SURABAYA, BIN.COM – 30 Oktober 2024, Di tengah kehidupan sehari-hari yang penuh tantangan, kemarahan adalah emosi yang kerap dirasakan manusia. Dalam ajaran Islam, mengendalikan amarah merupakan tanda kedewasaan dan kekuatan yang sejati. Allah SWT mengingatkan manusia untuk selalu menjaga sikap dan bertindak dengan bijaksana agar tidak menyesal di kemudian hari. Ajaran ini tertulis dalam beberapa ayat Al-Quran yang memberikan petunjuk bagi umat Muslim tentang pentingnya pengendalian diri.
Ketika marah, Islam mengajarkan agar seorang Muslim berusaha menahan amarah dan berdiam diri, seolah menjadi ‘orang mati’ yang tidak mudah terpengaruh. Diam di saat marah adalah upaya menghindari tindakan impulsif yang bisa berdampak buruk. Hal ini ditegaskan dalam Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW sebagai pedoman yang dapat membantu seseorang dalam menjalani hidup dengan penuh kesabaran dan pengendalian diri.
Mengapa Al-Quran Mengajarkan untuk Menahan Amarah?
Di dalam Al-Quran, ada beberapa ayat yang menganjurkan manusia untuk mengendalikan amarah dan menahan diri. Salah satu ayat yang relevan adalah dalam Surah Ali ‘Imran, ayat 134 yang berbunyi:
“… dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134).
Ayat ini menegaskan pentingnya menahan amarah sebagai bentuk kebaikan dan keikhlasan, serta sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tindakan ini bukan hanya untuk menjaga hubungan dengan sesama, tetapi juga untuk menguatkan iman dan spiritualitas.
Hikmah dari Menahan Amarah: Menjaga Diri dari Penyesalan
Kemarahan yang tidak terkendali sering kali menghasilkan tindakan atau kata-kata yang dapat berujung pada penyesalan. Dalam kondisi marah, amigdala—bagian otak yang mengatur emosi—bereaksi secara berlebihan, sehingga bisa menghalangi logika. Tindakan yang muncul dari emosi ini sering kali sulit dikendalikan dan berisiko menimbulkan dampak negatif.
Bambang Tri Kasmara, seorang manusia biasa menyampaikan hikmah Al-Quran, menjelaskan bahwa Islam memandang pengendalian amarah sebagai bentuk ibadah. “Ketika kita mampu menahan amarah, maka kita telah mengendalikan diri untuk tidak menyakiti orang lain. Inilah yang dicintai Allah SWT,” ujarnya.
Hadis dari Rasulullah SAW juga menguatkan anjuran untuk mengendalikan amarah. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Bukanlah orang kuat itu yang bisa mengalahkan lawan dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Cara Praktis Mengatasi Amarah Berdasarkan Al-Quran dan Sunnah
1. Diam dan Beristighfar
Berdiam diri saat marah sangat dianjurkan. Mengucapkan “Astaghfirullah” atau memohon ampun kepada Allah adalah salah satu cara untuk menenangkan diri. Ini adalah bentuk pengendalian diri yang sangat dihargai dalam Islam, di mana kita mengalihkan pikiran dari amarah dan memfokuskan diri kepada Allah.
2. Mengubah Posisi
Dalam hadis, Rasulullah SAW menyarankan jika seseorang sedang marah dalam posisi berdiri, hendaknya ia duduk. Jika kemarahan belum juga reda, disarankan untuk berbaring. Perubahan posisi ini membantu mengalirkan energi negatif, sekaligus mengurangi intensitas emosi.
3. Membaca Ayat-Ayat Al-Quran
Mendengarkan atau membaca ayat-ayat Al-Quran dapat memberikan ketenangan bagi hati yang sedang dilanda emosi. Surah Al-Ikhlas, misalnya, diyakini dapat memberikan ketenangan batin.
4. Berwudhu
Amarah sering kali diibaratkan sebagai api yang berkobar. Dalam Islam, air dianggap sebagai elemen yang menenangkan. Berwudhu adalah cara yang diajarkan oleh Rasulullah SAW untuk menurunkan emosi saat marah.
Menghindari Penyesalan dengan Mengikuti Petunjuk Al-Quran
Menahan diri dari kemarahan adalah wujud ketaatan kepada Allah SWT. Dalam jangka panjang, seseorang yang mampu mengendalikan amarah akan terhindar dari penyesalan, baik dalam hubungan dengan keluarga, teman, maupun masyarakat. Kemampuan menahan diri ini juga menciptakan lingkungan yang lebih harmonis, karena seseorang yang tidak terbawa emosi lebih mungkin untuk berpikir jernih dan berbuat kebaikan.
Penekanan Al-Quran tentang menahan amarah mengajarkan bahwa ketenangan adalah kunci dari kebijaksanaan. Oleh karena itu, ketika kita dihadapkan pada situasi yang membangkitkan amarah, menjadi ‘orang mati’—diam sejenak, menenangkan diri, dan berdoa—merupakan pilihan yang bijak agar tidak menyesal di kemudian hari.
Sebagai pengingat, dalam keadaan marah dan murka, marilah kita menjadi seperti ‘orang mati’. Diam dan berusaha mengendalikan diri, sebagaimana Al-Quran dan Rasulullah SAW ajarkan, adalah langkah untuk menjaga hati, pikiran, serta hubungan baik dengan sesama, dan di atas semuanya, untuk mendapatkan ridha dari Allah SWT.
Bambang Tri Kasmara









Komentar ditutup.