JAKARTA — Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (PERIKLINDO), Bambang Soesatyo (Bamsoet), mendukung penuh terpilihnya kembali Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko sebagai Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (PERIKLINDO) periode 2026-2031. Kepemimpinan Moeldoko dinilai penting untuk untuk menjaga kesinambungan pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional di tengah persaingan industri otomotif global yang semakin ketat. PERIKLINDO sendiri menempatkan pengembangan industri kendaraan bermotor listrik dan perluasan penggunaannya di masyarakat sebagai bagian dari visi organisasinya.
“Saya mengapresiasi dan mendukung penuh terpilihnya kembali Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko sebagai Ketua Umum PERIKLINDO. Beliau memiliki pengalaman panjang dalam pemerintahan dan memahami secara langsung arah kebijakan pembangunan industri kendaraan listrik nasional. Kepercayaan ini harus dijawab dengan kerja yang semakin konkret, terutama memperkuat industri dalam negeri, memperluas pasar, menarik investasi, dan memastikan kendaraan listrik Indonesia mampu bersaing di tingkat regional maupun global.” ujar Bamsoet dalam Munas PERIKLINDO tahun 2026 di Jakarta, Kamis (24/9/26).
Hadir dalam Munas PERIKLINDO 2026 antara lain Ketum PERIKLINDO Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko, Sekjen PERIKLINDO Tenggono Chuandra Phoa, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian Mahardi Tunggul Wicaksono, serta Kepala Subdirektorat Uji Tipe Kendaraan Bermotor Direktorat Sarana dan Keselamatan Transportasi Jalan Kementerian Perhubungan Heri Prabowo.
Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menjelaskan, Indonesia memiliki modal strategis untuk membangun industri kendaraan listrik secara terintegrasi karena memiliki sumber daya mineral yang menjadi bahan penting dalam rantai pasok baterai. Pemerintah juga terus mendorong pengembangan ekosistem tersebut. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM pada Juli 2026 mencatat ekosistem baterai nasional semakin lengkap, antara lain melalui pengembangan fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) untuk mengolah bahan baku nikel menjadi material yang dapat digunakan dalam rantai produksi baterai. Pemerintah juga sedang mendorong pengembangan industri precursor bahan katoda atau pCAM berbasis MHP di dalam negeri. Bahkan belum lama ini, pemerintah menyesuaikan formula harga bijih nikel kadar rendah atau limonit yang banyak digunakan dalam proses HPAL untuk memberikan kepastian lebih baik bagi industri pengolahan.
“Kekuatan Indonesia ada pada kemampuan membangun ekosistem dari tambang sampai kendaraan. Namun, hilirisasi tidak boleh berhenti pada pengolahan nikel. Kita harus terus berkembang dengan membuat material baterai, sel baterai, battery pack, motor listrik, power electronics, semikonduktor, komponen kendaraan, perangkat lunak dan akhirnya kendaraan utuh. Di sinilah PERIKLINDO harus mengambil peran strategis, memastikan industri nasional memiliki keterhubungan yang kuat dari hulu sampai hilir serta mendorong transfer teknologi dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia,” kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menilai peluang berikutnya adalah menjadikan Indonesia sebagai basis produksi kendaraan listrik untuk pasar internasional, khususnya negara-negara dengan sistem kemudi kanan. Indonesia memiliki peluang menjadi hub EV setir kanan dengan pasar potensial seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, Selandia Baru, India hingga Inggris. Peluang ini menjadi semakin kuat karena Indonesia memiliki pasar domestik yang besar sekaligus basis industri otomotif yang telah berkembang.
“Saya optimis periode kepemimpinan kedua Bapak Moeldoko di PERIKLINDO mampu mendorong Indonesia dari sekadar konsumen menjadi pemain penting dalam industri kendaraan listrik global. Pasarnya sudah tumbuh, investasinya mulai masuk, ekosistem baterai berkembang dan kemampuan manufaktur kita sudah memiliki fondasi. Tinggal bagaimana semua potensi itu disatukan menjadi strategi industri nasional yang konsisten. Kita harus berani membidik pasar ekspor, terutama negara-negara setir kanan, sehingga kendaraan listrik buatan Indonesia diterima di pasar dunia,” tutur Bamsoet.
Ketua Dewan Penasehat Ikatan Motor Indonesia (IMI) dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menambahkan, percepatan industri kendaraan listrik harus dibarengi kebijakan yang konsisten. Industri membutuhkan kepastian mengenai insentif, TKDN, standar teknis, pembangunan SPKLU, pengelolaan baterai bekas, pembiayaan konsumen serta arah kebijakan energi. Tantangan tersebut penting diperhatikan karena pengembangan kendaraan listrik Indonesia masih menghadapi persoalan skala ekonomi, ketergantungan terhadap sejumlah komponen impor dan ketidakpastian permintaan setelah perubahan kebijakan insentif.
“Kebijakan kendaraan listrik harus memiliki arah yang jelas. Industri membutuhkan kepastian untuk menghitung investasi, membangun pabrik, mengembangkan komponen dan menyiapkan tenaga kerja. Insentif juga harus dirancang tepat sasaran dan dikaitkan dengan penciptaan nilai tambah di dalam negeri. Pemerintah, DPR, pelaku industri dan PERIKLINDO perlu duduk bersama agar kebijakan yang lahir tidak berubah-ubah dalam waktu singkat. Dengan kepastian tersebut, investor akan lebih berani menanamkan modal dan konsumen juga memiliki kepercayaan untuk beralih ke kendaraan listrik,” pungkas Bamsoet.
Pewarta: Abdul Latif











