SURABAYA, BIN.COM – Dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang kita mendengar ungkapan bahwa penampilan sering kali menipu. Sebuah peringatan bijak yang sejalan dengan ajaran agama Islam, di mana Allah menilai manusia bukan berdasarkan penampilan luar atau harta benda yang dimiliki, melainkan dari hati dan amal perbuatan yang ikhlas. Ungkapan ini ditekankan dalam beberapa ayat suci Al-Qur’an yang mengajarkan bahwa hati adalah tempat utama penilaian Allah SWT.
Al-Qur’an menyebutkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 13: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh penampilan fisik atau status sosial, melainkan oleh ketakwaan dan ketulusan hati. Dalam pandangan Islam, takwa merupakan cerminan dari hati yang bersih, niat yang tulus, dan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Allah SWT.
Hal ini diperkuat lagi dalam Surah Al-Mulk ayat 2 yang menyatakan: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
Ujian hidup, sebagaimana disebutkan dalam ayat ini, bertujuan untuk menilai kualitas amal dan ketulusan hati seseorang. Allah tidak memandang banyaknya harta atau keindahan rupa, tetapi melihat bagaimana seseorang menjalani hidup dengan hati yang penuh iman dan ketakwaan.
Islam juga mengingatkan bahwa penampilan luar dan harta benda adalah titipan sementara dari Allah SWT yang tidak dapat dijadikan tolok ukur kemuliaan seseorang. Dalam Surah At-Tawbah ayat 105, Allah berfirman: “Dan katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.'”
Ayat ini menggarisbawahi pentingnya bekerja dengan niat yang ikhlas dan hati yang bersih, karena pada akhirnya Allah lah yang akan menilai dan membalas setiap amal perbuatan kita.
Sebagai umat Muslim, kita diajarkan untuk selalu menjaga hati, berbuat baik dengan tulus, dan tidak terperdaya oleh penampilan atau harta benda. Karena pada hakikatnya, di hadapan Allah SWT, kita semua adalah sama. Yang membedakan kita hanyalah ketakwaan dan amal perbuatan yang baik.
Dengan memahami ajaran ini, kita diingatkan untuk lebih memperhatikan kebersihan hati dan ketulusan dalam setiap tindakan. Menjadikan hati sebagai pusat penilaian, bukan penampilan atau harta, akan membawa kita pada kehidupan yang lebih damai dan penuh makna, sesuai dengan ajaran Islam yang mulia.
Bambang Tri Kasmara









