Jakarta | Surat Al-Insan ayat 5 menggambarkan minuman bagi orang-orang yang berbuat kebajikan sebagai minuman yang campurannya adalah air kafur. Dalam ayat tersebut, kafur hadir sebagai unsur yang memberi gambaran tentang kenikmatan dan kesegaran minuman yang disediakan bagi mereka. Penyebutan ini juga menunjukkan bahwa kafur telah dikenal sebagai sesuatu yang bernilai dan memiliki karakter khas dalam kehidupan masyarakat pada masa itu.
Para ulama dan ahli tafsir menjelaskan makna kafur dengan beragam penekanan. Sebagian menafsirkannya sebagai zat beraroma harum dan menyegarkan, sementara penjelasan lain mengaitkannya dengan kamper alami yang dikenal di kawasan Asia. Dalam pembahasan tentang sejarah perdagangan, istilah kafur sering dihubungkan dengan hasil hutan berupa kristal atau ekstrak beraroma dari pohon Dryobalanops aromatica. Pohon ini menghasilkan kamper alami yang berbeda dari produk rumah tangga yang kini umum disebut kapur barus.
Perbedaan tersebut penting dipahami agar istilah dalam ayat tidak serta-merta disamakan dengan kamper sintetis masa kini. Produk sintetis yang lazim dipakai sebagai pewangi pakaian umumnya dibuat dari bahan kimia, termasuk naphthalene, dan diproses untuk kebutuhan rumah tangga. Sebaliknya, kamper alami berasal dari pohon tertentu dan memiliki sejarah pemanfaatan serta perdagangan yang panjang. Karakter, sumber, dan cara memperolehnya pun tidak sama, meskipun nama yang digunakan dalam percakapan sehari-hari dapat terdengar serupa.
Pohon penghasil kamper alami tumbuh di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, khususnya kawasan Sumatra. Keberadaan sumber daya tersebut menjadikan pulau ini penting dalam jejaring pertukaran komoditas beraroma sejak berabad-abad lalu. Kamper dari Sumatra dikenal oleh pedagang dari berbagai kawasan dan menjadi salah satu barang bernilai yang dicari dalam perdagangan jarak jauh. Karena itu, pembahasan mengenai kafur dalam teks keagamaan dapat menjadi pintu masuk untuk menelusuri hubungan alam, istilah, dan sejarah ekonomi. Dari latar inilah, perhatian beralih ke Barus, salah satu pelabuhan penting di pesisir barat Sumatra, yang namanya lekat dengan perdagangan kamper dan hubungan dagang Arab dengan kawasan Nusantara.
Barus, yang dalam sejumlah sumber lama dikenal sebagai Fansur, menempati posisi penting dalam kisah perdagangan kamper Sumatra. Nama tersebut muncul dalam catatan geografis dan perdagangan yang menggambarkan wilayah ini sebagai penghasil komoditas bernilai tinggi sekaligus tempat yang terhubung dengan jalur pelayaran regional. Kamper dari Sumatra dipakai luas, lain untuk keperluan pengobatan dan wewangian, sehingga keberadaannya menarik perhatian para pedagang dari berbagai kawasan.
Dalam buku Ancient Fansur, Aceh’s Atlantis (2013), arkeolog Edward McKinnon membahas bagaimana pengetahuan orang Arab mengenai pusat kamper di Sumatra dapat dipahami melalui jaringan perdagangan. Informasi tentang suatu pelabuhan atau daerah penghasil barang sering berpindah bersama para pelaut, saudagar, dan penulis yang menghimpun kabar dari perjalanan maupun keterangan pihak lain. Karena itu, penyebutan Fansur dalam sumber berbahasa Arab memberi gambaran tentang hubungan komersial lintas wilayah, meskipun tidak selalu menjelaskan secara rinci bagaimana informasi tersebut diperoleh.
Salah satu contoh ialah catatan pedagang Ibn al-Faqih pada 902. Ia menyebut Fansur sebagai penghasil kapur barus, cengkih, pala, dan kayu cendana. Daftar itu menunjukkan bahwa daerah tersebut dikaitkan dengan beragam barang perdagangan, bukan hanya kamper. Pada abad ke-13, ahli geografi Ibn Sa’id al-Maghribi secara khusus menghubungkan kamper Fansur dengan Sumatra. Keterangan ini penting karena membantu menempatkan nama Fansur dalam gambaran geografis yang lebih luas, sekaligus memperlihatkan berlanjutnya perhatian terhadap sumber kamper di pulau tersebut.
