Jakarta | Program Pintar Sekampung yang dijalankan Bank Sampah Dahlia 09 menghadirkan cara untuk menghubungkan pengelolaan sampah dengan kegiatan pembelajaran warga. Program ini berlangsung di Kelurahan Bidaracina, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Gagasan utamanya sederhana: sampah yang dikumpulkan warga dapat memiliki nilai ekonomi, lalu nilai tersebut dimanfaatkan untuk mendukung biaya kegiatan belajar. Dengan demikian, bank sampah tidak hanya menjadi tempat mengelola sampah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membuka akses pembelajaran di lingkungan setempat.
Dalam mekanisme program, warga terlebih dahulu bergabung sebagai nasabah Bank Sampah Dahlia 09. Mereka mengumpulkan dan menyetorkan sampah sesuai tata cara yang berlaku di bank sampah. Hasil pengumpulan itu kemudian dicatat sebagai saldo milik nasabah. Saldo tersebut menjadi penghubung kegiatan memilah sampah dan dukungan terhadap pembelajaran: nilainya dapat dikonversi untuk membayar kegiatan belajar. Artinya, kontribusi warga dalam mengumpulkan sampah bisa digunakan sebagai bentuk pembayaran, bukan sekadar dicatat sebagai transaksi ekonomi biasa.
Pengelola Bank Sampah Dahlia 09, Gitawidya Amalia, menyampaikan keterangan mengenai program Pintar Sekampung pada 3 November. Penjelasan tersebut menerangkan mekanisme bahwa warga menjadi nasabah, memperoleh saldo dari pengumpulan sampah, dan dapat mengalihkan saldo itu untuk membayar kegiatan pembelajaran. Skema ini menempatkan warga sebagai peserta aktif, baik dalam pengelolaan sampah maupun dalam pemanfaatan hasilnya. Keterangan Amalia juga menunjukkan bahwa saldo bank sampah dapat diarahkan untuk kebutuhan belajar, sesuai tujuan program yang dijalankan di Bidaracina.
Penggunaan saldo untuk kegiatan pembelajaran memberi pilihan pemanfaatan yang langsung berkaitan dengan kebutuhan warga. Sampah yang dipilah dan dikumpulkan memperoleh fungsi tambahan karena hasilnya dapat membantu membiayai kegiatan tersebut. Program ini sekaligus mempertemukan dua aktivitas di tingkat kampung: kebiasaan mengelola sampah dan partisipasi dalam pembelajaran. Warga tidak hanya menyerahkan sampah, tetapi juga dapat melihat bagaimana saldo yang terkumpul digunakan. Melalui Pintar Sekampung, Bank Sampah Dahlia 09 menerapkan mekanisme yang mengaitkan kontribusi lingkungan dengan dukungan biaya belajar bagi warga di Kelurahan Bidaracina.
Di wilayah tempat Bank Sampah Dahlia 09 beroperasi, Gitawidya tidak hanya terlibat dalam pengelolaan kegiatan lingkungan. Ia juga merupakan pemilik sekaligus kepala sekolah sebuah lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) setempat. Peran tersebut membuatnya dekat dengan kebutuhan belajar anak-anak dan keluarga di lingkungan sekitar. Hubungan kegiatan pendidikan dan pengelolaan sampah kemudian menjadi dasar bagi Pintar Sekampung, program belajar yang terhubung dengan aktivitas di lembaga PAUD tersebut. Dengan demikian, kegiatan bank sampah tidak berdiri sendiri, melainkan dapat mendukung kesempatan belajar warga melalui layanan pendidikan yang tersedia di sekitar mereka.
Pintar Sekampung menyediakan beberapa bentuk pendampingan belajar. Kegiatan yang tersedia mencakup les membaca, menulis, dan berhitung, bimbingan belajar, serta klub bahasa Inggris. Ragam kegiatan ini memberi pilihan bagi warga sesuai kebutuhan belajar masing-masing, mulai dari penguatan kemampuan dasar hingga pendampingan materi pelajaran dan pengenalan bahasa. Keterhubungan dengan lembaga PAUD setempat juga menempatkan kegiatan belajar dalam lingkungan pendidikan yang sudah dikenal warga. Program ini memperluas manfaat lembaga tersebut, sekaligus menghadirkan jalur agar dukungan dari bank sampah dapat berkaitan langsung dengan kegiatan pendidikan di lingkungan yang sama.
