menghadapi perjalanan di kawasan pegunungan. Setelah itu, tim menjalani latihan di Nepal. Tahap tersebut diperlukan agar para anggota dapat menyesuaikan diri dengan medan dan ketinggian ekstrem yang akan mereka hadapi selama pendakian Gunung Everest.
Dalam ekspedisi tersebut, Iwan memimpin tim dari sisi selatan. Ia bersama Pratu Asmujiono dan Sersan Misirin berhasil mencapai puncak Everest pada 1997. Di titik tertinggi gunung itu, mereka mengibarkan bendera Merah Putih. Keberhasilan tersebut menjadi salah satu catatan penting prajurit Indonesia dalam menaklukkan gunung tertinggi di dunia. Pencapaian itu juga menandai peran Iwan dalam sebuah ekspedisi yang membawa nama Indonesia ke puncak Everest.
Iwan Setiawan merupakan lulusan Akademi Militer 1992 dari kecabangan infanteri. Pendidikan tersebut menjadi fondasi bagi perjalanan panjangnya di lingkungan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, khususnya pada satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Setelah menyelesaikan pendidikan dan memasuki masa dinas, ia memperoleh penugasan yang membentuk pengalaman operasional, kepemimpinan, serta kemampuan pengelolaan satuan. Tahap awal kariernya banyak berlangsung di lingkungan Kopassus, dengan tanggung jawab yang meningkat dari waktu ke waktu.
Dalam urutan penugasan awal, Iwan Setiawan dipercaya menduduki posisi Danunit Grup 2/Parako Kopassus. Ia kemudian menjabat Dansubtim 5/2/13 Grup 1/Parako Kopassus, sebelum mendapat tanggung jawab sebagai Dantim 5/2/13 Grup 1/Parako Kopassus. Pengalaman tersebut berlanjut ketika ia dipercaya menjadi Danki 1/13 Grup 1/Parako Kopassus. Rangkaian jabatan ini memperlihatkan proses pembentukan kepemimpinan yang dimulai dari tingkat unit, tim, hingga kompi di lingkungan pasukan khusus.
Seiring bertambahnya pengalaman, cakupan tugasnya semakin luas. Ia selanjutnya menjabat Palat Sima Denma Grup 1/Parako Kopassus, kemudian Kasi 2/Ops Grup 1/Parako Kopassus. Setelah itu, ia menduduki posisi Wadanyon 12 Grup 1/Parako Kopassus dan mendapat amanah sebagai Dansekomando Pusdikpassus. Kariernya di Kopassus terus berkembang melalui jabatan Danyon 22/Grup 2/Kopassus, lalu Wadan Grup 2/Parako Kopassus. Setiap penugasan tersebut memperkaya pemahamannya mengenai operasi, pendidikan, pembinaan personel, dan komando satuan. Bekal dari fase awal inilah yang kemudian mendukung langkahnya menuju tanggung jawab yang lebih tinggi dalam struktur TNI Angkatan Darat.
Setelah bertahun-tahun menjalani penugasan di lingkungan Kopassus, Iwan Setiawan terus memperoleh kepercayaan untuk mengisi berbagai jabatan penting di TNI Angkatan Darat. Perkembangan kariernya menunjukkan pengalaman yang semakin luas, baik dalam memimpin satuan maupun menangani aspek operasi, pendidikan, dan pembinaan personel. Pada 2012, ia ditugaskan sebagai Danbrigif 22/Ota Manasa. Setahun kemudian, ia dipercaya menjadi Asops Kasdam IV/Diponegoro, sebuah posisi yang memperkuat pengalamannya dalam perencanaan serta pelaksanaan kegiatan operasional di tingkat komando daerah militer.
Karier Iwan kemudian berlanjut melalui sejumlah jabatan strategis lainnya. Ia memimpin Pusdikpassus, lembaga yang berperan penting dalam pendidikan dan pembentukan prajurit pasukan khusus. Setelah itu, ia menjabat Danrindam Jaya dan kemudian Danrem 052/Wijayakrama. Pada 2020, Iwan ditugaskan sebagai Danrem 173/Praja Vira Braja. Penugasan berikutnya datang pada 2021, ketika ia menjadi Waaslat Kasad Bidang Kermamil, dengan tanggung jawab yang berkaitan dengan pembinaan latihan dan kemampuan militer.
Pada 2022, Iwan kembali ke lingkungan pasukan khusus setelah diangkat sebagai Danjen Kopassus. Dalam jabatan tersebut, ia memimpin satuan elite TNI AD dengan pangkat mayor jenderal. Setahun kemudian, tepatnya pada April 2023, ia dipercaya menjadi Pangdam XII/Tanjungpura untuk menggantikan Mayjen TNI Sulaiman Agusto. Jabatan ini memperluas tanggung jawabnya dalam memimpin komando kewilayahan dan menjaga kesiapan satuan di wilayah tanggung jawab Kodam XII/Tanjungpura.
Pada Januari 2025, Iwan menerima penugasan sebagai Danpussenif. Dalam posisi ini, ia bertanggung jawab terhadap pembinaan kecabangan infanteri, penyelenggaraan pendidikan, serta pembinaan prajurit infanteri. Hingga pertengahan 2026, ia masih menjalankan tugas tersebut sebelum kemudian ditunjuk menjadi Pangkostrad. Rangkaian penugasan itu memperlihatkan kesinambungan pengalaman Iwan, dari operasi pasukan khusus dan kepemimpinan kewilayahan hingga pengelolaan pembinaan kecabangan strategis di TNI AD.