Nama Barus juga disebut oleh Ptolemy pada abad pertama Masehi, jauh sebelum catatan Ibn al-Faqih dan Ibn Sa’id. Namun, penafsiran atas nama tempat dalam naskah lama, kesesuaian lokasi, serta hubungan sebutan Barus dan Fansur dapat menjadi bahan kajian tersendiri. Catatan-catatan tersebut sebaiknya dibaca sebagai petunjuk historis yang saling melengkapi, bukan bukti yang sepenuhnya tidak diperdebatkan. Secara bersama, sumber-sumber itu memperlihatkan bahwa Barus/Fansur dikenal dalam tradisi pengetahuan perdagangan sebagai kawasan Sumatra yang terkait erat dengan kamper dan jalur niaga jarak jauh.
Perdagangan kamper menjadikan Barus tujuan penting bagi para pedagang Arab yang bersedia menempuh perjalanan laut jarak jauh. Kamper Sumatra memiliki nilai tinggi di pasar internasional karena digunakan dalam berbagai keperluan dan dicari oleh pembeli dari kawasan yang luas. Nilai komoditas ini mendorong para saudagar untuk mengarungi jalur pelayaran antardaerah demi memperoleh pasokan langsung dari wilayah penghasilnya. Bagi mereka, perjalanan panjang tersebut sepadan dengan keuntungan yang dapat diperoleh dari perdagangan kamper bermutu.
Sejarawan Claude Guillot, dalam Barus Seribu Tahun yang Lalu (2008), menguraikan jalur yang disebut dalam sumber-sumber sejarah. Pedagang berangkat dari kawasan Teluk Persia, melintasi Samudra Hindia dengan singgah atau melewati Ceylon, yang kini dikenal sebagai Sri Lanka, lalu mencapai pantai barat Sumatra. Rute ini memperlihatkan hubungan maritim yang menghubungkan pusat-pusat perdagangan di Asia Barat dengan pelabuhan di Nusantara. Perjalanan itu membutuhkan persiapan, pengetahuan tentang laut, serta kapal yang mampu membawa muatan dalam jumlah besar.
Kapal besar digunakan untuk mengangkut kamper dalam perjalanan kembali, sekaligus membawa barang dagangan lain yang diperlukan dalam jaringan niaga. Kedatangan pedagang Arab semakin meningkat setelah kamper Barus dikenal memiliki mutu tinggi dan dinilai mengungguli kamper dari Malaya serta Kalimantan. Reputasi tersebut memperkuat daya tarik Barus sebagai tempat memperoleh komoditas bernilai, bukan sekadar persinggahan di tengah pelayaran. Seiring berkembangnya pertukaran, pelabuhan ini menjadi simpul penting bagi saudagar dan pelaut yang bergerak di jalur perdagangan regional. Letaknya di pantai barat Sumatra juga menjadikannya tempat berhenti yang strategis dalam perjalanan laut menuju China. Dengan demikian, perdagangan kamper membantu menghubungkan Barus dengan jaringan niaga yang membentang dari Teluk Persia hingga Asia Timur.
Kedatangan orang Arab ke Sumatra pada masa awal tidak semata-mata didorong oleh perdagangan. Seiring berlangsungnya hubungan dagang, para pendatang juga membawa ajaran Islam dan berinteraksi dengan masyarakat setempat. Sejumlah sumber menyebut Barus, yang dikenal pula sebagai Fansur, bersama Thobri atau Lamri dan Haru sebagai tempat yang disinggahi kapal-kapal Arab. Persinggahan di pelabuhan tersebut membuka ruang bagi pertukaran barang, gagasan, dan keyakinan. Proses Islamisasi kemudian berlangsung melalui hubungan antarpedagang dan warga, meskipun rincian waktu serta tahapannya belum dapat dipastikan secara seragam. Karena itu, perdagangan dan penyebaran agama perlu dipahami sebagai dua sisi yang saling berhubungan dalam sejarah pesisir Sumatra.
Barus memiliki tempat penting dalam pembahasan mengenai jejak awal Islam di wilayah ini. Kedatangan Islam di Barus diduga kuat telah berlangsung sejak abad ke-7 Masehi, saat kawasan itu menjadi bagian dari jaringan pelayaran dan perdagangan lintas kawasan. Dugaan tersebut kerap dikaitkan dengan kompleks makam kuno Mahligai. Di kompleks itu terdapat nisan yang disebut berasal dari abad ke-7, sehingga sering dipandang sebagai petunjuk mengenai keberadaan komunitas Muslim awal. Namun, penanggalan dan penafsiran atas bukti makam tidak serta-merta menjawab seluruh pertanyaan tentang kapan Islam mulai dianut oleh penduduk setempat. Bukti arkeologis perlu dibaca bersama sumber tertulis dan konteks sejarah yang lebih luas.
Teori tentang waktu dan jalur kedatangan Islam ke Barus masih diperdebatkan oleh para peneliti. Perbedaan penilaian terhadap nisan, catatan sejarah, dan kesaksian sumber-sumber lama membuat kesimpulan mengenai abad kedatangan Islam belum sepenuhnya seragam.
Baca juga: Belarus ingin perluas kerja sama Indonesia dalam perdagangan hingga AI









