JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai film “Djamin Setia Selamanya” karya sutradara Rako Prijanto dapat dimanfaatkan sebagai media edukasi sejarah. Penilaian tersebut disampaikan saat pemutaran film di Jakarta pada Jumat (2/10). Menurutnya, karya sinema itu memiliki potensi untuk membantu masyarakat, khususnya generasi muda, mengenal sejarah melalui cara penyampaian yang lebih dekat dengan pengalaman menonton.
Film tentang Jamin Ginting tersebut menghadirkan narasi sejarah melalui alur yang menghibur. Penyajian seperti ini membuat kisah masa lalu tidak hanya disampaikan dalam bentuk informasi, tetapi juga dibangun melalui rangkaian cerita yang dapat diikuti oleh penonton. Dengan demikian, sejarah mengenai perjuangan di Sumatera dapat diperkenalkan melalui medium yang komunikatif dan menarik.
Selain alurnya, sinematografi film “Djamin Setia Selamanya” juga dinilai apik. Unsur visual itu mendukung penyampaian cerita sehingga latar sejarah yang diangkat dapat diterima dengan lebih jelas. Perpaduan narasi dan penggarapan sinematik menjadi alasan film tersebut dipandang sesuai untuk mendukung pengenalan sejarah kepada khalayak.
Pernyataan Fadli Zon menempatkan film ini sebagai sarana edukasi yang dapat melengkapi cara-cara pembelajaran sejarah. Melalui kisah yang dikemas secara menghibur, penonton memperoleh kesempatan untuk memahami bagian dari perjalanan sejarah dan perjuangan masyarakat Sumatera. Nilai edukatifnya terletak pada kemampuan film menghadirkan tema sejarah dalam bentuk cerita yang mudah diakses oleh penonton.
Pemutaran di Jakarta menjadi momentum untuk menegaskan peran film dalam memperkenalkan sejarah kepada generasi muda. Karya Rako Prijanto itu tidak sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga membuka ruang bagi penonton untuk mengenali tokoh dan peristiwa yang berkaitan dengan sejarah Jamin Ginting. Karena itu, film tersebut dinilai dapat digunakan sebagai media pengenalan sejarah melalui narasi dan sinematografi yang dinilai baik.
Film biopik ini mengangkat sosok Jamin Ginting Suka dan perjuangannya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Latar ceritanya berada pada masa ketika Belanda berupaya merebut kembali kekuasaan setelah Indonesia menyatakan kemerdekaan. Dalam situasi tersebut, masyarakat di Sumatera menghadapi ancaman militer, ketidakpastian, serta tuntutan untuk menjaga wilayah dan kedaulatan yang baru diperjuangkan. Film menempatkan Jamin Ginting Suka sebagai tokoh yang menunjukkan keberanian, keteguhan, dan tanggung jawab terhadap masyarakatnya.
Alur film memadukan kisah kepahlawanan dengan gambaran berbagai bentuk perjuangan di tengah perang. Adegan laga dan peperangan digunakan untuk memperlihatkan ketegangan pasukan Indonesia dan pihak yang berusaha menguasai kembali wilayah tersebut. Namun, cerita tidak hanya berfokus pada pertempuran. Kehidupan sehari-hari masyarakat pada masa perang turut ditampilkan, termasuk cara warga menghadapi keterbatasan, menjaga keluarga, serta mempertahankan semangat kebersamaan di tengah ancaman yang terus berlangsung.
Unsur budaya Karo menjadi bagian penting dalam penyajian cerita. Film ini menggambarkan adat istiadat, hubungan kekerabatan, serta nilai sosial yang hidup dalam masyarakat Karo di Sumatera Utara. Tradisi dan kebiasaan lokal tidak sekadar menjadi latar visual, melainkan membantu menjelaskan cara tokoh memandang tanggung jawab, keberanian, dan hubungan dengan komunitas. Kearifan lokal juga tampak melalui sikap saling membantu, penghormatan terhadap keluarga, dan kepedulian terhadap tanah kelahiran.
Dengan menggabungkan sejarah perjuangan, aksi peperangan, kehidupan rakyat, dan budaya Karo, film ini menghadirkan gambaran yang lebih luas tentang masa mempertahankan kemerdekaan. Kisah Jamin Ginting Suka disampaikan sebagai bagian dari pengalaman masyarakat Sumatera yang berhadapan langsung dengan perubahan politik dan konflik bersenjata. Latar tersebut memperkuat pemahaman bahwa perjuangan kemerdekaan berlangsung melalui keberanian tokoh sekaligus dukungan masyarakat dan nilai-nilai lokal yang mereka pegang.
