Doa dan Kehilangan: Makna di Balik Keikhlasan

 

SURABAYA, BIN.COM – 21 Oktober 2024 Dalam sebuah perbincangan sederhana, seorang ayah ditanya oleh putranya tentang makna di balik kesetiaan berdoa. “Mengapa Ayah selalu rajin berdoa, padahal keadaan ekonomi kita biasa saja? Apa yang Ayah dapatkan dari berdoa secara teratur kepada Allah?” tanya sang anak dengan polos.

 

Jawaban yang diberikan sang ayah begitu mengejutkan, mengundang perenungan mendalam. “Tak ada yang Ayah dapatkan, malah Ayah banyak kehilangan,” jawabnya. Sang anak tampak bingung, tapi ayahnya melanjutkan, “Ayah akan beritahu, Nak, apa saja yang hilang. Yang hilang itu adalah kekhawatiran, depresi, kemarahan, kekecewaan, sakit hati, kerakusan, kebencian, dan kesombongan.”

 

Setiap selesai berdoa, menurut sang ayah, ketenangan merasuk ke dalam dirinya. Dia menjelaskan bahwa doa tidak selalu diukur dari apa yang didapat, tetapi justru dari apa yang hilang—beban mental dan emosional yang perlahan menguap. “Jangan selalu mengukur kebaikan Allah dari apa yang kita dapatkan, namun juga dari apa yang hilang dari hidup kita,” katanya dengan bijak.

 

Penjelasan sang ayah menekankan bahwa doa adalah cara untuk membersihkan diri dari hal-hal negatif. Ini mengingatkan pada ayat-ayat Al-Qur’an yang mendorong manusia untuk bersabar dan bertawakal, seperti dalam Surah Al-Baqarah ayat 286: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”—yang mengajarkan pentingnya keikhlasan dan tawakal dalam menghadapi segala tantangan.

 

Dalam dunia yang dipenuhi oleh kecemasan dan ketidakpastian, nasihat sang ayah menggambarkan makna spiritual yang mendalam, bahwa ketenangan seringkali datang bukan dari apa yang kita dapatkan, melainkan dari apa yang kita lepaskan.

 

Bambang Tri Kasmara

Pos terkait