BMKG Kerahkan Operasi Modifikasi Cuaca untuk Tekan Kebakaran di Sumatra dan Kalimantan

BMKG Kerahkan Operasi Modifikasi Cuaca untuk Tekan Kebakaran di Sumatra dan Kalimantan

Jakarta | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjalankan operasi modifikasi cuaca (OMC) secara masif tahun ini untuk membantu menekan kebakaran hutan dan lahan di Sumatra serta Kalimantan. Langkah tersebut ditujukan untuk mendukung upaya pemadaman di wilayah yang terdampak, ketika kebakaran lahan menjadi perhatian dan memerlukan penanganan bersama. BMKG menyebut operasi ini sebagai bagian dari dukungan terhadap penanganan kebakaran, bukan sebagai pengganti upaya pemadaman langsung di lapangan.

Ketua BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan bahwa OMC yang dilakukan tahun ini termasuk salah satu operasi terbesar yang pernah diselenggarakan di Indonesia. Pernyataan itu menggambarkan besarnya skala pelaksanaan yang dikerahkan untuk membantu mengurangi dampak kebakaran di dua pulau tersebut. Keterangan mengenai operasi itu disampaikan Faisal di Istana Negara, Jakarta, pada Senin, 26 Oktober.

Bacaan Lainnya

Modifikasi cuaca merupakan upaya yang memanfaatkan kondisi atmosfer untuk mendukung terbentuknya hujan di lokasi sasaran. Dalam konteks kebakaran hutan dan lahan, tambahan hujan diharapkan dapat membantu membasahi area yang terbakar maupun kawasan sekitarnya. Namun, pelaksanaan dan hasilnya tetap bergantung pada kondisi cuaca serta faktor atmosfer yang tersedia. Karena itu, OMC diposisikan sebagai salah satu bentuk dukungan dalam rangkaian penanganan kebakaran.

Pengerahan operasi secara besar-besaran juga menunjukkan bahwa penanganan kebakaran di Sumatra dan Kalimantan membutuhkan koordinasi serta dukungan berbagai pihak. Informasi BMKG mengenai skala OMC memberi gambaran tentang upaya yang dilakukan untuk membantu pemadaman, sekaligus menegaskan perhatian pemerintah terhadap kebakaran hutan dan lahan. Meski demikian, keterangan yang disampaikan tidak merinci durasi operasi, jumlah penerbangan, ataupun wilayah spesifik yang menjadi sasaran. Fokus utama yang disampaikan adalah bahwa BMKG mengerahkan OMC tahun ini dalam skala besar sebagai dukungan bagi upaya menekan kebakaran di kedua pulau.

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu menekan kebakaran hutan dan lahan didukung pengerahan pesawat di sejumlah wilayah prioritas. Di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, sembilan pesawat disiagakan untuk mendukung kegiatan penyemaian awan. Sementara itu, enam pesawat dikerahkan di Sumatra Selatan. Pembagian armada tersebut memungkinkan operasi dilakukan di beberapa kawasan yang masih menghadapi kebakaran, dengan penyesuaian terhadap kondisi cuaca dan kebutuhan di lapangan.

Armada yang digunakan mencakup pesawat Hercules, CN-295, serta pesawat lain milik TNI. Jenis pesawat dengan kapasitas dan kemampuan berbeda itu mendukung pelaksanaan misi dari udara, termasuk membawa bahan semai menuju awan yang dinilai berpotensi menghasilkan hujan. Pengerahan aset TNI juga menjadi bagian dari dukungan lintas lembaga dalam operasi. Pelaksanaan tetap bergantung pada pemantauan meteorologi, sebab penyemaian hanya dapat dilakukan apabila tersedia kondisi awan yang sesuai untuk ditargetkan.

Dalam operasi ini, bahan yang digunakan memadukan es kering atau dry ice dengan natrium klorida (NaCl), yang dikenal sebagai garam. Bahan-bahan tersebut disebarkan ke awan sasaran untuk membantu proses pembentukan atau peningkatan presipitasi. Pemilihan bahan serta waktu dan lokasi penyemaian ditentukan berdasarkan analisis kondisi atmosfer, bukan dilakukan secara seragam pada setiap wilayah. Dengan pendekatan tersebut, OMC diarahkan untuk memanfaatkan peluang hujan yang tersedia di area operasi.

Tujuan operasionalnya adalah meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah yang masih mengalami kebakaran. Hujan diharapkan dapat membantu membasahi lahan dan mengurangi kondisi kering yang mendukung penyebaran api, sekaligus melengkapi upaya penanganan darat. OMC bukan pengganti pemadaman langsung, melainkan salah satu langkah pendukung yang bergantung pada ketersediaan awan dan perkembangan cuaca. Karena itu, pengerahan pesawat, pemilihan bahan, dan penentuan sasaran dilakukan dengan mempertimbangkan hasil pemantauan agar intervensi dapat diarahkan pada wilayah yang membutuhkan.

