JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 18 September 2026, Penampilan musik kolintang Indonesia yang direncanakan di Paris pada akhir September 2026 merupakan momen berharga dalam memperkenalkan budaya Indonesia di kancah internasional. Musikalitas kolintang, yang merupakan alat musik tradisional dari daerah Minahasa, Sulawesi Utara, menawarkan melodi yang unik dan memikat. Kesempatan ini tidak hanya menjadi ajang bagi para musisi kolintang untuk menunjukkan kemampuan mereka, tetapi juga menjadi platform untuk menampilkan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam setiap irama dan not yang dihasilkan.
Undangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Paris dan UNESCO menambah signifikansi acara ini. Partisipasi dalam acara internasional seperti ini akan memberikan kolintang pengakuan yang lebih luas dan dapat mempromosikan warisan budaya Indonesia ke audiens global. Hal ini penting karena seni dan musik mampu menjadi jembatan dalam menjalin hubungan antarbudaya. Melalui kolintang, kita dapat melihat bagaimana musik dapat mengatasi batasan bahasa dan budaya, menyentuh emosional para pendengarnya.
Di samping itu, tampil di Parisi dapat memfasilitasi dialog budaya yang lebih dalam, memberikan kesempatan bagi musisi untuk berbagi pengalaman dan inspirasi dengan rekan-rekan internasional. Selain itu, acara ini dapat mendorong generasi muda untuk lebih mengenal dan menghargai seni kolintang serta berkomitmen untuk melestarikannya. Sebagai bagian dari warisan budaya tak benda, kolintang tidak hanya merupakan simbol identitas daerah, tetapi juga mencerminkan keragaman serta kekayaan budaya Indonesia secara keseluruhan. Dengan demikian, penampilan di Paris diharapkan menjadi langkah awal yang signifikan untuk mempromosikan kolintang di pentas internasional dan meningkatkan apresiasi terhadap budaya Indonesia.
Grup Rhythm of Minahasa (ROM) sedang melakukan persiapan intensif untuk penampilan mereka di Paris yang diharapkan akan menjadi salah satu sorotan dalam rangka memperkenalkan budaya Indonesia, khususnya musik kolintang. Persiapan ini mencakup pemilihan repertoar lagu-lagu yang menggambarkan kekayaan dan keragaman musik tradisional kolintang, alat musik khas Minahasa, Sulawesi Utara.
Dalam setiap latihan, ROM fokus pada penguasaan teknik permainan kolintang yang erat kaitannya dengan keunikan melodi dan ritme yang bisa ditemukan dalam lagu-lagu yang mereka pilih. Para anggota grup ini berusaha untuk tidak hanya menampilkan kemampuan musikal mereka, tetapi juga memberikan pengalaman yang mendidik bagi penonton mengenai sejarah dan asal-usul musik kolintang.
Salah satu lagu yang akan dibawakan adalah "Bunda", yang menggambarkan rasa syukur dan cinta kepada orang tua. Lagu ini dipilih karena memiliki daya tarik universal yang dapat menyentuh hati pendengar, terlepas dari latar belakang budaya mereka. Selain itu, ROM juga menyiapkan beberapa lagu lain yang terinspirasi oleh alam dan kehidupan sehari-hari masyarakat Minahasa. Pemilihan repertoar tersebut bertujuan untuk menonjolkan bagaimana musik tradisional dapat bercerita dan menghubungkan berbagai generasi.
Persiapan tidak hanya terbatas pada latihan musik saja, tetapi juga meliputi aspek visual, di mana anggota grup mempertimbangkan kostum yang tradisional dan mewakili budaya Minahasa. Dengan kostum yang mencolok, mereka berharap dapat menarik perhatian audiens dan memberikan gambaran yang jelas tentang identitas budaya mereka. Semua upaya ini merupakan bagian dari misi ROM untuk mengedukasi generasi muda dan dunia internasional tentang kekayaan budaya musik Indonesia melalui penampilan yang mengesankan di Paris.