Menurut Gitawidya, tujuan program ini adalah memberikan kesempatan belajar kepada warga yang terkendala secara ekonomi. Saldo bank sampah dimanfaatkan sebagai salah satu cara untuk membantu membuka akses tersebut, sehingga keterbatasan biaya tidak sepenuhnya menjadi penghalang bagi warga yang ingin mengikuti kegiatan belajar. Gagasan ini menghubungkan kebiasaan mengumpulkan dan mengelola sampah dengan kebutuhan pendidikan sehari-hari. Warga dapat melihat bahwa partisipasi dalam kegiatan bank sampah berpotensi memberi manfaat lebih luas daripada pengelolaan lingkungan semata. Melalui Pintar Sekampung, saldo yang berasal dari aktivitas tersebut diarahkan untuk mendukung kesempatan belajar, sementara layanan PAUD menjadi titik keterhubungan dengan kegiatan pendidikan setempat. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana inisiatif komunitas dapat merangkai kepedulian lingkungan dan pendidikan tanpa memisahkan keduanya dari kebutuhan warga.Saldo yang terkumpul di Bank Sampah Dahlia 09 tidak hanya dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan belajar. Warga juga dapat menggunakannya untuk berbagai kebutuhan bersama di lingkungan. Salah satu pemanfaatannya adalah membantu penyelenggaraan perayaan Hari Kemerdekaan pada 17 Agustus. Saldo turut mendukung pembagian sembako menjelang Lebaran, sehingga manfaat kegiatan pengelolaan sampah dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Pemanfaatan tersebut membuat tabungan sampah memiliki nilai praktis, sekaligus memperkuat kebersamaan warga dalam menjalankan kegiatan lingkungan dan sosial.
Gitawidya menjelaskan bahwa penggunaan saldo tidak selalu diarahkan pada program bersama. Sebagian warga memilih mengumpulkannya untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Ada yang menggunakan saldo untuk membeli token dan ada pula yang memakainya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setiap nasabah dapat menentukan tujuan sesuai keperluannya, tanpa harus mengikuti satu pola pemanfaatan yang sama. Fleksibilitas ini memberi alasan tambahan bagi warga untuk terus memilah dan menyetorkan sampah. Hasilnya mungkin terkumpul secara bertahap, tetapi dapat membantu ketika diperlukan. Dengan demikian, tabungan dari sampah berfungsi sebagai dukungan bagi kegiatan kolektif maupun sebagai manfaat bagi rumah tangga.
Perkembangan jumlah nasabah menunjukkan jangkauan Bank Sampah Dahlia 09 yang semakin luas. Dalam kurun dua tahun, jumlahnya meningkat dari 11 menjadi 139 nasabah. Pertumbuhan tersebut berjalan seiring dengan perubahan perilaku yang diamati Gitawidya. Warga mulai menyadari bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab mereka, bukan hanya urusan pihak lain. Mereka juga mulai terbiasa memilah sampah sebelum menyetorkannya. Kebiasaan ini menjadi bagian penting dari upaya menjaga lingkungan, karena sampah dipisahkan sejak dari sumbernya dan dapat dikelola dengan lebih baik. Bagi Gitawidya, meningkatnya partisipasi dan tumbuhnya kesadaran menunjukkan bahwa kegiatan bank sampah tidak semata-mata mengumpulkan material. Kegiatan ini turut mendorong warga membangun rutinitas yang lebih bertanggung jawab, sambil memperoleh manfaat sosial dan ekonomi dari saldo yang mereka kumpulkan.
Gitawidya bersama 14 peserta lain telah memasuki tahap verifikasi lapangan dalam program Pilah Olah Sampah Heroes 2026. Tahap ini menjadi kesempatan bagi tim penilai untuk melihat secara langsung bagaimana gagasan dan kegiatan pengelolaan sampah dijalankan di tengah masyarakat. Bagi Bank Sampah Dahlia 09, keterlibatan dalam program ini juga menempatkan upaya menghubungkan pengelolaan sampah dengan kegiatan warga dalam perhatian yang lebih luas. Verifikasi lapangan bukan sekadar pemeriksaan administratif; tahap tersebut membantu menggambarkan konsistensi aksi, dampak yang dirasakan, serta cara para penggerak melibatkan lingkungan sekitarnya. Kehadiran peserta dalam tahap ini menunjukkan bahwa inisiatif berbasis warga memperoleh ruang untuk dinilai berdasarkan praktik nyata.
Program ini diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mendukung aksi penyelamatan lingkungan melalui apresiasi kepada para penggerak dan key opinion leader yang menunjukkan tindakan nyata dalam menangani persoalan sampah. Apresiasi tersebut ditujukan kepada mereka yang tidak hanya menjalankan kegiatan, tetapi juga aktif mengajak warga agar lebih peduli terhadap sampah. Pesan ini relevan bagi gerakan bank sampah, yang memerlukan partisipasi sehari-hari dan kebiasaan memilah dari rumah. Dengan mendorong warga memahami nilai pengelolaan sampah, para penggerak dapat membantu membangun kepedulian yang berkelanjutan. Mekanisme penghargaan sekaligus memberi sorotan pada kerja komunitas serta mendorong lebih banyak pihak mengambil bagian dalam solusi lingkungan setempat.
Selanjutnya, tahap verifikasi lapangan memberi penilai ruang untuk memahami tiap inisiatif: bagaimana kegiatan dirancang, siapa yang terlibat, dan bagaimana ajakan kepada warga diwujudkan sebagai praktik.
Baca juga: Penyaluran BSU Tahap Pertama Menjangkau 2,45 Juta Pekerja, Sisanya Diproses Bertahap 25 kunjungan