Menteri Kebudayaan menilai biopik Jamin Ginting sebagai contoh praktik baik dalam menggarap karya sinema yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menjalankan fungsi edukasi sejarah. Melalui penggambaran tokoh, konflik, dan situasi sosial pada masa perjuangan, film ini dapat membantu masyarakat memahami perjalanan bangsa dengan cara yang lebih dekat dan mudah diterima. Sinema dipandang memiliki kemampuan untuk menghadirkan kembali pengalaman masa lalu secara visual, sehingga nilai keteladanan, keberanian, serta pengorbanan para pejuang dapat dikenali oleh penonton lintas generasi.
Film tersebut juga membuka ruang bagi penonton untuk mengenal perjuangan rakyat di wilayah Sumatera, khususnya Sumatera Utara dan Aceh, ketika menghadapi agresi militer Belanda. Kisah perjuangan Jamin Ginting memperlihatkan bahwa masyarakat di daerah turut memainkan peran penting dalam mempertahankan kemerdekaan dan menjaga keberlangsungan Republik Indonesia. Latar sejarah ini penting ditampilkan karena pengalaman masyarakat di berbagai wilayah sering kali belum memperoleh porsi yang seimbang dalam narasi populer mengenai perjuangan nasional. Dengan memahami konteks lokal, generasi muda dapat melihat bahwa kemerdekaan dibangun melalui keterlibatan banyak tokoh dan kelompok dari latar belakang yang beragam.
Pandangan tersebut sekaligus menegaskan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya berlangsung di Jawa. Perlawanan dan dukungan terhadap republik juga hadir di Sumatera, Bali, Kalimantan, Sulawesi, serta berbagai daerah lain. Setiap wilayah memiliki tokoh, strategi, tantangan, dan pengalaman sejarah yang memperkaya pemahaman mengenai proses mempertahankan kemerdekaan. Karena itu, kehadiran film berlatar perjuangan daerah dapat menjadi sarana untuk memperluas perspektif sejarah sekaligus mendorong generasi muda menghargai kontribusi masyarakat di seluruh nusantara. Periode 1945-1950 disebut sebagai masa penting dalam sejarah Indonesia.
Film biopik Jamin Ginting menyoroti perjalanan hidup seorang tokoh penting dalam sejarah perjuangan Sumatera, khususnya Sumatera Utara. Kisahnya dimulai dari masa pendidikan di sekolah Belanda, ketika ia memperoleh pengalaman dan wawasan yang kemudian membentuk cara pandangnya terhadap keadaan sosial serta politik pada zamannya. Latar pendidikan tersebut menjadi bagian penting dalam menggambarkan proses tumbuhnya kesadaran kebangsaan Jamin Ginting di tengah situasi kolonial.
Alur film kemudian mengikuti keterlibatan Jamin Ginting sebagai tentara sukarela Giyugun. Pengalaman militer itu menjadi bekal yang berharga ketika ia menghadapi masa revolusi dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam periode agresi militer Belanda, Jamin Ginting tampil sebagai pemimpin perang gerilya di Sumatera Utara. Strategi, keberanian, dan keteguhannya dalam memimpin perjuangan menjadi inti dramatik yang diharapkan mampu memperkenalkan kembali keteladanan tokoh tersebut kepada penonton masa kini. Peran Jamin Ginting dimainkan oleh Rafi Sudirman, yang membawa karakter itu ke layar melalui pergulatan pribadi, kepemimpinan, dan pengabdiannya kepada bangsa.
Kehadiran film ini tidak hanya dipandang sebagai upaya mengangkat sosok bersejarah, tetapi juga sebagai dorongan bagi lahirnya karya-karya perfilman yang menginspirasi generasi muda di berbagai penjuru Indonesia. Penyampaian sejarah melalui medium sinema diharapkan dapat membuat kisah perjuangan lebih dekat, relevan, dan mudah dipahami tanpa menghilangkan nilai edukatifnya. Dalam pemutaran di Jakarta, sejumlah pejabat Kementerian Kebudayaan turut hadir bersama produser Riahna Djamin Ginting, penulis skenario Titien Wattimena, serta aktor Chicco Kurniawan dan Jourdy Pranata. Kehadiran mereka menegaskan dukungan terhadap pengembangan film sejarah dan penguatan apresiasi publik terhadap karya yang mengangkat warisan perjuangan nasional.