Pada penampilan mendatang di Paris, ROM (Rekan Ongoing Music) akan menampilkan repertoar yang sangat beragam dan kaya, memadukan berbagai genre musik yang bisa dinikmati oleh banyak kalangan. Di pilihan lagu yang akan dibawakan, terdapat karya-karya klasik, jazz, lagu-lagu nasional Indonesia, serta beberapa lagu populer Prancis. Pendekatan ini menunjukkan kemampuan kolintang untuk beradaptasi dan berkolaborasi dengan berbagai nuansa musikal.
Salah satu lagu yang sangat menarik perhatian adalah ‘La Vie en Rose’, yang merupakan salah satu ikon musik Prancis. Lagu ini tidak hanya dikenal secara internasional, tetapi juga memancarkan suasana romantis dan nostalgia. ROM akan menginterpretasikan lagu ini melalui aransemen yang unik, yang memungkinkan alat musik kolintang berperan sebagai instrumen utama, memberikan warna baru terhadap melodi yang telah tersohor ini.
Selain itu, lagu ‘Si Patokaan’, yang memiliki nilai budaya yang tinggi di Indonesia, juga akan disertakan dalam penampilan. Melodi yang ceria dan penuh semangat dari lagu ini diharapkan dapat menarik perhatian penonton dan mendorong interaksi. Untuk menyajikannya dengan cara yang segar, ROM akan mengemas ‘Si Patokaan’ dalam bentuk medley, menggabungkan elemen-elemen dari beberapa lagu lainnya, menjadikannya lebih dinamis dan menarik. Pengemasan dalam bentuk medley ini merupakan contoh cemerlang bagaimana kolintang dapat menjembatani kesenjangan antar genre, membawa nuansa lokal ke dalam konteks global.
Kombinasi dari lagu-lagu yang beragam ini menggambarkan komitmen ROM untuk menciptakan pengalaman yang tak terlupakan bagi audiens. Dengan repertoar yang telah dipilih secara hati-hati, penampilan di Paris diharapkan tidak hanya menjadi showcase dari keindahan kolintang, melainkan juga sebuah pernyataan artistik yang merayakan keragaman musik dari berbagai belahan dunia.Diplomasi Budaya Melalui MusikDiplomasi budaya adalah suatu pendekatan yang memanfaatkan seni dan budaya sebagai jembatan untuk membangun hubungan antar negara. Dalam konteks penampilan kolintang yang akan dilakukan di Paris, aspek ini menjadi sangat signifikan. Musik kolintang, yang merupakan salah satu kearifan lokal Indonesia, mewakili warisan budaya yang patut diperkenalkan ke dunia internasional. Kehadiran ROM di Paris tidak hanya sebagai pertunjukan musik, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperlihatkan keindahan dan kekayaan budaya Indonesia.
Pertunjukan kolintang di Paris diharapkan dapat menarik perhatian masyarakat internasional terhadap tradisi musik Indonesia. Saat musik diciptakan dan disajikan dengan baik, ia memiliki kekuatan untuk membangun koneksi yang lebih mendalam berbagai budaya. Melalui kolintang, penonton dari berbagai latar belakang akan mendapatkan kesempatan untuk menghargai dan memahami nilai-nilai budaya Indonesia, sekaligus mempromosikan keberagaman yang ada di dunia.
Musik kolintang dapat berfungsi sebagai sarana diplomasi yang efektif, karena ia menggerakkan emosi dan menjangkau hati para pendengarnya tanpa batasan bahasa. Penampilan ini tidak hanya sekadar untuk menghibur, tetapi juga bertujuan untuk menciptakan ruang dialog antarbudaya. Dengan ini, diharapkan akan muncul pemahaman yang lebih baik tentang berbagai tradisi dan kebiasaan, serta mendorong saling pengertian dan rasa hormat di bangsa-bangsa.
Oleh karena itu, kolintang bukanlah sekadar alat musik, melainkan simbol dari jalinan hubungan internasional yang berbasis pada saling menghargai. Melalui penampilannya di Paris, ROM berperan aktif dalam mewujudkan visi diplomasi budaya yang holistik, di mana musik menjadi sarana untuk menyampaikan cerita dan meningkatkan pengertian antarbudaya. Ini menjadikan setiap pertunjukan kolintang sebagai sebuah langkah kecil yang mampu memberikan dampak besar bagi hubungan antarbangsa.








