Probolinggo – Jalan utama Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo berubah menjadi panggung kebudayaan, ribuan warga memadati sepanjang jalur parade untuk menyaksikan warna-warni busana, ragam kesenian, kisah legenda dan sejarah hingga kreativitas yang ditampilkan oleh 15 kontingen.
Bukan sekadar pawai untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Probolinggo SAE Carnival 2026 membawa pesan tentang bagaimana warisan budaya lokal dapat terus dirawat sekaligus dikembangkan melalui kreativitas generasi masa kini.
Mengusung tema “Merawat Warisan Budaya Lokal Menuju Probolinggo SAE”, carnival yang digelar dari sisi utara Alun-alun Kraksaan hingga kawasan selatan Masjid Darus Salam Kelurahan Patokan tersebut mempertemukan beragam cerita tentang identitas, sejarah, kesenian dan kehidupan masyarakat Kabupaten Probolinggo.
Pelepasan peserta Probolinggo SAE Carnival 2026 ditandai dengan pemukulan gong oleh Bupati Probolinggo Mohammad Haris bersama jajaran Forkopimda dan Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto Kemeriahan semakin terasa dengan penampilan Marching Band Pondok Pesantren Raudlatul Jannah dari Desa Klaseman Kecamatan Gending.
Dandim 0820/Probolinggo Letkol Inf Ribut Yodo Apriantono mengatakan keberagaman yang ditampilkan dalam carnival bukan sekadar persoalan kemeriahan atau penampilan. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa kebudayaan merupakan bagian dari identitas bangsa sekaligus kekuatan yang perlu terus dirawat bersama.
“Ini bukan tentang glamour, bukan tentang sesuatu yang harus kita pamerkan berlebihan, tetapi ini adalah sebuah kebersamaan, sebuah kemajemukan,” kata Letkol Inf Ribut Yodo Apriantono.
Dandim menilai budaya memberikan akar bagi masyarakat, sementara kreativitas menjadi kekuatan untuk membawa warisan tersebut tetap hidup di tengah perubahan zaman. “Budaya ini memberi kita akar, tetapi kreativitas memberi kita sayap dan persatuan menentukan seberapa jauh kita dapat terbang,” ujarnya.
Sementara Bupati Probolinggo Muhammad Haris menegaskan keterlibatan lintas sektor itu sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab satu institusi. Pemerintah dapat membuka ruang dan memberikan fasilitasi, tetapi keberlanjutan budaya membutuhkan keterlibatan masyarakat sebagai pemilik sekaligus pewarisnya.
“Pemerintah daerah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan berbagai elemen masyarakat, carnival tidak hanya menjadi pertunjukan budaya, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan berbagai elemen daerah,”ungkapnya.
Lebih lanjut Bupati Haris menegaskan, Bagi Kabupaten Probolinggo, budaya memiliki posisi yang lebih luas daripada sekadar seni pertunjukan. Di dalam warisan budaya terdapat identitas daerah, ingatan kolektif, kebanggaan masyarakat dan nilai-nilai kebersamaan yang dapat menjadi bagian dari pembangunan daerah. “Probolinggo SAE Carnival 2026 menunjukkan salah satu cara untuk menjadikan budaya sebagai sumber kreativitas. Budaya tetap memiliki akar, sementara bentuk penyajiannya dapat berkembang mengikuti zaman,” pungkasnya. (Edi D/Dwi H/Pendim0820/Probolinggo)