BMKG berharap pekan ini dapat menjadi periode basah bagi wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan di Sumatra serta Kalimantan. Harapan tersebut didukung oleh peluang pertumbuhan awan yang diperkirakan meningkat di beberapa kawasan. Jika kondisi atmosfer mendukung, pertumbuhan awan berpotensi menghasilkan hujan yang dapat membantu membasahi lahan dan menekan penyebaran api. Meski demikian, potensi hujan tidak berarti seluruh wilayah akan langsung menerima curah hujan yang merata atau cukup untuk memadamkan titik api. Karena itu, operasi modifikasi cuaca tetap menjadi salah satu upaya yang dikerahkan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di daerah sasaran.

Menurut perkiraan yang disampaikan Faisal, potensi pertumbuhan awan di Kalimantan Tengah cukup tinggi mulai Senin, 26 Oktober, dan diperkirakan berlangsung selama lima hari berikutnya. Perkiraan tersebut menjadi perhatian karena wilayah itu masih menghadapi tingkat kebakaran yang cukup tinggi. BMKG berharap kondisi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendorong terbentuknya hujan, terutama di kawasan yang membutuhkan pembasahan. Namun, perkembangan cuaca dapat berubah, sehingga pemantauan tetap dilakukan untuk menyesuaikan langkah operasional dengan kondisi terbaru di lapangan.

Di Sumatra Selatan, potensi pertumbuhan awan serupa diperkirakan tinggi mulai Selasa, 27 Oktober, selama lima hari berikutnya. Provinsi ini juga disebut masih memiliki tingkat kebakaran cukup tinggi, sehingga peluang hujan menjadi penting dalam rangkaian penanganan. BMKG menyatakan akan berupaya memadamkan kebakaran semaksimal mungkin, termasuk melalui pelaksanaan operasi modifikasi cuaca sesuai kebutuhan dan kondisi yang memungkinkan. Kehadiran hujan diharapkan dapat membantu mengurangi kekeringan dan mendukung upaya pemadaman, tetapi penanganan kebakaran tetap memerlukan langkah terpadu. Pemantauan titik api, kesiapsiagaan petugas, serta evaluasi cuaca di kedua wilayah tetap diperlukan agar respons dapat diarahkan secara tepat. Dengan demikian, prakiraan pertumbuhan awan memberi harapan untuk pekan yang lebih basah, sekaligus menjadi dasar bagi BMKG dan pihak terkait dalam menyusun tindakan lanjutan di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah.

Operasi modifikasi cuaca untuk menekan risiko kebakaran di Sumatra dan Kalimantan dilaksanakan melalui koordinasi lintas instansi. BMKG bekerja bersama Kementerian Kehutanan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Pelaksanaan operasi tersebut merujuk pada arahan Presiden Prabowo serta Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Sugiyono. Keterlibatan lembaga-lembaga ini mendukung penyelarasan informasi cuaca, pemetaan potensi kebakaran, dan langkah penanganan di wilayah yang dinilai berisiko.

Dalam koordinasi tersebut, BMKG menerima tugas dari Panglima TNI, Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad), dan Kepala BNPB untuk memetakan daerah yang berpotensi mengalami kebakaran. Pemetaan diminta mencakup wilayah hingga tingkat kecamatan, dengan cakupan waktu satu pekan ke depan. Rincian wilayah pada skala tersebut diharapkan membantu pihak terkait melihat sebaran risiko secara lebih terarah, sekaligus menjadi bahan koordinasi dalam menentukan perhatian dan tindak lanjut di lapangan.

Faisal menyampaikan bahwa data mingguan mengenai potensi kebakaran telah disiapkan hingga akhir November. Informasi itu disusun dengan klasifikasi tingkat risiko, mulai dari kategori sangat tinggi hingga tinggi. Dengan pembaruan mingguan, perkembangan potensi dapat dipantau dalam rentang waktu yang diminta, sedangkan pembagian kategori membantu membedakan wilayah berdasarkan tingkat ancamannya. Data tersebut menjadi bagian dari dukungan BMKG dalam operasi bersama, bukan keterangan mengenai luasan kebakaran yang telah terjadi.

Ketika ditanya mengenai luas lahan yang terbakar, Faisal tidak menyebutkan angka tertentu. Ia mengarahkan pertanyaan tentang data luas kebakaran kepada Kepala BNPB. Menurut penjelasannya, terdapat perbedaan data yang masih perlu diklarifikasi oleh tim teknis. Karena itu, angka luas lahan terdampak belum dapat disampaikan sebagai satu keterangan yang telah dipastikan dalam penjelasan tersebut. Klarifikasi diperlukan agar informasi yang digunakan antarpihak dapat dipahami dengan tepat dan tidak menimbulkan perbedaan tafsir mengenai besaran kebakaran di Sumatra maupun Kalimantan.

Baca juga: Lanud Sjamsudin Noor Dukung Operasi Modifikasi Cuaca, Perkuat Upaya Penanganan Karhutla Kalimantan | Relawan Pemadam Kebakaran Hadapi Ancaman Kebakaran di Jakarta | Langkah Serentak 300 Pengusaha Tanggulangi Kebakaran Hutan di Kalimantan Selatan

Pos terkait