SURABAYA, BIN.COM – Dalam kehidupan, perpisahan adalah sesuatu SUyang tak terelakkan. Namun, ada perpisahan yang hanya terjadi di dunia fisik, sementara hati dan jiwa tetap bersatu, tak terpisahkan oleh jarak atau waktu. Mereka yang mencintai dengan mata mungkin merasakan perpisahan yang nyata dan menyakitkan. Tetapi bagi mereka yang mencintai dengan hati dan jiwa, perpisahan hanyalah ilusi.
Perasaan cinta yang tulus dan mendalam mengikat dua jiwa dengan ikatan yang tak kasat mata. Jarak, waktu, dan perbedaan tempat tidak mampu memisahkan mereka. Meskipun secara fisik terpisah, kehadiran satu sama lain tetap terasa nyata dalam setiap detak jantung dan hembusan napas.
“Namanya perpisahan, hati dan jiwa tidak mengenal perpisahan fisik,” kata sufi sang penyair, Bambang Tri Kasmara. “Ketika cinta itu murni, perasaan itu melampaui batas-batas duniawi. Engkau mungkin tidak bisa melihat orang yang kamu cintai, tetapi engkau dapat merasakannya dalam setiap aspek kehidupanmu.”
Pernyataan Sufi Sang Penyair ini mengingatkan kita pada banyak kisah cinta abadi yang hidup dalam legenda dan cerita rakyat. Romeo dan Juliet, Layla dan Majnun, adalah contoh bagaimana cinta sejati tetap ada meskipun mereka terpisah oleh kematian atau situasi yang tak terduga.
Banyak orang yang menjalani kehidupan ini dengan keyakinan bahwa perpisahan adalah akhir dari segalanya. Namun, bagi mereka yang memahami makna cinta sejati, perpisahan hanyalah sebuah awal dari perjalanan spiritual yang lebih mendalam. “Sejauh apapun dirimu, engkau tetap ada dalam diriku,” lanjut Bambang Tri Kasmara. “Kehadiran fisik mungkin hilang, tetapi kenangan, cinta, dan jiwa tetap ada, saling terhubung dalam dimensi yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata.”
Cerita-cerita nyata juga membuktikan hal ini. Pasangan yang sudah menikah selama puluhan tahun, yang kemudian terpisah oleh maut, seringkali masih merasakan kehadiran pasangannya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mengingat sentuhan, suara, dan cinta yang pernah ada, seolah-olah pasangannya masih berada di samping mereka.
Dalam era modern ini, perpisahan fisik seringkali diatasi dengan teknologi. Video call, pesan instan, dan media sosial memungkinkan orang untuk tetap terhubung meskipun berjauhan. Namun, teknologi tidak bisa menggantikan kehangatan cinta yang dirasakan di hati. Itulah mengapa perasaan cinta sejati tetap bertahan, meskipun teknologi tidak ada.
Maka, ketika kita menghadapi perpisahan, penting untuk diingat bahwa “good bye” hanya berlaku bagi mereka yang mencintai dengan mata atau duniawi. Cinta sejati, yang berakar dari hati dan jiwa, tidak mengenal perpisahan. Ia tetap hidup, tumbuh, dan mengikat dua jiwa dalam keabadian yang tak terukur oleh jarak atau waktu.
Seperti kata pepatah, “Cinta sejati tidak pernah mati; ia hanya berubah bentuk.” Hati dan jiwa akan selalu menemukan cara untuk tetap terhubung, meskipun dunia fisik berusaha memisahkan mereka. Jadi, ketika menghadapi perpisahan, ingatlah bahwa hati dan jiwa tidak pernah benar-benar berpisah. Mereka hanya menunggu saat untuk bersatu kembali dalam keabadian yang abadi.
Bambang Tri Kasmara








